Addense

Monday, 20 July 2026

Tak mau urus mertua sakit

 “Aku cuma minta istriku jagain ibuku yang stroke. Tapi hari itu… rumahku kosong. Istriku pergi. Anakku ikut. Dan aku baru sadar—ada luka yang tak pernah kudengar.”




"Maja! Kamu di mana?!" suaraku menggema di seluruh sudut rumah.


Aku membanting pintu sekuat tenaga, membuat kusen berderit saking kerasnya. Jantungku berdetak kencang, bukan karena capek habis bertugas memadamkan api di Pasar Gede tadi siang, tapi karena ada rasa aneh yang langsung menusuk begitu masuk rumah.


Sepi, tak ada tanda-tanda istriku di rumah.


Aku melempar jaket seragam ke sofa, langkahku tergesa-gesa menuju dapur. Mungkin dia lagi masak. Tapi kompor mati. Meja makan bersih. Tak ada aroma masakan seperti biasanya.


"Maja!" aku teriak lagi, kali ini lebih keras, nadanya hampir putus asa.


Gagal menemukan dia di dapur, aku naik ke lantai dua. Kamar kami.


Dengan sekali tarikan kasar, pintu kamar kebuka.


Lagi-lagi kosong tiada orang.


Lemari pakaian terbuka lebar seperti habis dijarah. Setengah bagiannya—yang isinya penuh baju dan dress Maja—hilang semua. Hanya bajuku yang masih bergelantungan. Aku mendekat, menatap kosong ke dalam lemari.


Di meja rias, tempat dia biasanya ngerapihin make-up sebelum berangkat kerja, sekarang bersih licin. Botol parfum, foundation, lipstik favorit dia—semuanya lenyap.


Aku mundur pelan-pelan, nabrak tembok kamar. Keringat dingin mulai menetes di pelipis.


"Nggak mungkin... ini nggak mungkin."


Aku buru-buru ambil HP di kantong, nelpon dia. Satu kali. Dua kali. Sampai sepuluh kali. Jawabannya sama:


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.


Aku memaki, melempar HP ke kasur.


"MAJA, APA-APAAN INI?!"


Pikiran buruk langsung memenuhi kepalaku.


Anakku. Kenji.


Mana Kenji?


Aku lari ke kamar Kenji. Kasurnya rapi. Seprei bergambar Spiderman itu kelihatan baru diganti. Tapi boneka dinosaurus kesayangannya—yang biasanya dia peluk setiap malam—nggak ada.


Lemari kecilnya juga setengah kosong.


Aku berjongkok di tengah kamar. Nafasku terengah. Kayak barusan lari keliling Stadion Manahan.


"Jadi... dia pergi. Dia bawa Kenji. Dia bawa semua barangnya. Tanpa pamit. Tanpa ngomong apa-apa. Tanpa surat. Tanpa pesan WA."


Tiba-tiba, suara adikku, Fani, memotong lamunanku lewat telepon.


"Mas Adam, udah mau nyusul ke rumah sakit belum? Ibu nanyain."


Aku memejamkan mata. Oh, iya. Ibu.


Ibu lagi dirawat di RS dr. Oen. Stroke. Badannya setengah lumpuh. Seharusnya tadi pagi, Maja yang jaga, gantiin aku. Aku sudah minta baik-baik semalam.


"Maja, tolong ya. Sekarang giliranmu jagain Ibu. Aku kerja, nggak bisa ninggalin tugas."


Dia diam saja. Aku pikir dia setuju. Tapi ternyata...


"Dasar perempuan egois!" aku mengumpat di dalam hati.


"Mas?" suara Fani lagi. "Masih denger aku kan? Ini Ibu terus nanyain Mas. Katanya kapan datang."


Aku mendesah keras.


"Iya, Fan. Aku nyusul. Tapi..."


Aku menahan lidahku. Mau bilang apa? Bahwa istriku kabur?


"Mas?"


"Fan... Maja nggak ada di rumah. Sama Kenji juga nggak ada. Barang-barangnya hilang semua."


Hening. Di ujung telepon, Fani juga kayak nahan napas.


"Apa... mungkin ke rumah sakit bawa Kenji sekalian? Kadang kan ada anak kecil di ruang tunggu," katanya ragu.


Aku menggeleng, sadar dia nggak bisa lihat.


"Nggak mungkin. Masa bawa baju satu lemari buat jaga orang sakit? Ini mah minggat, Fan."


Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Pahit. Pahit banget.


Aku berdiri. Pandanganku menyapu seisi kamar Kenji.


Di atas meja kecil dekat jendela, ada kertas lipat warna biru. Aku mendekat.


Tanganku gemetar waktu membukanya.


Tapi bukan surat. Cuma gambar Kenji, corat-coret ala anak lima tahun. Gambar orang tiga: aku, Kenji, dan Maja. Tapi... orang ketiga, si "Maja", dikasih tanda silang merah besar di mukanya.


Aku menelan ludah.


"Kenji... kamu diajak pergi tanpa pamit ke Ayah?"


Tanganku mengepal. Marah. Sedih. Campur aduk.


Maja... kamu kenapa sih?


Apa salahku? Apa segitu beratnya kamu jagain Ibu?


Dulu waktu aku sakit kena luka bakar, kamu setia banget. Kamu sabar mandiin aku, ganti perban.


Kenapa sekarang kamu malah pergi?


Atau... mungkin...


Aku menatap kosong ke luar jendela. Langit Solo sore ini kelabu.


Atau mungkin... selama ini kamu cuma pura-pura bertahan? Cuma pura-pura kuat?


Dan aku... terlalu bego buat sadar.


Aku mengepalkan tangan lebih keras, kuku-kuku hampir menembus telapak tangan.


Kalau benar Maja pergi buat kabur dari tanggung jawab, aku nggak akan tinggal diam.


Aku akan cari dia.


Sampai ketemu.


Dan saat aku ketemu...


"Maja, kamu harus kasih aku alasan. Kamu harus jelasin semua."


Karena sampai sekarang... aku masih nggak percaya. Kalau perempuan yang paling aku percaya di dunia ini...


Tega pergi ninggalin aku dan anakku.


Tanpa pesan. Tanpa pamit. Tanpa jejak.


Aku duduk di pinggiran kasur Kenji, masih memegang gambar yang tadi kutemukan. Tanganku bergetar. Kepalaku berat. Tapi otakku kerja keras, muter terus kayak kipas angin rusak.


Maja.


Kenji.


Kemana kalian?


Aku berdiri lagi. Gak bisa diam. Aku turun ke bawah, ngambil jaket yang tadi kulempar ke sofa. HP kuselipin ke saku, kunci motor kumasukkan ke tangan.


Aku harus cari mereka. Sekarang.


Waktu baru buka pintu rumah, tiba-tiba tetangga sebelah, Bu Yanti, nongol dari balik pagar.


"Mas Adam!" dia manggil, nadanya penuh kepo. "Mbak Maja sama Kenji ke mana? Tadi siang saya lihat mereka bawa koper, lho!"


Aku berbalik cepat. "Koper? Ke mana, Bu?"


"Entahlah... saya kira mau liburan. Tadi ada mobil jemput. Saya lihat sopirnya bukan orang sini," jawab Bu Yanti sambil nyengir-nyengir nggak jelas.


Mobil jemput? Sopir asing?


Aku langsung curiga.


"Makasih, Bu," kataku buru-buru. Aku lompat ke motor, starter, langsung tancap gas.


Bersambung 

No comments:

Post a Comment