Addense

Tuesday, 28 July 2026

Hanya anak pembantu



 Aku diusir keluarga calon suamiku. Hanya karena aku datang bersama mantan pembantu mereka yang kupanggil Ibu.

Katanya aku tidak setara dengan mereka.

Tapi aku tidak marah, karena anak pembantu ini yang membuat mereka menangis guling guling nantinya !!


---


"Gita? Kamu datang dengan Mbok Darmi?" 


Gita kaget. Calon suaminya sudah mengenal siapa yang ia bawa.


"Kamu sudah kenal dengan ibu, Ga?" tanya Gita kepada calon suaminya, Arga Mahendra. Selebgram dengan 12 juta pengikut. Tampan, kaya, dan selalu tampil sempurna di depan kamera.


Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya melongo.


Namun setttt...


Bu Miranda sebagai ibu Arga langsung mencengkram tangan Arga dan menariknya ke dalam.  Entah apa yang akan dibicarakan.


"Jadi, Gita itu anak Mbok Darmi?" tanya Bu Miranda dengan tatapan tajam.


Arga menggeleng bingung.


"Aku juga tidak tau Ma. Gita tidak pernah cerita sebelumnya kalau Ibu nya itu pembantu."


"Telingamu masih berfungsi dengan baik bukan? Dia memanggilnya dengan sebutan Ibu. Ah Rendra, seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini. Kamu itu terkenal, tampan, kaya. Masa iya mau nikah dengan anak pembantu? Yang ada reputasi kamu sebagai selebgram terkenal bisa hancur begitu saja," kata Bu Miranda.


"Lalu aku harus bagaimana Ma?"


"Kok masih tanya. Ya tinggalkan Gita. Dia tidak cocok dengan kita."


Sementara itu, Gita masih berdiri di teras. Pegal. Tidak dipersilahkan masuk. Padahal ia juga datang dari luar kota. Namun tak lama kemudian, Arga dan mamanya datang dari dalam. Gita berniat masuk. Ingin duduk.


"Eh eh mau kemana kamu? Mau duduk? Siapa yang menyuruh kamu duduk?" tanya Bu Miranda.


Gita semakin melongo. Ternyata.


"Kita bicara diluar saja Git," ajak Arga.


Terpaksa Gita mengangguk setuju.


"Bicara apa memangnya? Aku jauh jauh dari luar kota kesini untuk menjenguk kamu. Bukankah kamu sedang sakit?" tanya Gita.


Arga mengibaskan tangannya di udara.


"Yang bisa menyembuhkan penyakit itu dokter. Bukan kamu. Memangnya kamu mau bawakan aku dokter? Dokter langgananku itu mahal. Kamu punya uang? Kan ibumu hanya pembantu. Mbok Darmi itu mantan pembantu ku dulu. Jadi kamu mau mengelak kalau kamu bukan anak pembantu?


Deg...


Gita kaget. Baru kali ini, Arga mengatakan hal sepeda itu.


"Mas Arga..."


Tangan Gita reflek memegang tangan Mbok Darmi. Mengisyaratkan untuk tidak usah ikut campur.


"Gita, saya mamanya Arga. Sampai sini kamu paham bukan? Kalua Arga tidak pantas dengan anak pembantu seperti kamu. Jadi pernikahan kalian dibatalkan ya? Jangan baper. Nanti jangan mengancam bunuh diri," lanjut Bu Miranda.


"Iya," jawab Gita dengan singkat. Tatapannya beralih kepada Mbok Darmi.


"Ayo Bu kita pulang," ajak Gita.


Mbok Darmi menatap Gita seperti keberatan.


"Tapi...."


Bu Miranda langsung berkacak pinggang.


"Ada apa lagi Darmi? Kamu mau jadi nyonya begitu kalau Gita menikah dengan Arga. Kamu pasti sudah tau siapa calon suami Gita. Dan kamu pasti memilih tutup mulut karena kamu juga ingin hidup kaya raya. Benar begitu bukan? Sudahlah saya hafal otak orang miskin seperti kalian," hina Bu Miranda.


"Tante, kalau hubungan saya dan Arga adalah sebuah kesalahan. Salahkan saya. Bukan ibu. Permisi," kata Gita.


"Ya sudah pergi sana. Disini juga tidak adalah lowongan kerja untuk pembantu," usia Bu Miranda. 


Gita dan Mbok Darmi pergi dari perumahan elite itu tanpa menoleh lagi.


Di seberang jalan agak jauh terparkir sebuah mobil mewah. Mobil milik Gita


"Non, kenapa tidak bilang terus terang saja kepada keluarga Mas Arga tentang siapa Non Gita?" tanya Mbok Darmi.


Ya wanita itu memang pembantu. Yang kini bekerja di rumah Gita. Namun karena dekatnya dengan sang adik, Gisel. Adiknya sering memanggil Mbok darmi dengan sebutan Ibu. Gita  pun juga. Karena memang Mbok Darmi sebaik itu.


Gita tertawa kecil


"Biar Bu. Dari sini aku tau seperti apa sifat mereka. Padahal aku kesini sekalian membawakan kontrak kerja untuk Arga dari papa sebagai produser agar bisa main dalam sebuah sinetron."


No comments:

Post a Comment