Addense

Sunday, 19 July 2026

Pelakor

 Capek punya suami NPD



“Apa-apaan ini, Geni?!” ujar Umi yang hampir melemparkan koleksi vas mahalnya ke dinding. “Kamu mau mer u sak suasana berkabung abimu dengan membawa perempuan asing ini, hah?!”


“Siapa dia, Mas?” Adara menggoyang-goyangkan lengan Geni gemetaran. “Kamu kenal?”


Yang ditanya tercenung beberapa saat. Kedua alisnya bertaut, membuat ekspresinya kak u dan di n gin.


“Jelas suamimu kenal!” b a l a s Umi cepat. “Kalau nggak kenal bagaimana bisa h a mil? Lihat p e rutnya, Dara!”


Adara tidak b o doh. Jawabannya terlintas di benak.


“Saya nggak kenal perempuan itu, Dara. Saya juga nggak membawanya ke sini.”


“Terus kenapa dia di sini? Apa maksud Umi bilang begitu, Mas?”


Geni menoleh, ma t any a m erah. “YA MANA SAYA TAHU!”


“Aku Tatiana, Mas. Kita bahkan sering ketemu, masa kamu nggak ingat sama sekali?”


Wanita h a mil itu melangkah maju, mendekati Geni sambil m e r a b a p e rut buncitnya.


Adara menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia membayangkan Geni memiliki hub un gan g e lap sampai mendatangkan wanita asing di waktu riskan.


“Berhenti, jangan mendekat!” ancam Geni cepat. “Kalau kamu mau buat drama, sepertinya kamu salah tempat. Keluarga saya sedang berduka—“


“Mas ....” Tatiana memotong seraya berdiri tepat di hadapan Geni. Dengan santainya, ia meraih tangan Geni untuk m e n y e n t u h pe ru tnya. “Aku h a mil. Ini ... an ak kita.”


Detik itu juga Geni mel o tot kaget. Ia menepis kuat-kuat dan mundur sesegera mungkin.


“Astaghfirullah, innanillahi … kamu berzi n a sama wanita ini, Mas?” Adara terisak. “Kamu mengha m ilinya?”


“Nggak ... nggak, ini nggak mungkin.” Geni menggeleng tak habis pikir. “Saya nggak pernah m e n y e n t u h siapa pun selain Adara. Kamu penipu.”


“Sudahlah, Gen.”


Umi bangkit dari duduk setelah meletakkan vas ke meja. Ia melangkah mendekati sang putra dengan tatapan taj a m, penuh kebencian dan rasa ji j ik.


“Buktinya sudah di depan mata. Kamu nggak perlu pakai pura-pura lagi. Lebih baik kamu urus dia sekarang. Umi masih berduka, Gen. Abi udah pergi, dipanggil Allah. Haruskah kamu menambah pikiran sekarang? Kamu z i na sama wanita ini dan buat aib keluarga? Naudzubillah ….”


“Mi, ini pasti ada yang salah. Saya berani bers um pah—“


Tepat ketika tangan Umi terangkat, ujaran Geni terhenti begitu saja.


“Sumpah?” kekeh Umi sambil lalu. “Yang ada omong kosong.”


Pintu diba n ting dari luar. Mengejutkan banyak orang. Geni bergegas menyusul, mengabaikan Adara yang terpaku bingung. Orang paling penting baginya adalah Umi.


Dari ruang keluarga, teras, ruang tamu dipenuhi banyak pelayat. Semua itu seolah tak ada habis-habisnya. Sayangnya tatapan yang ditujukan pada Geni tak berkesan prihatin atau turut berduka cita.


Geni menelan ludah, menangkap tatapan aneh itu. Alih-alih menanggapinya, ia memilih mencari keberadaan Umi.


“Mas Geni!”


Itu suara Tatiana. Alih-alih Adara yang mengekor, justru Tatiana yang bergerak cepat. Gerakannya cukup gesit untuk ukuran wanita h am il.


“Mas Geni, tunggu! Aku belum selesai bicara!”


Kemunculannya di tengah pelayat pun sudah menjadi sorotan, lalu sekarang Tatiana seakan menambah a p i di b a ra menyala.


Geni menyapu pandangan, merasakan dirinya tengah jadi perhatian semua orang. Tatiana menarik lengannya hingga mereka berdua saling berhadapan.


“Jauhkan tanganmu dari lengan saya!” j e rit Geni, menyi ngk irkan Tatiana sekuat mungkin. “Saya nggak kenal kamu siapa. Jadi, jangan berkata macam-macam!”


