Aku melihat Ibu membuka kaki ayah, lalu ibu memasukkan kepalanya ke dalam sarung ayah, terdengar suara tiupan, setelah itu ayahku menggeliat kesakitan.
Kamar rahasia di rumah mertua part acak
Setelah selesai membaca sesuatu, aku melihat ibu melebarkan kaki ayah, kemudian ia memasukkan tangan ke dalam sarung yang dikenakan ayah. Setelah itu, perlahan ibu mencondongkan kepalanya, lantas ia memasukkan kepala ke dalam sarung ayah.
Aku panik dan tegang. Heran juga takut. Apa sebenarnya yang hendak ibu lakukan? Aku ingin bersuara, tapi tidak bisa sama sekali. Sedangkan ayah kulihat masih saja terlelap dengan santainya.
Kepala ibuku masih tenggelam di dalam sarung ketika aku mendengar suara hembusan angin. Bukan. Itu seperti suara tiupan yang cukup kuat.
Ketika suara tiupan itu berhenti, aku melihat ayah bergerak-gerak, kemudian tubuhnya bergetar, dengan nafas yang tampak tersengal.
Oh ... Aku semakin panik. Ayah sepertinya sedang kesakitan. Matanya membeliak. Kemudian kulihat ibu mengeluarkan kepala. Saat itu rambutnya menutupi seluruh wajahnya, dan kulihat lidahnya menjulur keluar. Benar-benar menakutkan. Tangan ibu yang satunya masih berada di dalam sarung ayah.
Dengan mata melotot ayah memandangi wajah ibu yang berada tepat di depannya. Aku bisa melihat kejadian ini, karena itu terjadi di depan mataku. Anehnya tubuhku masih membeku dan mulutku juga tidak bisa digerakkan.
"Ning-Ningsih ... " Dengan tersendat ayah menyebut nama ibuku.
"Farhan ... !" Ibu bersuara. Suaranya terdengar parau dan menakutkan. Bahkan bercampur geraman.
"Ter-ternyata kau ... ah ... " Nafas ayah kian tersengal dan tampak kesakitan sekali. Beliau bahkan tidak bisa bicara dengan benar.
"Hihihi ... Aku dengar ibu tertawa cekikikan. Suaranya begitu menyeramkan seperti suara hantu yang sering kudengar di TV.
"Eeenggh ... " Ibu menggeram. "Kamu tentu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang. Pilihanmu ada dua. Kau ikut aku, atau kuputuskan jantungmu ini sekarang, dan kau akan ma-ti.
"Ak-aku ti-tidak ... Menyang ...kA." Ayah masih coba bicara, tapi suaranya seperti tercekat.
Aku kasihan sekali melihat ayah seperti itu. Ingin rasanya aku membantunya, namun apalah daya, aku hanya anak kecil, yang saat ini bahkan tak bisa walau hanya untuk bersuara sekalipun.
"Tolong jawab. Iya atau tidak." Ibu menekan kata-katanya. "Iya atau tidak." Katanya lagi dengan membentak.
"Ti-tidak. Sam-sampai matipun ak-aku tidak mau." Terdengar jawaban ayah tersendat-sendat.
Dalam hati aku bingung. Apa maksudnya semua ini? Iya atau tidak untuk apa? Kemana ayah harus mengikuti ibu? Kenapa ayah tidak bilang iya saja asalkan ia tidak lagi kesakitan seperti itu?
"Pikirkan sekali lagi. Apa kamu rela meninggalkan anak-anak kita?" Kudengar ibu membujuk ayah.
"Ti-tidak." Ayah menggeleng lemah. "Lebih baik aku mati jika harus mengikuti wanita sesat seperti dirimu."
Ucapan ayah membuatku merinding. Tiba-tiba aku merasa takut sekali. Aku takut kehilangan ayah. Kenapa ayah harus memilih mati?
"Baik jika itu yang kau inginkan. Selamat jalan, Farhan. Kamu tahu? Aku tetap mencintaimu. Aku tidak akan pernah menikah lagi setelah ini. Andai saja kau mau mengikutiku, kita pasti akan hidup bahagia selamanya."
Setelah mengatakan itu, kulihat ibu mengeluarkan tangannya dari dalam sarung ayah, bersamaan dengan itu, tubuh ayahku mengejang dan menggeliat beberapa kali, hingga akhirnya terdiam.
"Ayaaah ... !" Aku ingin berteriak, tapi bibirku benar-benar terkunci. Apa yang terjadi pada ayahku? Tak terasa airmata mengalir dari mataku. Aku menangisi ayah. Apakah ayah benar-benar meninggal?
Setelah beberapa saat, ibu berpaling menatapku. Dalam sepersekian detik, penampilannya tiba-tiba berubah. Rambutnya tergelung kembali. Pakaiannya normal. Kemben putih itu lenyap entah kemana.
Ibu mendekatiku dengan tatapan sendu. Wajahnya semakin dekat di wajahku, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Perlahan kemudian, ibu meniup wajahku. Angin yang keluar dari mulutnya terasa begitu sejuk, membuatku tiba-tiba terlena, dan akhirnya terlelap.
Aku terbangun saat mendengar suara riuh. Ketika kubuka mata, tampak banyak orang di kamarku. Aku melihat ibu menangis tersedu di dekat ayah yang sedang berbaring. Di sana juga ada kak Hani yang menangis meraung-raung sambil mengguncang-guncang tubuh ayah yang hanya diam membeku.
"Ayah kenapa ... ?" Ujarku sembari mendekati mereka.
"Ayah tidak mau bangun ... Di-dia me-meninggal huuu huuu ... " Kak Hani menjawab sambil terus meraung-raung. Kulihat ibu juga masih tersedu di sana.
"Hah ... !" Tiba-tiba tersentak ketika mengingat kejadian semalam.
