Addense

Sunday, 19 July 2026

 


Diu-sir Karena Dianggap Mis-kin, Mereka Baru Menye-sal Saat Tahu Siapa Ayah Kan-dungku!

"Jangan per-gi dulu!" seru ipar ku saat aku meng-geng-gam koper. 


"Kalau kamu per-gi, siapa yang cuci piring? Siapa yang masak? Siapa yang nyuci baju? Kami nggak mau ngerjain semua itu!"


Aku tersenyum pa-hit, lalu me-na-tap mereka satu per satu.


"Jadi selama ini kalian mempertahankan ku bukan karena aku keluarga, tapi karena kalian ta-kut ke-hi-lang-an pem-ban-tu gra-tis?"

 


🌵 Bab 4 


“Ma, aku pulang!”


Suara perempuan yang lan-tang itu membuat seluruh penghuni ru-mah bergegas ke ruang tamu.


Bu Ratih langsung tersenyum lebar. “Akhirnya pulang juga, Nayla!”


Perempuan berambut sebahu dengan pakaian modis itu me-me-luk Ibunya e-rat, lalu bergantian menyapa Damar dan Citra.


Arunika yang baru ke-lu-ar dari dapur ikut tersenyum ramah. “Selamat datang, Mbak Nayla.”


Ta-tap-an Nayla berhenti di wa-jah Arunika selama beberapa detik sebelum bi-bir-nya me-leng-kung tipis.


“Oh … jadi ini me-nan-tu baru yang sering Mama ceritakan?”


Bu Ratih terkekeh kecil. “Iya. Lumayan ra-jin kalau di su-ruh.”


Kalimat itu membuat Arunika hanya bisa me-nun-duk. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Namun Nayla hanya mengangguk singkat tanpa mem-ba-las uluran tangan itu.


“Ka-marku sudah dibersihkan?”


Arunika menjawab pelan, “Sudah, Mbak.”


“Seprai diganti?”


“Sudah.”


“Lemarinya dilap?”


“Sudah juga.”


Nayla me-nye-rah-kan koper be-sar ke hadapan Arunika. “Kalau begitu bawa ini ke atas. Be-rat.”


Tanpa berpikir pan-jang, Arunika me-ngang-kat koper itu sendirian. Isinya ternyata jauh lebih be-rat dari yang terlihat. Tangannya sampai ber-ge-tar saat menai-ki tangga.


Dari bawah, Damar justru tertawa. “Hati-hati, Mbak Aru. Jangan sampai kopernya ja-tuh. Isinya ba-rang ma-hal.”


Belum satu jam berada di ru-mah, Nayla sudah mulai memberi pe-rin-tah. “Aru, tolong setrika baju ku yang di koper.”


“Aru, sepatu ku tolong di ber-sih kan.”


“Aru, aku mau kopi. Gulanya setengah saja.”


Arunika mengerjakan semuanya tanpa mem-ban-tah. Ia bahkan belum sempat duduk sejak pagi.


Ketika kopi sudah selesai dibuat, Nayla me-nye-sap sedikit lalu langsung me-nger-nyit. “Kemanisan.”


Arunika buru-buru mengambil gelas itu. “Maaf, Mbak.”


“Bikin lagi.”


“Yang ini bagaimana?”


“Bu-ang saja.”


Arunika terdiam. Kopi itu dibuat dari bi-ji yang baru di be-li kemarin menggunakan u-ang tabu-ngan-nya sendiri. Namun di depan Nayla, ia tidak punya hak untuk pro-tes.


Menjelang makan siang, Bu Ratih se-nga-ja memasak menu favorit Nayla. Tepatnya, Bu Ratih memerintahkan Arunika memasak semuanya.


Ayam bakar. Sayur asem. Udang balado. Tempe goreng. Empat jenis sambal.


Setelah hampir tiga jam berdiri di dapur, Arunika akhirnya meletakkan semua hidangan di meja.


“Silakan makan.”


Nayla mengambil sepo-tong ayam, menci-cipinya sebentar, lalu meletakkan kembali. “Keasinan.”


Padahal yang lain belum mencoba.


Bu Ratih langsung me-na-tap Arunika. “Kamu tidak pernah belajar, ya?”


“Saya sudah men-ci-cipi tadi, Ma. Rasanya pas.”


“Berani mem-ban-tah?”


“Tidak, Ma.”


Nayla menyandarkan tu-buh nya di kursi. “Kalau aku ker-ja di kantor dulu, bikin ke-sa-lah-an begini pasti sudah di pe-cat.”


Citra terkekeh. “Untung Mbak Aru ker-janya di ru-mah.”


Semua tertawa kecil. Kecuali Arunika. Ia memilih kembali ke dapur sambil mena-han se-sak di da-da.


Sore harinya, hujan turun de-ras.


Arunika baru saja selesai mengangkat jemuran ketika Nayla memanggil dari lantai atas.


“Aru!”


“Iya, Mbak?”


“Tolong piji-tin ka-kiku.”


Arunika sempat mengira dirinya sa-lah dengar. “Dipi-jit?”


