"Selamat siang, Ibu Galuh Kirana. Saya asisten dokter Rian. Hasil laboratoriumnya sudah kami terima dan dokter ingin membahas langsung dengan Ibu. Apakah Ibu bisa datang pukul empat sore nanti ke rumah sakit?"
"Baik, jam empat sore saya datang."
Galuh berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang saat menjawab telepon. Padahal, sejak mendengar kata hasil lab disebut, jantungnya sudah berdetak tak karuan.
Meskipun sudah tahu dari awal bahwa kemungkinan terburuk adalah kenyataan, tetap saja... hari ini terasa seperti vonis pengadilan akan dijatuhkan.
Hasil itu dikirim dari pusat laboratorium di ibu kota. Tentu saja, rumah sakit kecil di Sendana belum punya fasilitas lengkap untuk pemeriksaan secara rinci. Dan sekarang, hasilnya sudah ada.
Galuh melirik jam dinding. Masih pukul dua belas lewat sedikit.
Harus ngapain selama itu? Mau makan pun rasanya mual.
Akhirnya ia mengambil satu bungkus kripik ubi ungu dari rak display, lalu duduk di kursi pengunjung. Akhir-akhir ini toko cemilannya sepi. Dampak dari toko baru yang menjual produk serupa dengan harga jauh lebih murah.
Namun, Galuh tidak khawatir. Berdasarkan pengalamannya, toko seperti itu tidak akan bertahan lama. Yang harus dipertahankan adalah kualitas produk, bukan ban ting harga sampai rugi.
"Hmm, renyah," gumamnya, mencicipi kripik.
Ubi ungu yang dipakai dipetik dari kebunnya sendiri, organik dan berkualitas super.
Ia bahkan sempat mencatat di buku kecil yang selalu dibawanya, jumlah stok yang harus ditambah minggu depan. Meskipun hati berantakan, tangannya tetap sigap menulis rapi, seolah merapikan isi kepala lewat huruf-huruf kecil tersebut.
Ponsel Galuh kembali berdering. Kali ini, orang kepercayaannya di bisnis eksportir bambu.
"Bu, permintaan bambu kuning meningkat. Stok kita tidak mencukupi," lapornya.
"Ok, sekarang juga saya ke sana," jawab Galuh singkat.
Bisnis bambu menjadi satu-satunya yang stabil. Sekalipun permintaan membludak dan membuat kewalahan, ia tetap teguh menjaga kualitas. Baginya, kepercayaan pasar adalah nyawa usaha itu sendiri.
Galuh larut dalam urusan stok dan pengiriman bambu, hingga tanpa sadar jarum jam bergerak cepat. Tahu-tahu, jarum pendeknya sudah menyentuh angka empat.
Di ruang praktik dokter Rian, ia duduk tegak, berusaha terlihat siap. Sesekali menarik napas dalam untuk menetralkan degup jantungnya.
"Dari hasil pemeriksaan ini," kata dokter Rian sambil menatapnya serius, "ada senyawa tertentu yang tidak seharusnya ada di tubuh Ibu. Paparan zat ini dapat merusak kualitas sel telur. Dan melihat konsistensinya, ini bukan paparan sekali dua kali, tapi sudah berlangsung lama."
"M-maksudnya, Dok?"
"Sel telurnya rusak secara struktur. Ini bukan proses alami, Bu. Zat ini tidak mungkin ada begitu saja di tubuh. Satu-satunya kemungkinan adalah jika Ibu mengonsumsinya secara rutin, mungkin tanpa disadari," jelas Rian sambil memainkan pulpen di jarinya. Kebiasaan yang selalu muncul saat ia serius atau tengah berpikir.
"Jadi... sel telur saya sengaja dirusak, Dok?"
Galuh mengedip sekali, dan dunia di ruang praktik itu mengabur. Kesadarannya kembali ke kamar, di tepi ran jang, berhadapan dengan Baskara yang menatap lekat, menunggu jawaban.
“Kamu jangan diam saja, Neng! Ternyata sel telurmu apa?”
Panik bercampur jengkel menguasai wajah Baskara, mendesak istrinya untuk bicara.
Galuh menghela napas, menunduk, lalu berusaha memunculkan wajah sendu yang meyakinkan.
"Sel telurku memang tidak subur, Aa. Sama seperti yang dikatakan dokter Irwan. Jadi... kemungkinan aku nggak akan bisa hamil."
Baskara memejamkan mata, seakan beban besar di pundaknya mendadak runtuh. Da danya terasa lega kembali.
"Neng, apa yang aku bilang kan? Dokter Irwan itu, dokter terbaik di kota ini. Jadi sudah pasti hasilnya akurat." Suara Baskara melembut.
"Ta-tadinya aku hanya ingin cari pendapat lain, Aa," ucap Galuh kali ini diiringi isakan.
Baskara langsung menarik istrinya ke dalam pelukan.
“Iya, nggak apa-apa, Neng.” Tangannya membelai penuh kasih di punggung Galuh. “Bagaimanapun keadaannya, aku nggak akan pernah meninggalkanmu.”
Jika kemarin-kemarin hati Galuh tersentuh, kali ini justru seperti ada api yang baru disulut dalam dirinya.
Galuh mengeratkan pelukan. Menyembunyikan senyum getir yang tak boleh terlihat. Ia memainkan peran dengan sempurna sebagai istri yang hancur dan rapuh. Padahal di dalam hati, api itu mulai membesar. Api yang suatu hari akan membakar habis topeng suami di hadapannya.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukan dengan perlahan. "Sepertinya aku butuh sendiri dulu."
Baskara menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Iya, Neng. Kalau gitu, aku keluar dulu, ya. Kalau ada apa-apa kasih tahu saja. Aku selalu ada untukmu."
Begitu pintu kamar tertutup, Galuh berjalan cepat untuk menguncinya.
Kini ia berbalik menuju nakas. Tangannya terulur, menarik laci tempat satu botol Ovulex Prime tersimpan.
“Aku harus membuktikan kecurigaan ini,” bisiknya, menggenggam satu kapsul erat-erat seolah sedang memegang bukti kejahatan.
Ia pun memutuskan untuk mengirimkan pesan pada seseorang. Diraih ponsel yang tergeletak di atas kasur, lalu jemarinya mengetik cepat:
“Apakah besok bisa bertemu? Ada yang ingin saya sampaikan, penting."
Pesan terkirim dan langsung centang biru. Tapi tak ada balasan.
Galuh mulai gelisah. Pandangannya tak lepas dari layar ponsel di tangan. Lima menit… tujuh menit… sepuluh menit berlalu. Hening.
Ia menarik napas panjang, mencoba meredam degup jantung yang terasa makin kencang. Baru saja hendak meletakkan ponsel, perangkat itu tiba-tiba berbunyi.
Bukan balasan pesan yang masuk, melainkan panggilan dari nomor asing.
"Siapa, ya?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Judul: Rahim Pewaris

No comments:
Post a Comment