“Pak sopir, selamat datang di vila rahasiaku ❤~ Sekretarisku Cindy dan Nona Tini akan mengajarkanmu bagaimana… melayaniku.
Sekarang, kalian bertiga bantu aku melakukan SPA ya~”
Majikanku yang luar biasa cantik, Sonya, perlahan membuka ikatan jubah mandinya, memperlihatkan sepasang dada putih penuh, lembut bagai buah persik yang siap dipetik.
“Kalau kamu bekerja dengan baik, akan ada hadiah untukmu…”
Bab 1
Arya, pemuda berusia 25 tahun itu, baru saja tiba dari Jogja dengan membawa tas ransel lusuh dan sekeping hati yang hancur. Sita, gadis yang dicintainya bertahun-tahun, tega meninggalkannya demi menikah dengan juragan toko kelontong yang lebih mapan.
Demi membuktikan diri dan melupakan kenangan pahit itu, Arya nekat merantau ke ibu kota.
Nasib baik membawanya ke rumah mewah milik Ibu Sonya, janda kaya raya yang wajahnya secantik bintang film India, kebetulan sedang mencari sopir pribadi.
"Heiii kamu mau ngapain berdiri disitu? Mau merampok ya?" Bentakan keras menyambut kedatangan Arya.
Seorang pria bertubuh kekar dengan dada telanjang yang dipenuhi otot muncul dari balik pos satpam. Itu Pak Dirman. Wajahnya garang mirip preman terminal, tangannya memegang linggis besi.
Setelah drama interogasi singkat, Arya akhirnya diizinkan masuk.
Begitu melangkah ke halaman, Arya ternganga. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan istana. Taman yang asri, kolam renang pribadi, dan deretan mobil mewah di garasi membuat Arya sadar betapa kecilnya dirinya.
Di teras depan, Arya disambut oleh seorang perempuan yang langsung menarik perhatian mata lelakinya.
"Mas Arya ya? Saya Tini, asisten di sini," sapa perempuan itu ramah.
Arya menjabat tangan Mbak Tini. Wanita itu mungkin seusia dengan kakaknya di kampung, tapi penampilannya jauh lebih menggoda. Ia memakai kebaya rumahan yang ketat, memperlihatkan lekuk pinggang yang ramping namun berisi.
Belahannya yang rendah mengekspos kulit sawo matang yang mulus, sementara bagian belakang tubuhnya, uhh aduhai sekalii, begitu menonjol dan padat.
"Silakan masuk Mas, Ibu sudah menunggu," ucap Mbak Tini sambil berjalan mendahului.
Arya berjalan di belakangnya, matanya tanpa sadar terpaku pada goyangan pinggul Mbak Tini yang menghipnotis. Arya menelan salivanya. Jakarta ternyata benar-benar keras, terutama godaannya.
Setelah wawancara singkat dengan Ibu Sonya yang galak namun mempesona, Arya resmi diterima. Ia mendapatkan kamar di lantai bawah, tepat di sebelah kamar Pak Dirman dan tidak jauh dari kamar Mbak Tini.
**
Malam pertama bekerja, Arya tidak bisa tidur. Tubuhnya lelah setelah perjalanan jauh, tapi matanya menolak terpejam. Pikirannya melayang pada nasibnya yang berubah drastis, pada kecantikan Ibu Sonya, dan pada kemontokan tubuh Mbak Tini.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Suasana rumah besar itu sudah sunyi senyap. Namun, di tengah keheningan itu, telinga Arya menangkap suara aneh dari kamar sebelah. Kamar Pak Dirman.
“Ayo Pak, cepetin lagi!”
Suara perempuan.
Arya turun dari ranjang, berjalan jinjit menuju pintu kamarnya. Ia membukanya sedikit, lalu mengendap-endap ke depan pintu kamar Pak Dirman. Pintu itu ternyata tidak dikunci rapat, ada celah kecil yang membiarkan cahaya lampu tidur menerobos keluar.
Dengan napas tertahan, Arya mendekatkan wajahnya ke celah pintu. Satu matanya mengintip ke dalam.
Apa yang dilihatnya membuat darah muda Arya mendidih seketika.
Di atas kasur yang berantakan, dua tubuh manusia tanpa sehelai benang pun sedang bergulat liar.
Pak Dirman dan Mbak Tini.
Mbak Tini sedang dalam posisi menungging membelakangi Pak Dirman. Tubuh polosnya terpampang nyata di mata Arya. Punggungnya yang mulus, pinggangnya yang ramping, dan bagian belakangnya berguncang hebat setiap kali Pak Dirman melakukan dorongan dari belakang.
“Ok, tahan ya Tini. Aku dorong lagi!” geram Pak Dirman dengan suara berat.
“Argghhh!”
Arya melihat keringat bercucuran di tubuh kekar Pak Dirman, membuat kulitnya mengkilap di bawah cahaya lampu. Kakinya lemas, tapi bagian tengah tubuhnya bereaksi keras.
Tak lama kemudian, Pak Dirman mengubah posisinya, dan Arya bisa melihat ekspresi wajah Mbak Tini yang merah padam penuh kenikmatan, matanya terpejam, mulutnya terbuka dan terus memanggil nama Pak Dirman.