"Ibuuu ....! Apa yang ibu lakukan semalam kepada ayah?!" Aku berteriak histeris sembari menunjuk ibu, membuat mata semua orang mengarah kepadaku.
"Maksudmu apa, Nak ... ?" Ibu bertanya sembari terisak.
"Ibu yang membunuh ayahku ... !" Tanpa ada rasa takut, kuserukan kalimat itu membuat orang-orang kian riuh dan mulai berbisik-bisik.
"Tina ... !" Apa yang kamu katakan? Ayah meninggal karena terjatuh di kamar mandi!" Kak Hani tiba-tiba menghardik, sedangkan ibu kini menangis semakin tersedu.
"Kenapa kau mengatakan itu, Nak? Apa maksudmu?" tanya ibu.
"Ta-tapi se-semalam ... " Aku mulai ragu. Jangan-jangan itu hanya mimpi buruk.
"Nak ... Jangan seperti itu. Ayahmu terjatuh di kamar mandi. Paman semalam membawa ayahmu ke puskesmas tapi nyawanya tidak bisa diselamatkan. Ibumu tidak mau membangunkanmu. Dia tak ingin mengganggu tidurmu." Paman Budi, yang kutahu adalah sepupu ibuku menimpali. Sambil mengusap kepalaku. "Yang sabar, Nak. Ikhlaskan ayahmu. Agar dia tenang di alam sana," lanjutnya.
Aku terpaku di tempat. Batinku berperang antara percaya kalau itu mimpi, dan yakin jika itu bukan mimpi. Kucoba mengingat kembali kejadian semalam. Bayangan ayah yang tersengal kesakitan dengan mata membeliak berputar-putar di kepalaku.
"Ayah ... "Aku mendesis pelan sembari mendekati ayah yang hanya bisa terbaring membisu. Teringat semalam kami sempat bercerita tentang kelinci berkaki dua. Hatiku bagai teriris, pilu. Tangan kecilku menyentuh wajahnya yang terasa dingin. Ayah benar-benar meninggal.
___
"Ayo, Nak. Peganglah tongkat ini. Ibu akan membawamu ke suatu tempat," ucap ibu dengan suara lembut.
Aku yang masih merasakan keanehan di tubuhku, hanya bisa menurut. Aku memegang tongkat itu, kemudian mulut ibu terlihat berkomat-kamit. Beberapa saat kemudian ibu melakukan gerakan aneh, dan yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar nalar.
Aku berada di atas ketinggian . Aku terbang ... ? Ini sangat aneh. Rasanya seperti mimpi. Aku benar-benar terbang, namun yang kulihat bukan seperti alam yang biasanya kulihat setiap hari. Ini terlihat aneh seolah aku berada di alam lain. Aku pernah melihat ibu melakukan ini sebelumnya saat aku masih kecil. Aku juga sering mendengar tentang orang yang bisa terbang bernama Tuselak atau Leak. Kini aku sendiri yang merasakannya. Apakah aku benar-benar akan menjadi seorang Leak?
"Kita sudah sampai," ujar ibu. Kami turun di suatu tempat yang sangat sunyi. Juga gelap. Di pinggir sungai dengan pohon-pohon yang tumbuh rimbun di samping kiri-kanannya.
Hening dan gelap. Beruntung bulan bersinar terang di atas sana menjadikan tempat ini tidak terlalu pekat. Aku bisa melihat peralatan ritual yang sepertinya sengaja di siapkan. Kendi tanah yang baru, kembang tujuh rupa, dan benang merah. Peralatan yang pernah kulihat saat ibu memandikanku di kamar mandi waktu itu.
"Ayo, Nak. Turunlah ke air itu. Setelah ini, kamu akan menjadi sempurna. Kamu juga akan cantik rupawan seperti kakakmu Hani," ucap ibu sembari tersenyum.
Kakiku perlahan kuturunkan pada air sungai. Ketika dinginnya air menyentuh telapak kakiku, tiba-tiba saja aku tersentak kaget. Kesadaranku mendadak kembali. 'Ah apa ini? Mengapa aku mau di ajak ke tempat ini?' batinku.
"Ayo cepat!" Ibu mendesak, sementara aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar bisa melarikan diri.
Sebuah ide tercetus di benakku. " Bu, perutku mulas, aku mau buang air besar," ucapku kemudian.
Ibu terlihat jengkel. "Lakukan saja di sana. Atau kamu bisa menahan dulu," tukasnya.
"Masa di sini, sih, Bu. Di sana saja, tunggu aku sebentar saja," pintaku lagi.
"Baiklah. Ayo cepat sana ... !" perintah ibu.
Aku bergegas menuju tempat yang terletak di hilir sungai. Rasa takut tak kuhiraukan, yang penting aku bisa terlepas dari ritual menyesatkan ini.
Sepertinya ibu tak curiga. Kulihat dia tampak membenahi alat-alat yang akan digunakan untuk ritual itu. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bergegas aku lari dari sana, secepat yang aku bisa.
"Tinaaa ... Dasar anak kurang ajaaar ... !"
Aku mendengar ibu mengumpat di belakang sana. Dia sekarang tentu sedang mengejarku. Dulu saat aku masih kecil, aku pernah mendengar cerita jika Leak itu larinya sangat cepat. Konon mereka berlari di atas udara. Tidak menyentuh tanah. Aku yang mengingat itu berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Sambil berlari aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Sementara ibu mungkin sudah dekat di belakangku.
Aku menghentikan langkah ketika melihat cekungan sungai yang cukup besar dan terlihat dalam. Tanpa berpikir lama, aku langsung mencebur dan menyelam di sana sambil terus berdoa agar ibu tak bisa menemukanku.
____


No comments:
Post a Comment