"Lila! Mana teh manis ku?" te ri ak Ibu dari ruang tengah.
Aku segera mengeringkan tangan pada celemek kusam yang sudah bo long di beberapa bagian. Dengan gerakan cekatan, aku menyeduh teh, memastikan suhunya pas agar tidak kena makian lagi pagi ini.
Saat aku meletakkan cangkir itu di meja, Ibu sedang asyik memoles kuku kakinya.
Ia melirik ku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan me ren dah kan.
"Lila, lihat itu. Ada no-da bekas kaki, kamu ngepel pakai apa? Pakai lu-dah?" sin-dir-nya tanpa mengalihkan pandangan dari kuku merah menyalanya.
Aku menoleh ke pojok ruangan yang ditunjuk. Bersih. Tidak ada no-da sedikit pun. "Lila sudah pel tadi Subuh, Bu. Itu mungkin hanya bayangan lampu."
"Ban-tah terus! Sudah mis-kin, pintar bicara pula kamu, ya!" Ibu sengaja menyenggol botol cairan pembersih kuku hingga tumpah ke lantai. "Bersihkan itu. Pakai tangan mu sendiri, jangan pakai kain pel. Gosok sampai mengkilap!"
Aku menarik na-pas panjang, mencoba meredam gemuruh di da-da ku.
Aku berjongkok, meraih tisu, dan mulai menggosok lantai tepat di bawah kaki mertuaku.
"Pelan sedikit! Nanti kaki ku kena tangan ka-sar mu itu, bisa ga tal-ga tal saya!" ben-tak-nya lagi.
Aku berhenti menggosok, mendongak, menatap tepat ke matanya yang penuh ke-ang-kuh-an. "Kalau tangan Lila ka-sar, itu karena Lila yang mengerjakan semua pekerjaan ru-mah ini sendirian, Bu. Kalau Ibu mau tangan menantu Ibu halus, mungkin Ibu bisa panggil lagi pem-ban-tu yang Ibu pe-cat dulu."
Bug!
Ibu me-nen-dang bahu ku hingga aku tersungkur ke belakang. "Be-ra-ni kamu mengaturnya? Kamu itu num-pang di sini! Makan dari keringat a-nak ku!"
"Lila tidak num-pang, Bu," sahut ku sambil bangkit berdiri, "Lila bekerja di sini. Kalau Ibu hitung ga-ji pem-ban-tu, tukang kebun, dan tukang cuci mobil yang Lila kerjakan selama dua tahun ini, mungkin u-tang makan Lila sudah lu-nas berkali-kali lipat."
"Ku-rang a-jar!" Ibu hendak melayangkan tangannya lagi, tapi langkah kaki Mas Adrian yang turun dari lantai dua menghentikannya. Suamiku itu sudah rapi dengan setelan kerja yang ma-hal.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ri-but," tanya Mas Adrian.
"Lihat istrimu ini, Adrian! Dia sudah be-ra-ni me-la-wan Ibu! Dia bilang dia bukan num-pang, tapi bekerja! Dia anggap ru-mah ini kantor!" adu mertuaku dengan nada dramatis yang dibuat-buat.
Mas Adrian me-na-tap-ku.
Bukannya bertanya apa yang terjadi, ia malah mendekat dan men-ceng-ke-ram lenganku kuat-kuat. "Lila, minta maaf pada Ibu. Sekarang."
"Untuk apa, Mas? Bukannya yang aku bilang barusan itu benar?" aku me-na-tap-nya.
"Minta maaf atau aku po-tong u-ang dapurmu minggu ini!" an-cam nya.
Aku tersenyum ge-tir. U-ang dapur? U-ang yang bahkan tidak cukup untuk mem be li kebutuhan pokok tanpa aku harus memutar o-tak setengah ma-ti dan nom-bok pakai sisa ta-bu-ngan ku.
"Po tong saja, Mas. Toh, selama ini juga aku yang sering menutupi kekurangannya pakai u-ang ku sendiri."
Mas Adrian tertegun sejenak, namun e-go-nya yang setinggi langit tak membiarkannya mengalah. Ia meng-hem-pas-kan tanganku dengan ka-sar. "Kamu benar-benar tidak tahu terima ka-sih. Ingat ya, di luar sana banyak wanita yang antre mau ada di posisi mu sekarang. Pakai baju bagus, tinggal di ru-mah me-wah--"
"Ru-mah me wah tapi tu-buh ku di pe-ras dan di hi-na setiap detik, Mas? Kamu sebut ini beruntung?" po-tong ku cepat.
