Addense

Monday, 27 July 2026

Di campakan suami





 "Aku nggak mau tubuhku jadi membesar kayak kamu," desis suamiku saat menolak sarapan buatanku, seketika menghancurkan sisa harga diriku pagi itu.

Oke, Mas, aku cabut semua sarapanmu setiap hari, sekalian aset yang kamu banggakan semua akan kuambil karena itu punyaku.



Doa dari hati yang digerus luka memang tidak pernah menguap sia-sia. Dayana kini tahu, bahwa ketulusan yang digencet dan dihina akhirnya mendapat pembelaan langsung dari Yang Mahakuasa.


Setelah unggahan pertamanya mengenai desain yang telah dijahit, kotak masuknya penuh. Puluhan pesan berdatangan, menyatakan kekaguman dan ketertarikan pada hasil karyanya. Bahkan beberapa pelanggan dengan antusias menandai akun bisnis miliknya. Pengikutnya bertambah, notifikasi tak berhenti berdenting.


Setiap kalimat yang ia baca menjadi bahan bakar semangat. Tidak ada lagi rasa kecil hati. Tak perlu lagi membuktikan apa pun pada orang-orang yang sudah lebih dulu menilainya tak berguna.


"Aku tidak akan izinkan siapa pun menertawaiku lagi," gumamnya lirih sambil membalas satu per satu pesan dengan tulus.


Namun, ada yang kurang. Luna yang biasanya membantu Dayana, kini susah dihubungi. Bahkan, Dayana sudah pergi ke rumah sakit tempat Luna bekerja, tetapi tak satu pun orang mengetahui ke mana ia pergi. Dayana merasa kehilangan semangat, karena Luna adalah ide utama dari desain-desain yang kini telah dijahit dan membuatnya dikenal di media sosial sebagai desainer baju-baju big size.


“Luna, kamu ke mana sih?” gumam Dayana saat terus menghubungi nomor Luna, tetapi nomornya tak aktif. Ia hanya bisa menjalani apa yang tersisa, karena memang sudah ada pesanan yang lebih dulu disetujui desainnya oleh para pelanggan. Proses penjahitan pun tetap berjalan dengan lancar.


Setelah satu minggu, Luna tiba-tiba muncul seperti biasa—tanpa mengabari Dayana sebelumnya. Perempuan yang sempat menghilang itu kini berdiri di depan pintu rumah Dayana, dengan senyum khasnya. Cantik, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Wah, kamu udah jadi desainer betulan sekarang. Keren!"


Dayana tidak bisa marah pada orang seperti Luna. Ia yang membantunya sangat banyak, penuh ide, dan meskipun menyebalkan kadang-kadang, dia selalu datang dengan hal-hal baik.


Selama dua bulan terakhir, Luna sudah seperti teman lama yang entah sejak kapan merasa memiliki bagian dalam hidup Dayana. Ide-idenya segar, nasihatnya kadang nyeleneh, tetapi efektif. Dan yang paling penting, ia tidak menghakimi Alif, tetapi mengajarkan cara melawan Alif. Dayana bisa bercerita panjang lebar tentang hidupnya, dan Luna akan mendengarkan tanpa memotong ucapannya.


“Menurut kamu gimana kalau aku buat merek sendiri?” tanya Dayana.


“Langsung daftarin aja ke HKI. Emang lama sih prosesnya, tapi itu investasi jangka panjang. Dua tahun ke depan, saat brand kamu makin gede, kamu udah siap secara hukum.”


Dayana manggut-manggut. Di negara ini, label di baju bisa jadi penentu harga. Bahkan baju bekas pun bisa dijual mahal asal punya merek, tak peduli merek itu dikenal atau tidak.


Akhirnya, Dayana memutuskan mendaftarkan brand-nya. Ia menciptakan nama yang personal dan mudah diingat: Daynku.


Lima belas pesanan pertama datang dari pelanggan bertubuh besar. Semua dress dikerjakan oleh Bu Rohaya dan tim dengan cekatan dan rapi. Tak butuh waktu lama, hasilnya menyebar ke mana-mana. Bahkan perempuan bertubuh kecil ikut memesan setelah Dayana memperluas desainnya untuk semua ukuran.


Kini, Dayana menghadapi masalah baru: kekurangan bahan. 


"Lun, aku butuh bahan lebih banyak. Yang variatif, yang kuat, dan tetap nyaman."


“Yuk ikut aku. Kita cari di Cipadu.”


