Suasana di dalam ruang tengah rumah keluarga Aditama terasa seperti medan perang yang siap meledak. Berita di media sosial dan grup WhatsApp keluarga besar bergerak lebih cepat dari petir. Video Ayla yang tersungkur di alun-alun kota dengan gaun pengantin robek sudah menjadi tontonan publik.
Aditama berdiri di tengah ruangan, wajahnya merah padam. Napasnya memburu, tangannya gemetar menahan amarah yang hampir mencapai ubun-ubun.
“Di mana dia?! Kenapa anak sialan itu belum sampai ke rumah ini juga?” teriak Aditama menggelegar. “Dia sudah menghancurkan martabat Aditama yang aku bangun puluhan tahun!”
Bastian tampak paling kalut. Ia terus mencoba menghubungi nomor Ayla yang tetap tidak aktif. Ia mondar-mandir dengan keringat dingin yang membasahi dahi. “Ayah, tenanglah. Kita harus menemukan Ayla dulu. Aku takut dia kenapa-kenapa di jalan.”
“Takut dia kenapa-kenapa?!” Suara Fariska menyambar dengan nada sinis. “Seharusnya kamu takut pada nasib bisnis dan keluarga kita, Bastian! Semua orang menertawakan kita sekarang. Anakmu itu membawa aib!”
Fariska mondar-mandir di dekat jendela, namun matanya sesekali melirik ke arah balkon lantai dua. Di sana, Zia berdiri dengan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh kegaduhan di bawahnya.
Zia menyesap minumannya perlahan. Dari atas, ia menatap beberapa penjaga rumah yang sibuk keluar masuk mencari keberadaan Ayla atas perintah kakeknya. Seringai licik tidak lepas dari bibirnya.
Aku benar-benar menyukai drama ini, batin Zia.
Melihat ketenangan putrinya, Fariska merasa ada yang aneh. Ia melangkah naik ke lantai dua dan menghampiri Zia.
“Zia, kenapa kamu tenang-tenang saja?” bisik Fariska cemas. “Kakekmu bisa terkena serangan jantung kalau Ayla tidak segera ditemukan dan memberi penjelasan."
Zia menoleh sedikit, menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Biarkan saja, Mah. Biarkan semua orang melihat siapa Ayla sebenarnya. Lagipula, bukankah ini yang kita inginkan? Dia sudah disingkirkan oleh Rayan sendiri. Aku tak perlu mengotori tangan untuk menyingkirkannya."
“Tapi Zia...”
"Udah, Mah. Kita nikmati saja tontonan ini." Bibir Zia menyeringai senang.
🌹
Di kediaman megah keluarga Abraham, suasana sangat sunyi, berbanding terbalik dengan kekacauan yang sedang melanda kota. Wina duduk di kursi kebesarannya, jemari keriputnya mengusap sebuah foto usang yang warnanya sudah mulai memudar. Matanya menatap tajam sosok di foto itu, seolah sedang menyalurkan dendam yang sudah puluhan tahun ia pendam.
Rayan berdiri mematung di belakang neneknya. Wajahnya pucat, ada keletihan yang amat sangat terpancar dari matanya.
“Aku sudah melakukan tugasku, Nek. Sekarang aku mau pergi ke tempat di mana aku seharusnya berada,” ucap Rayan datar. Ia merasa jiwanya kosong setelah malam itu.
“Tunggu, Rayan. Jangan terburu-buru,” sahut Wina tanpa menoleh. Suaranya tenang namun dingin. “Nenek dengar wanita itu belum pulang ke rumahnya. Sudah tiga hari keluarganya mencarinya, tapi dia belum ditemukan.”
Rayan mengepalkan tangan di samping tubuhnya. “Itu sudah bukan urusanku lagi, Nek. Aku sudah membuangnya seperti permintaanmu.”
BRAK!!
Pintu depan kediaman Abraham didobrak paksa hingga terbuka lebar. Suara dentuman itu menggema di seluruh ruangan. Sesaat kemudian, Bastian, Aditama, dan beberapa pria berbadan tegap merangsek masuk.