“Iya. Aku ca-pek habis perjalanan jauh.”


Bu Ratih yang kebetulan lewat langsung me-nim-pali, “Kasi-han Kakak mu. Cepat pi-jit.”


Arunika pun du-duk di lantai, me-mi-jat ka-ki Nayla hampir setengah jam. Tak sekali pun terdengar ucapan terima kasih.


Sebaliknya, Nayla justru berkata, “Te-na-ga-nya ku-rang ku-at. Belajar lagi.”


Malam hari, Narendra pulang membawa sekotak martabak.


“Buat semua.”


Wa-jah Arunika sedikit berbinar. Sudah lama ia tidak me-nik-ma-ti makanan kesukaannya.


Namun sebelum ia mengambil se-po-tong, Bu Ratih lebih dulu membagikannya kepada Nayla, Damar, Citra, dan dirinya sendiri.


Kotak itu pun ko-song.


Arunika hanya memandangi kardus be-kas yang ter-si-sa di meja.


Narendra menoleh. “Kamu belum ambil?”


“Sudah ha-bis, Mas.”


“Oh.”


Hanya satu kata itu. Lalu ia melanjutkan makannya tanpa berpikir untuk membagi miliknya.


Arunika tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip usaha me-nyem-bu-nyi-kan ke-ce-wa.


Larut ma-lam, ketika semua orang sudah masuk ka-mar, Nayla tiba-tiba turun membawa kantong pakaian.


“Aru.”


“Iya, Mbak?”


“Besok aku ada reuni. Gaun ku ku-sut semua. Tolong cuci, setrika, lalu ja-hitkan kan-cing yang le-pas malam ini juga.”


Arunika melihat jam. Hampir pukul dua belas.


“Sekarang, Mbak?”


“Iya. Kenapa?”


“Aku belum ti-dur sejak selesai beres-beres dapur.”


Nayla me-na-tap ta-jam. “Jadi kamu me-no-lak?”


Suasana men-da-dak sunyi.


Bu Ratih yang mendengar percakapan itu ke-lu-ar dari ka-mar.


“Ada apa, Nay?”


“Mama, me-nan-tu ke-sa-yang-an Mama ini mulai pilih-pilih ker-jaan.”


Bu Ratih langsung memandang Arunika dengan so-rot ma-ta di:ngin. “Ker-jakan sekarang.”


Arunika meng-gi-git bi-bir ba-wah-nya. Tu-buhnya sudah sangat le-lah. Pung-gung-nya nye-ri. Kepa-lanya berde-nyut. Namun ia tetap mengambil gaun itu dan berjalan ke ruang cu-ci.


Saat melewati ruang keluarga, tanpa sengaja ia mendengar Nayla ber-bi-sik pe-lan kepada Bu Ratih.


“Ma, menurutku Aru terlalu di man-ja. Besok-besok su-ruh saja dia ti-dur di ka-mar belakang dekat gu-dang. Sa-yang kalau ka-mar utama dipakai orang yang cuma num-pang.”


Bu Ratih tidak mem-ban-tah. 


“Ide yang bagus. Besok kita bicarakan dengan Narendra.”


Langkah Arunika terhenti. Wa-jah-nya me-mu-cat. Gaun di tangannya nya-ris terja-tuh.


Dengan na-pas mem-bu-ru, ia ber-bi-sik li-rih pada dirinya sendiri, “Kalau mereka benar-benar me-ngu-sir ku dari ka-mar ini … apakah setelah itu mereka juga akan mencoba me-ngu-sir ku dari kehi-dupan Narendra?”


Ia bu-ru-bu-ru melangkah ke ruang cuci sebelum air ma-tanya terlihat.


🌵


Keesokan paginya, Arunika belum selesai menyiapkan sarapan ketika Nayla sudah masuk ke dapur.


“Aru, gaun ku sudah beres?”


“Sudah, Mbak. Sudah dicuci, disetrika, dan kan-cing nya juga sudah dija-hit.”


Nayla memeriksa gaun itu sekilas. “Hmm … lipatannya ku-rang rapi.”


“Kalau mau, aku setrika lagi.”


“Sudahlah. Biar kali ini ku biarkan.”


Nada bicaranya terdengar seolah sedang memberi be-las kasi-han.


Tak lama kemudian Bu Ratih masuk.


“Arunika, setelah sarapan nanti ber-sihkan ka-mar Nayla. Dia tidak suka ada de-bu sedikit pun.”


“Baik, Ma.”


“Lalu cuci gorden ka-marnya.”


Arunika menoleh pelan. “Gordennya juga?”


“Iya. Memangnya kenapa?”


“Tidak apa-apa, Ma.” Ia kembali menunduk.


Saat sedang mem-ber-sihkan ka-mar Nayla, Arunika menemukan beberapa gelas be-kas kopi, kotak makanan, dan pakai-an yang sengaja di lem-par begitu saja ke lantai. Ia memu-ngut semuanya tanpa menge-luh.


Ketika sedang menyapu bawah tempat ti-dur, Nayla masuk sambil memainkan ponsel.