Arya tidak sanggup menonton lebih lama lagi. Rasa takut ketahuan mulai menghantuinya. Dengan langkah gemetar dan celana yang mendadak sempit, ia kembali ke kamarnya. Malam itu, Arya gelisah. Bayangan tubuh padat Mbak Tini yang digarap Pak Dirman terus menari-nari di kepalanya, membuatnya terjaga hingga pagi.
**
Bab2
Keesokan harinya, Arya merasa canggung luar biasa. Saat berpapasan dengan Pak Dirman di pos satpam, ia buru-buru menunduk. Saat bertemu Mbak Tini di dapur, ia tidak berani menatap mata wanita itu.
Namun anehnya, Mbak Tini justru bersikap sangat santai. Wanita itu menyapa Arya dengan senyum manis, mengenakan kaos ketat dan rok pendek yang membuat Arya teringat kembali pada pemandangan semalam.
Mbak Tini mendekati Arya,. "Badan aku rasanya remuk redam, pegal semua dari ujung kaki sampai kepala. Mas Arya bisa bantu pijat sebentar gak? Punggung aku sakit banget nih."
Setelah Arya mengiyakan, Mbak Tini kemudian mengajak Arya masuk ke kamar.
Arya mulai memijat bagian pundak. Tangan Arya gemetar saat menyentuh bahu Mbak Tini yang terhalang kaos tipis.
"Turun lagi Mas, ke punggung tengah!"
Arya menuruti perintah itu, jemarinya menekan punggung Mbak Tini dengan tenaga sedang. Setiap tekanan Arya dibalas dengan lenguhan kecil dari bibir Mbak Tini, suara yang persis sama dengan yang Arya dengar semalam.
"Mas Arya ganteng deh kalau lagi serius gini," puji Mbak Tini tiba-tiba. "Sayang banget pacarnya di kampung ninggalin. Kalau aku jadi ceweknya, pasti aku pegang erat-erat."
Arya hanya tersenyum kaku. "Ah, Mbak Tini bisa aja."
"Serius lho. Mas Arya itu idaman. Udah ganteng, rajin, pinter mijat lagi."
Mbak Tini mulai menggeliat pelan, membuat gesekan antara tubuhnya dan seprai menimbulkan suara yang ambigu. "Mas, turun lagi dong, ke pinggang, atau bawahnya lagi!"
Arya terdiam. "Mbak, itu kan area privasi?"
"Halah, sama aku aja kok malu. Anggap aja sedekah buat nyenengin orang sakit. Ayo Mas," desak Mbak Tini.
Arya memberanikan diri turun memijat pinggang, lalu perlahan menyentuh bagian bawah Mbak Tini yang tertutup rok pendek.
Tiba-tiba Mbak Tini bangun setengah badan.
"Sebentar Mas Arya, aku gerah banget nih. Kaos sama roknya ganggu pijatan Mas Arya. Aku lepas dulu ya biar enak."
Sebelum Arya sempat mencegah, Mbak Tini sudah berdiri di samping kasur. Dengan gerakan santai namun menggoda, ia menarik kaos ketatnya ke atas.
Sret! Kaos itu terlepas.
Arya menahan napas melihat milik Mbak Tini, meski hanya punggungnaya saja.
Tapi itu belum selesai.
Detik berikutnya, Mbak Tini melepas semuanya, sehingga Arya bisa melihat semuanya.
Mbak Tini lalu menyambar sehelai handuk kecil dari gantungan, lalu kembali tengkurap di kasur. Handuk itu diletakkan asal-asalan di atas pahanya, sementara punggung, paha, dan kakinya terbuka lebar.
"Nah, gini kan lebih enak Mas. Langsung kena kulit," ucap Mbak Tini santai, seolah telanjang di depan sopir baru adalah hal yang lumrah.
Arya tidak punya pilihan selain melanjutkan. Ia memijat turun ke bawah, sampai ke batas handuk di pinggang.
"Eughhh, terus Mas, jangan berhenti!" rintih Mbak Tini.
Arya memijat bagian pinggang bawah yang tertutup handuk. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia berusaha fokus, tapi matanya terus tertuju pada celah di balik handuk itu.
"Mas Arya..." panggil Mbak Tini dengan suara serak yang berat.
"Iya Mbak?"
"Handuknya menghalangi gak?"
Arya terdiam. Jakunnya bergerak naik turun dengan cepat. "Sedikit Mbak."
"Yaudah, aku singkirin aja ya."
Tanpa menunggu jawaban Arya, tangan Mbak Tini bergerak ke belakang, menarik handuk kecil itu dan melemparnya ke lantai kamar.
Kini, tidak ada lagi yang tersembunyi.
Tubuh Mbak Tini terhampar sempurna di depan mata Arya, dari atas ke bawah. "Gimana Mas? Masih mau pijat atau mau yang lain? Atau…"
Mbak Tini lalu membalik tubuhnya, menatap Arya dengan tatapan sayu, dengan bibirnya basah dan sedikit terbuka. "… Mas Arya mau gantiin Pak Dirman kayak yang Mas liat kemaren malam?"


No comments:
Post a Comment