Wajah Aditama memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Di belakangnya, beberapa orang suruhannya menodongkan senjata.
Rayan dan Wina keluar dari ruang kerja, sesaat wajahnya terperanjat melihat beberapa orang menodongkan senjata, namun mereka segera memasang wajah angkuh untuk menutupi keterkejutannya. “Kalian?! Berani sekali menginjakkan kaki di sini.”
“Di mana Ayla?!” teriak Bastian dengan suara bergetar. Ia melangkah maju, tak peduli pada Rayan yang kini berdiri menghadangnya. “Apa yang telah kalian lakukan pada putri kami?!”
Aditama melangkah maju, menunjuk tepat ke wajah Rayan. “Jangan pikir setelah kamu mendapatkan tanda tangan kerjasama bisnis itu, kamu bisa memperlakukan putri keluarga kami seperti sampah! Katakan di mana dia sekarang, atau tempat ini akan menjadi kuburan kalian!”
Wina Abraham perlahan duduk di kursi, ia menatap moncong senjata yang mengarah padanya dengan senyum tipis yang meremehkan.
“Putri kalian?” tanya Wina pelan, suaranya terdengar sangat provokatif. “Bukankah selama ini kalian memperlakukannya lebih buruk dari pelayan? Kenapa sekarang tiba-tiba berlagak seperti orang tua yang kehilangan?”
“Tutup mulutmu, tua bangka!” bentak salah satu anak buah Aditama.
Rayan menatap Bastian yang tampak benar-benar hancur. Ada sedikit getaran di hati Rayan saat menyadari bahwa Ayla benar-benar hilang, bukan kembali ke 'neraka' yang ia maksud dalam suratnya.
Aditama melangkah maju perlahan, berusaha meredam amarahnya demi mendapatkan jawaban. Matanya menatap tajam ke arah Wina dan Rayan bergantian.
“Kenapa kalian melakukan ini pada keluarga kami? Kami tak pernah memiliki hubungan buruk dengan siapapun,” tanya Aditama dengan suara rendah namun menekan. “Kalian tahu sendiri, keluarga Aditama adalah keluarga terpandang dan nama kami bersih. Kita melakukan kerjasama bisnis ini agar kejayaan kita tetap abadi. Apa motif di balik semua ini?”
Wina Abraham tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski moncong senjata masih mengintai keselamatannya. Ia justru menyeringai lebar, sebuah tawa kering keluar dari bibirnya yang pucat.
“Benarkah kamu tak memiliki masa lalu yang buruk, Aditama?” tanya Wina penuh penekanan. Sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat benci, seolah ada api yang menyala di sana. “Atau ingatanmu saja yang terlalu pendek untuk mengingat orang-orang yang sudah kamu injak demi kejayaan yang kamu banggakan itu?”
Aditama tertegun sejenak. Ada keraguan yang melintas cepat di wajahnya, namun ia segera menutupinya dengan keangkuhan.
Wina tidak melanjutkan ucapannya. Ia membuang muka, seolah-olah melihat Aditama adalah sebuah penghinaan bagi matanya. Ia melambai pada Rayan dengan gerakan tangan yang angkuh.
“Rayan, usir mereka. Aku tak mau melihat mereka di tanahku lagi mulai saat ini,” perintah Wina dingin.
Rayan melangkah maju, berdiri kokoh di depan neneknya. Ia menatap Bastian dan Aditama dengan tatapan kosong.
“Kalian dengar sendiri? Keluar dari sini,” ucap Rayan tegas. “Kerjasama bisnis itu? Itu hanya tiket masuk bagiku untuk menghancurkan kalian dari dalam. Sekarang, pergi cari putri kalian yang malang itu sebelum dia benar-benar membusuk di jalanan.”
Suamiku Menikahi ku Hanya Untuk Balas Dendam

No comments:
Post a Comment