“Bagaimana bisa kamu nggak kenal aku, Mas? Aku aja lagi mengandung an a kmu. Aku ... ibu dari a na kmu, Mas. Aku Tatiana Ekawati. Perempuan yang paling kamu cintai. Itu yang selalu kamu bilang tiap malam, ‘kan? Setiap kita melakukannya.”


Dan bisik-bisikan itu terdengar. Menyentil ruang dengar Geni. Fokusnya terp e cah, emosinya memblu d ak.


“Ya Tuhan, jadi Geni sel in gkuh dari Adara? Geni berzin a?”


“Mas Hasan baru aja diku b ur, kok bisa Geni melakukan ini semua? Nggak ada m a lu-ma lunya.”


“Pantesan aja Maesa ba n ting pintu, ternyata punya cucu ha ra m.”


“Kasihan Adara, dia pasti kaget.”


“Coba aja kalau Adara bisa kasih a n ak, Geni mungkin nggak akan seli ngk uh.”


“Kenapa orang selin g kuh selalu memilih di bawah level pasangannya, sih? Udah aurat ke mana-mana, bajunya aja nerawang gitu.”


“Jelaslah, namanya juga selin gk uhan. Kebanyakan mur a han. Nggak butuh hijab, dosanya dibiarkan bertebaran dan diliat orang.”


“Ikut saya.” Kali ini Geni yang menarik tangan Tatiana yang terbilang k u r u s.


K a m a r tamu menjadi tujuan Geni. Ia mengajak Tatiana masuk. “Kamu pikir saya mudah percaya sama omongan itu?” katanya setelah mengembuskan n a p a s panjang. “Saya nggak pernah ketemu kamu, apalagi menye n tuh.”


“Aku nggak mengarang, a na k di ka nd ungan ini a na kmu, Mas. A na k kita. Tahun baru kemarin, kita ketemu di beach club Bali, kamu yang bayarin orderanku. Terus kita lanjut ke ho te l dan—“


“S in ti ng!”


“Mas Geni, please. Dengerin aku dulu.”


Tatiana mencoba meraih Geni kesekian kali. Sayangnya belum ada satupun yang berhasil. Geni kembali membuat jarak.


“Urusan kita belum selesai,” tandas Geni. “Tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Jangan memperlihatkan diri di depan kerabat saya, apalagi jamaah Abi. Saya nggak segan-segan kasih pelajaran, nggak peduli laki-laki atau perempuan.”


“Tahun baru kemarin kamu nggak di r u m a h.” Adara berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan ia berada di sana. “Aku tau kamu ke Bali.”


Geni menelan l u dah. Kepalanya menggeleng, jelas menolak setuju dugaan-dugaan Adara tentangnya.


“Adara, dengar ....”


“Kamu memang ke Bali sama teman-temanmu, Mas. Dan ... dari sore sampai besoknya jam 1 siang, kamu nggak ada kabar.”


“Ya Allah, itu nggak seperti yang kamu bayangkan. Saya punya alasan.”


Adara enggan mendengar lebih. Begitu tangannya kembali diraih Geni dengan lembut, ia menepisnya kuat-kuat.


“Nggak usah pe ga ng-peg a ng aku, Mas.” Adara bergidik j ij ik. “Ta n gan itu … ta n gan itu udah kamu gunakan buat se n tuh wanita itu. Aku …. aku nggak bisa.”


“Dara, kamu tau saya. Lima tahun pernikahan kita ....”


Adara mendongak, menatap Geni yang tingginya berjarak 15 cm darinya. Matanya berka c a-k a ca dengan kepala menggeleng tak percaya. Tak lama air m a ta turun dari sudut kelopak.


“Aku tau, kita udah nikah lima tahun, dan aku belum bisa kasih keturunan,” b a l a s Adara parau. “Tapi apa harus dengan cara ini, Mas? Berz in a sampai mengh a m ili orang lain?”


Geni m e l o t o t, kesabarannya hampir habis. “Saya akan jelaskan nanti, saya perlu meluruskan semuanya ke Umi.”


Perlahan Adara menarik n a p a s, lalu menyeka air m a ta di sudut kelopak menggunakan sapu tangan. Tatapannya bertumbuk dengan Tatiana, wanita h a mil itu mendekat dan mengangguk penuh arti.


Tepat ketika keduanya berpapasan hingga bahu mereka hampir bertumbuk, Adara berbisik, “Awal yang nggak begitu buruk. Aktingmu ... boleh juga.”


