Suamiku lebih memilih menghibur cinta pertamanya yang sedang pat ah hati, daripada menemaniku yang sedang kont raksi.
Aku memilih diam. Diam-diam aku mengurus svrat cer ai dan pergi dari hidupnya.
Namun setelah aku benar-benar menghilang, kenapa justru dia yang panik mencariku?
"Anara, jangan sembarangan!"
Fabian tersentak. Wajahnya menegang, jelas tidak terima dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut istrinya. Ia bangkit sedikit dari posisinya dengan napas yang terasa ber at.
"Sudah berapa kali aku bilang," sambung Fabian dengan nada menekan. "Aleena itu sahabatku. Teman masa kecilku."
Anara membuka mata perlahan. Tatapannya kosong, penuh lvka.
"Tapi sikapmu yang membuatku yakin kalau kamu punya perasaan itu, Mas," ucapnya lirih. "Aku bisa merasakannya."
"Jangan ngawvr," pot ong Fabian cepat. "Aku tidak suka kamu bicara sembarangan seperti itu. Apalagi kalau sampai Aleena mendengar. Dia pasti akan semakin merasa bersalah, merasa jadi penyebab kita salah paham dan berten gkar."
Nada suara Fabian semakin meninggi tanpa ia sadari. Kata-katanya taj am, menvsvk tanpa ampvn.
Anara mengvsap a ir matanya. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum. Senyum yang terasa pah it dan per ih.
"Tidak cinta, tapi kamu sangat peduli," katanya pelan. "Kamu lebih memilih menjaga perasaannya daripada mencoba mengerti perasaan dan kondisiku."
Anara kembali memejamkan mata. A ir mata yang tertahan sejak tadi langsung jatvh membasahi pipinya.
"Anara, bukan seperti itu." Suara Fabian kembali melemah, seolah baru menyadari nada ker asnya barusan.
"Aleena itu rapvh," lanjutnya. "Dia hampir depr esi karena percer aiannya. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padanya. Dia tidak punya siapa-siapa yang benar-benar bisa mendukungnya. Toloong mengertilah, Anara. Dia sangat berbeda denganmu. Aleena benar-benar butuh penguat. Dan itu adalah aku."
Fabian menatap Anara dengan penuh harap.
"Seharusnya kamu membantuku merawatnya," tambahnya. “Bukan malah menvduh yang tidak-tidak seperti ini."
Alih-alih merasa tenang, hati Anara justru semakin remvk. Setiap pembelaan Fabian kepada Aleena terdengar seperti penegasan bahwa posisinya sebagai istri perlahan mulai tergeser.
Bukan Anara tidak punya empati. Bukan ia tidak peduli. Tapi tidakkah ada satu orang saja yang mau benar-benar memahami dirinya.
"Kamu pikir cuma Aleena yang butuh penguat, Mas?" Suara Anara sangat lirih, nyaris tak terdengar. "Kamu pikir cuma Aleena yang rapvh?"
Anara membuka mata, menatap Fabian dengan sorot yang lelah dan pvtus asa.
"Kenapa kamu tidak pernah mau mencari tahu bagaimana kondisiku sekarang?" lanjutnya. "Bagaimana istrimu menjalani keha milan ini sendirian. Kenapa kamu tidak pernah bertanya? Kenapa?"
Fabian terdiam. Bib irnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar.
"Anara, aku—"
"Sudahlah, Mas," pot ong Anara pelan, tapi tegas. "Tidak perlu diperpanjang lagi."
Wanita itu menarik napas panjang, seakan sedang mengumpulkan sisa kekuatannya.
"Aku sudah tahu jawabannya."
Anara memalingkan wajah sebelum kembali bersuara—
"Sebaiknya kamu keluar, Mas," ucapnya lirih. "Aku mau istirahat."
"Baiklah," bal as Fabian dengan suara tertahan. "Aku keluar dulu. Aku ada di ruang kerja kalau kamu butuh apa-apa."
Fabian berhenti sejenak, menatap Anara yang sudah membelakanginya.
"Demi an ak kita," lanjutnya pelan. "Toloong jangan berpikir yang tidak-tidak tentang aku dan Aleena."
Tanpa menunggu jawaban, Fabian menunduk dan mengecvp pervt Anara sebentar. Civman itu terasa singkat, formal, dan tanpa kehangatan yang dulu selalu Anara rasakan. Setelah itu Fabian bangkit berdiri, melangkah menuju pintu, lalu menghilang di balik daun pintu yang tertutup perlahan.
Klik.
Suara pintu yang tertutup itu terdengar begitu ker as di telinga Anara.