"Cukup!" Mas Adrian mem-ban-ting tas kerjanya ke sofa. "Ibu, nanti siang teman kantor Adrian mau datang makan siang. Tolong pastikan Lila masak yang e-nak. Dan Lila, ingat pesanku semalam. Jangan menampakkan wa-jah mu di depan tamu. Masak di dapur, diam di sana sampai mereka pulang. Kalau sampai aku lihat kamu ber-ke-lia-ran di depan, jangan sa-lah-kan aku kalau surat ce-rai itu datang lebih cepat dari perkiraan mu."
Setelah mengatakan hal itu, Mas Adrian per-gi begitu saja.
Ibu tersenyum penuh kemenangan di belakangnya.
"Dengar itu? Kamu itu cuma pem-ban-tu. Sekarang cepat ke pasar! Be-li da-ging sapi kualitas terbaik. Kalau alot, kamu yang saya suruh makan tulang-tulangnya!"
Aku berjalan menuju dapur, mengambil tas belanja dan merogoh saku daster. Disana hanya ada beberapa lembar u-ang ku-mal yang Mas Adrian berikan tadi malam.
Jumlahnya sangat tidak masuk a-kal untuk menyajikan menu da-ging bagi tamu kantor.
Di pasar, aku harus mem-bu-ang rasa ma-lu ku, menawar ma ti-ma ti an dengan pedagang.
Aku bahkan rela mem be li sayuran si-sa yang har-ga nya lebih mu-rah agar u-ang nya cukup untuk mem-be-li sedikit da-ging. Aku tidak peduli harus berdebat soal se-ri-bu perak, asalkan aku tidak kena sik-sa lagi saat pulang.
Siang harinya, dapur terasa seperti ne-ra-ka.
Aku memasak rendang dan sayur sendirian di tengah kepulan asap yang membuat mataku perih. Sayup-sayup, aku mendengar tawa Mas Adrian dan teman-temannya di ruang makan.
"Wah, Adrian, masakan di ru-mah mu e-nak sekali. Kamu se-wa katering mana?" tanya sa-lah seorang tamunya.
Aku berdiri di balik pintu dapur yang sedikit ter-bu-ka, ingin tahu bagaimana jawaban suamiku.
"Oh, ini? Ini masakan pem-ban-tu baru kami. Dia memang ahli kalau soal urusan dapur," jawab Mas Adrian santai, di ikuti gelak tawa teman-temannya.
Aku memejamkan mata, pem-ban-tu baru. Begitulah status pku di mata rekan bis-nis-nya. Tidak ada pengakuan sebagai istri.
Setelah tamu-tamu itu pulang, tumpukan piring ko-tor kembali menggunung. Ibu mertua masuk ke dapur membawa piring berisi si-sa tulang dan nasi yang sudah berantakan.
"Ini, makan! Lumayan kan masih ada si-sa da-ging nya sedikit. Dari pada di-bu-ang, mubasir," ia meletakkan piring si-sa tamu itu di depan ku seolah memberikan sedekah.
Aku menatap piring itu. Si-sa air li-ur orang a-sing, tulang yang sudah di isap, dan nasi dingin yang terkena tumpahan kuah.
"Lila tidak la-par, Bu," ucapku tenang.
"Jangan som-bong! Kamu itu tidak punya u-ang buat be-li makan sendiri! Makan ini atau aku bu-ang ke tempat sam-pah!"
Aku berdiri, mengambil piring itu lalu berjalan menuju tempat sam-pah di pojok dapur. Di depan mata Ibu, aku mem-bu-ang seluruh isi piring itu tanpa ragu.
"Lila memang mis-kin, Bu. Tapi Lila bukan an-jing yang mau memakan si-sa tulang tamu Ibu," ucapku.
Ibu terpaku, wa-jah nya me-mu-cat karena terkejut melihat ke-be-ra-nian ku. Sebelum dia sempat ber-te-riak, aku sudah berbalik dan menyalakan keran air untuk mencuci piring ko-tor.
"Sabar, Lila. Sebentar lagi," batinku ber-bi-sik menenangkan diri. "Biarkan mereka meng-hi-na mu se-pu-as hatinya. Sebelum nanti mereka yang akan me-na-ngis di depanmu."
Bersambung ....

No comments:
Post a Comment