Kedua sudut bi b ir Adara terangkat, membentuk lengkungan ke atas. Ia tersenyum samar sampai melebar penuh seolah kemenangan tengah menantinya.


“Lanjutkan seperti rencana di awal, Tatiana. Pastikan kamu lebih mengg a tal dan menghayati drama ini,” ujar Adara pelan serupa bisikan.


***


“Aku mau c e rai, Mas.”


Akhirnya kalimat itu bisa Adara utarakan setelah lima tahun pernikahannya dengan Geni. Tepat suaminya pulang, Adara memberanikan diri.


Baru tiga langkah setelah mengakhiri tatapan, Geni berhenti. Tubuhnya yang kelewat lelah berputar ke sumber suara. Lurus menuju tempat Adara duduk yang kala itu menyilangkan kaki, tampak tenang.


“Kamu m ab uk?” b a l a s Geni sembari mendekat.


“Sesuai perjanjian pra nikah, begitu ada yang selin g kuh dan punya h u b u n g a n lain, pernikahan nggak bisa dilanjutkan.”


Adara melemparkan dokumen yang telah ia siapkan ke meja yang langsung Geni ketahui isinya. Lembaran penting tentang kesepakatan mereka sebelum menikah. Geni tak akan lupa, sebab ia sendiri yang mencetuskan ide itu.


Jika salah satu pihak terbukti melakukan p e r s e l i n g k u h a n dan atau perzin a han, maka pihak yang dirugikan berhak mengakhiri pernikahan tanpa syarat.


Di salah satu lembar dalam dokumen itu, jelas tertulis poin yang dimaksud Adara.


Rahang Geni meng e ras.


“Seli ng k uh?” katanya. “Kamu mau pakai ini mela w an saya?”


“Aku bicara sesuai kesepakatan yang kita buat bersama.”


Geni terkekeh. “Siapa yang kamu maksud? Apa kamu benar-benar bisa mengkh i an ati saya?”


Kening Adara berkerut-kerut. Dari jutaan laki-laki di dunia, mengapa Adara harus melabuhkan sisa hidup pada Geni?


Setelah akad hingga detik berlanjut, Adara menyesali keputusannya sembari mencari alasan, mengapa ia terus bertahan dengan laki-laki paling egois ini.


“Ya. Aku memang nggak bisa mengkhia n ati kamu,” Adara mengakui itu.


Adara bisa saja mencari kebahagiaan di luar r u m a h. Jatuh cinta seperti orang kebanyakan yang memilih jalur pintas alih-alih minta berpisah.


Sayangnya Adara tak diberi ruang. Geni selalu mengawasinya, memberikan kegiatan tak berguna pada Adara di r u m a h hingga rasa bosan menumpuk dan menjulang tak karuan.


“Itu kamu sadar.” Geni tersenyum congkak. “Hidupmu seluruhnya di-provide u a ng saya. Sekali kamu be r ani macam-macam, saya nggak akan melepaskan kamu sampai kapan pun.”


Dimana-mana orang akan menga n ca m perpisahan, tapi Geni berbeda. Geni mampu memberi belenggu pada Adara tak berkesudahan.


Ra h ang Adara meng er as. Ia lalu bangkit dan berdiri di hadapan Geni. Aura Geni kelewat mendominasi, sekalipun masalah besar ada di depan mata.


“Intinya aku nggak bisa melanjutkan pernikahan ini,” tandas Adara. “Semua udah jelas. Kamu berz in a, kamu punya h u b u n g a n sama perempuan tadi yang bernama Tatiana. Dan kamu bakal punya a n ak dari dia.”


“Tatiana?” Geni menggersah panjang.


“Keluarga besar kamu tau, Mas. Jamaah dan para pelayat Abi juga lihat sendiri gimana tadi kalian–”


“Nggak usah bawa-bawa Abi!” teriak Geni. “Saya baru pulang, saya capek! Jangan menambah masalah!”


Adara memejamkan mata sejenak, merasakan cipratan air liur menimpa wajahnya yang berasal dari m u lut Geni. Ini bukan sekali dua kali terjadi, meski begitu Adara masih belum membiasakan diri.


Geni berpaling tak lama kemudian. Laki-laki itu berderap menuju area dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air.


“Aku akan urus perce r aian kita,” ujarnya. “Dengan persetujuan atau nggaknya dari kamu, aku tetap minta ce r ai.”


No comments:

Post a Comment