Dayana sempat ragu. Selama ini ia hanya tahu tempat konvensional. Akan tetapi, ia percaya Luna tahu tempat-tempat tersembunyi yang penuh harta karun. Dan benar saja, tempat yang mereka kunjungi hari itu penuh dengan jenis kain yang belum pernah ia lihat.


Saat sedang memilah bahan, langkah Dayana terhenti. Di ujung lorong toko, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Laki-laki yang dulu ia khawatirkan jika terlambat pulang, kini justru bersandar mesra dengan wanita lain.


Berpelukan di muka umum. Cium pipi wanita lain langsung Dayana lihat. Dayana terpaku, darahnya mengalir dingin. Tangannya mengepal. Namun, sebelum ia melangkah, Luna meraih lengannya.


"Jangan Dayan. Kamu bisa balas dengan lebih elegan."


"Aku melahirkan anaknya, dan sekarang dia memperlakukanku seperti sampah!" isaknya tertahan.


“Kalau kamu datangi mereka sekarang, kamu hanya memberi dia alasan untuk menendangmu keluar. Tunggu. Buat dia menyesal sampai harus minta kembali.”


“Dengan tubuh seperti ini?” Dayana menunjuk dirinya sendiri.


Luna menatapnya. “Mulai sekarang kamu berhenti pakai KB suntik. Ganti pola makanmu. Aku bantu.”


Dan Dayana memutuskan, dia harus berubah. Bukan untuk Alif, bukan untuk dibandingkan. Namun, untuk dirinya sendiri.


Ia mulai mengubah kebiasaan. Makanan berlemak diganti dengan sayur dan buah. Nasi putih ia tinggalkan, beralih ke nasi merah yang membuatnya kenyang lebih lama. Rasanya tawar, tetapi ia mulai terbiasa. Lambat laun, tubuhnya terasa lebih ringan. Ia bisa membeli semua makanannya karena mempunyai penghasilan dari baju-baju yang terjual.


Menyusui tetap ia jalani. Kata Luna, kegiatan itu bisa membantu proses pemulihan bentuk tubuh. Dan memang benar, ada perubahan terhadap tubuh Dayana.


"Lebih semangat lagi untuk melangsingkan tubuh," ucap Luna yang berdiri di belakang Dayana.


"Bisakah selangsing kamu, Lun? Wajah kamu cantik, kenapa mau berteman denganku yang seperti gajah bengkak?" tanya Dayana.


"Jangan menghina dirimu sendiri." Luna memegang bahu Dayana. "Langsing itu sebuah pilihan."


Perkataan Luna membuat hati Dayana yakin, tubuhnya akan kembali sebelum ia menikah dengan Alif.


*


Sementara itu, Alif justru semakin sibuk mengejar kenikmatan duniawi. Sinta, perempuan muda dengan tubuh ramping, menjadi pelampiasan hasrat yang tak terkendali.


Mereka makan siang bersama, jalan berdua, dan bahkan Alif sering menginap diam-diam.


“Mas, lengannya kok kekar banget ya,” ucap Sinta genit, tangannya mengusap lengan Alif.


“Kalau kamu terus begitu, aku takut nggak bisa nahan,” goda Alif, separuh bercanda, separuh serius.


“Makanya nikahi aku. Biar kamu bebas.”


Alif tahu tidak bisa terus berbohong. Sinta harus tahu kenyataan sesungguhnya.


“Aku sudah menikah. Punya anak juga. Tapi–”


Sebelum ia selesai bicara, tamparan Sinta mendarat di wajahnya.


“Kamu pikir aku mainan? Udah punya keluarga masih berani main belakang!”


Alif panik. Ia meraih Sinta dan memeluknya, mencoba menenangkan.


“Aku serius. Aku akan ceraikan istriku. Tubuhnya sudah berubah, dia nggak bisa jaga bentuk badan. Kamu beda. Kamu tahu caranya merawat diri.”


Dengan cepat, Alif menunjukkan foto Dayana. Sinta membelalak, lalu tertawa kecil—entah mengejek, entah terkejut.


“Kalau kayak gitu sih aku ngerti kenapa kamu cari aku,” ucap Sinta, sinis tapi puas.


Lelaki itu berhasil membujuk kembali kekasihnya. Pelukan hangat kembali ia dapatkan. Ucapan manis kembali meluncur. Tapi hatinya tak tenang. Karena jauh di lubuk hati, ia tahu semua ini dibangun di atas kebohongan.


Bahkan ketika ia memeluk tubuh Sinta, yang ia rasakan bukan cinta, tapi candu. Dan candu, pada akhirnya, hanya akan membawa kehancuran.



No comments:

Post a Comment