Anara tetap duduk di tempatnya, menatap kosong ke arah taman di luar jendela. Da danya terasa hampa. Ada ruang besar di hatinya yang seolah ditinggalkan begitu saja tanpa permisi.
"Dia benar-benar pergi," gumamnya lirih. "Tanpa berusaha membujukku agar tetap tinggal bersamanya."
A ir mata kembali mengalir, jatvh tanpa bisa ia cegah.
"Dia juga tidak bertanya bagaimana aku menjalani keha milan ini," lanjut Anara dengan suara bergetar. "Tidak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja, apakah aku kesa kitan, atau apakah aku lelah."
Anara menunduk, bahunya bergetar menahan is ak.
"Ya Tuhan," bisiknya pilv. "Apa yang harus aku lakukan? Saat aku mulai menyadari kalau di hati suamiku ternyata sudah ada wanita lain."
Tangan Anara perlahan mengvsap pervtnya yang kini sudah sangat besar. Gerakan lembut itu seolah menjadi satu-satunya cara untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Dia bahkan tidak pernah bertanya tentang HPL-ku," ucap Anara lirih, hampir seperti berbisik pada diri sendiri.
Wanita itu buru-buru mengvsap a ir matanya, menarik napas dalam. Anara tidak ingin terlihat rapvh, terlebih di hadapan an ak yang sedang ia kandvng.
"Ma afkan Mama ya, Nak," katanya sambil mengelvs pervtnya dengan penuh kasih sayaang. "Mama janji akan berusaha sekuat mungkin."
A ir mata kembali jatvh, dengan senyum yang tampak dipak sakan.
"Mama akan pastikan kamu tidak pernah kekurangan kasih sayaang Papa, meski Mama harus menahan banyak keke cewaan."
Di dalam kam ar itu, Anara duduk sendirian. Menyimpan lvka, menelan kec ewa, dan dengan perlahan belajar kuat. Bukan karena ia ingin, tapi karena keadaan mem aksanya.
***
Tanpa terasa sudah lebih dari satu bulan Aleena tinggal bersama Fabian dan Anara. Semua tampak biasa saja hingga pada sore itu Aleena datang menemui Anara yang sedang bersantai di taman belakang.
"Anara, apa aku mengganggu?"
Suara lembut itu membuat Anara langsung menoleh.
"Sama sekali tidak. Aku sedang menghirup udara segar. Duduk saja nggak papa," jawab Anara pelan.
Aleena tersenyum tipis lalu melangkah mendekat. Ia duduk di bangku yang sama, tepat di samping Anara. Beberapa saat mereka terdiam, hanya suara angin dan dedaunan yang menemani.
"M aaf," ucap Aleena tiba-tiba.
Anara spontan menoleh, menatap Aleena dengan alis sedikit berkerut.
"Ma af? Untuk apa?" tanyanya heran.
"Karena kehadiranku sudah membuat jarak antara kamu dan Bian," katanya jujur. "Percayalah Anara, aku dan Bian tidak pernah memiliki hubungan apa pun selain persahabatan."
Aleena menunduk sejenak, lalu kembali menatap Anara dengan mata berkaca-kaca.
"Karena aku mencintai orang lain."
Ucapan itu membuat Anara terkejut. Ia tidak menyangka pengakuan tersebut keluar begitu saja dari bi bir Aleena. Dari sorot mata wanita itu, Anara bisa melihat kesungguhan yang sulit dipungkiri.
Namun Anara memilih diam. Ia tahu, masih ada banyak hal yang ingin Aleena sampaikan.
"Aku benar-benar mencintainya, Anara," lanjut Aleena. "Aku hampir kehilangan akal saat dia mence raikanku begitu saja. Rasanya seperti dunia akan rvntuh."
A ir mata mulai menggenang di mata Aleena.
"Dia sudah tahu semuanya. Dia tahu kalau aku membo honginya. Dia tahu aku bukan wanita yang selama ini dia kira, bukan wanita yang pernah menolongnya dulu."
Tang is Aleena pec ah. Bahunya bergetar, kesedihan itu mengalir begitu nyata tanpa bisa ditahan.
Melihat itu, perasaan cembvru dan sak it hati yang selama ini menggero goti hati Anara perlahan mereda. Berganti dengan rasa ib a yang menyes akkan. Tidak ada kepalsvan, tidak ada kepura-puraan. Yang Anara lihat hanyalah kehancvran seorang perempuan yang sedang terlvka.
"Ya Tuhan, apa selama ini aku sudah salah menilai Aleena? Dan juga, siapa mantan suami Aleena sebenarnya?"

No comments:
Post a Comment