“Eh, sekalian poles tas dan sepatuku ya.”


Arunika me-ngang-kat ke-pa-la. “Sekarang juga?”


“Iya.”


“Tapi aku masih membersihkan ka-mar.”


“Ker-jakan dua-duanya.”


Setelah mengatakan itu, Nayla ke-lu-ar lagi tanpa menunggu jawaban.


®


Menjelang siang, Narendra pulang lebih cepat.


Melihat istrinya me-ngang-kat ember berisi air dan deterjen ke lantai dua, ia sempat menghampiri.


“Be-rat, Ru?”


“Lumayan.”


“Minta bantuan Damar saja.”


Sebelum Arunika menjawab, suara Bu Ratih terdengar dari ruang tamu.


“Ngapain minta bantuan laki-laki? Kerjaan begitu saja masa tidak sang-gup?”


Narendra langsung menghentikan langkahnya. “Iya juga sih.” Lalu ia berbalik me-ning-gal-kan Arunika sendirian.


Perempuan itu hanya memandang pung-gung suaminya dengan tata-pan ko-song.


Dalam ha-ti ia bertanya, kapan terakhir kali Narendra benar-benar mem-be-la nya? Ia tak mampu mengingatnya.


®


Sore hari, Nayla hendak menghadiri reuni. Sebelum berangkat, ia memanggil Arunika.


“Aru.”


“Iya, Mbak?”


“Kalau aku pulang nanti ma-lam, bikinkan mie rebus pakai telur setengah matang, ya.”


“Baik.”


“Oh ya, jangan lupa siapkan air ha-ngat buat ren-dam ka-ki.”


“Baik.”


“Terus piji-tin pun-dak ku sekitar lima belas menit.”


Arunika tersenyum tipis. “Iya, Mbak.”


Dari kejauhan, Citra ber-bi-sik pada Damar sambil tertawa. “Enak ya punya Mbak Aru. Tinggal su-ruh ini itu.”


Damar ikut terkekeh. “Makanya jangan sampai dia ka-bur.”


Ucapan itu terdengar jelas oleh Arunika. Namun ia memilih diam.


®


Ma-lam menjelang.


Nayla pulang hampir pukul sebelas. Begitu masuk ru-mah, ia langsung meletakkan tas di sofa.


“Aru!”


Arunika yang sedang melipat pakaian segera datang.


“Iya, Mbak?”


“Mana mie rebusku?”


“Sudah siap.”


“Air ha-ngat?”


“Sudah.”


“Bagus.”


Beberapa menit kemudian, Nayla menye-ruput mie itu dan langsung menger-nyit.


“Telurnya terlalu matang ini.”


“Maaf, Mbak. Tadi airnya mendi-dih terlalu cepat.”


“Kalau begitu bikin lagi.”


Arunika me-na-tap jam dinding. Tu-buhnya sudah sangat le-lah. Namun ia tetap kembali ke dapur.


Saat sedang mere-bus mie kedua, listrik ru-mah tiba-tiba pa-dam. Suasana ge-lap.


Damar berseru ke-sal dari ruang tamu. “Lho, kok ma-ti?”


Bu Ratih langsung berkata tanpa berpikir panjang, “Pasti gara-gara Arunika. Dari tadi dia pakai banyak alat lis-trik.”


Padahal setrika, mesin cuci, dan dispenser sudah dima-tikan sejak sore.


Arunika mencoba menjelaskan. “Ma, mungkin lis-trik kompleks memang sedang pa-dam.”


“Tetap saja kamu yang cero-boh.”


Beberapa menit kemudian lis-trik menya-la kembali. Ternyata seluruh ru-mah tetangga juga sempat pa-dam. Namun tak seorang pun meminta maaf kepadanya. Seolah me-nya-lah-kan Arunika adalah hal yang paling wajar di ru-mah itu.


®


Menjelang tengah ma-lam, Arunika akhirnya selesai mencuci panci terakhir.


Ia berjalan perlahan menuju ka-mar. Saat hendak mem-bu-ka pintu, terdengar suara Bu Ratih memanggil dari ruang keluarga.


“Besok pagi jangan lupa bangun lebih awal.”


“Ada acara apa, Ma?”


“Nayla mau belanja. Kamu ikut membawa semua barangnya.”


Arunika mengangguk pelan. “Baik.”


Nayla yang sedang menge-cat kuku ikut menimpali sambil tersenyum tipis, “Dan jangan sampai ja-lan nya lam-bat, ya. Aku tidak suka menunggu.”


Arunika mena-rik na-pas pan-jang. Ia sudah tak tahu lagi harus menjawab apa.


Sesaat sebelum masuk ke ka-mar, ia menoleh kepada Narendra yang duduk diam di sofa.


Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia bertanya, “Mas … kalau suatu hari aku benar-benar ja-tuh sa-kit dan tidak bisa me-la-ya-ni semua orang di ru-mah ini, apakah Mas akan tetap memilih diam?”


Bersambung .

No comments:

Post a Comment