"Masih kepikiran sesuatu?" tanya pria yang duduk menemaniku di teras kamar karena tidak bisa tidur.
Aku menunduk. Entah kenapa, kali ini aku tidak bisa mengelak lagi.
"Aneh aja."
"Apa?"
Aku mengusap ujung gelas. "Nikah di tempat orang," jawabku pelan.
Mas Respati tidak menyela.
"Dulu ... saya nggak pernah kepikiran bakal nikah di rumah suami." Aku tersenyum kecil. "Kalau dipikir-pikir ... mungkin semua anak perempuan pernah membayangkan menikah di rumahnya sendiri, atau pun di gedung. Dirayakan keluarganya, diselametin dan dihadiri keluarga besar."
Aku berhenti sejenak. "Ada ayah, ada ibu, saudara deket, saudara jauh, tetangga.” Suaraku perlahan mengecil. "Walaupun saya nggak pernah benar-benar merencanakan pernikahan saya akan seperti apa, tapi ... menikah di rumah calon suami, bukan di rumah sendiri itu rasanya aneh."
Mataku mulai panas. "Memang ada istilah unduh mantu ... tapi ini ... beda ..."
Aku menarik napas panjang dan menatapnya. "Bukan berarti saya nggak bersyukur, Mas. Saya bersyukur sekali dirayakan keluarga Mas. Ayah dan Ibu baik ... baik sekali sama saya."
Suaraku mulai bergetar. "Tapi tetap aja ... rasanya ada yang hilang."
Hening.
Mas Respati tidak langsung menjawab. Dia hanya mendengarkan. Lalu perlahan tangannya bergerak dan menggenggam tanganku. Hangat.
"Aku paham."
Aku kembali menatapnya.
"Perasaan itu wajar. Karena biasanya, pria yang numpang nikah di keluarga wanita, tetapi kamu mendapat bagian sebaliknya. Apalagi ... orang tua nggak mendampingi. Pasti berat sekali buatmu."
Aku mengangguk cepat dan air mataku jatuh saat itu. “Iya. Seperti itu ....”
Dia mengusap pelan punggung tanganku.
"Bukan saya mengharap kehadiran keluarga itu ... enggak ... sama sekali enggak. Tapi ... kenapa saya jadi gadis yang kurang beruntung dalam urusan keluarga?"
Aku semakin menunduk dan air mataku jatuh semakin deras.
"Nggak apa ya, kurang beruntung dalam keluarga. Nanti, kita usahakan hal itu tidak terjadi di keluarga kita. Anak-anak kita nggak akan merasakan sakit yang pernah ibunya rasakan. Hm?"
Wajahku terangkat menatapnya. Suara Mas Respati terdengar sangat lembut. Aku mengusap air mata dengan cepat dan mengangguk.
“Jangan sampai bikin anak saya terluka ya, Mas? Jangan beda-bedakan anak-anak kita nanti. Mau Adik, mau kakak, mau anak tengah, tolong ... perlakukan mereka dengan adil,” pintaku di antara isakan yang tidak kunjung berhenti.
Mas Respati mengangguk. "Iya. Kita usahakan keluarga yang bahagia itu ya?"
Aku tersenyum dan mengangguk cepat. Dia mengusap kepalaku pelan dan menepuk tanganku.
“Maaf ya, Mas,” kataku malu.
"Kenapa minta maaf?"
"Saya nangis."
Dia tertawa kecil.
"Nggak apa. Asal nggak kabur ninggalin aku aja."
Aku jadi tertawa di sela tangis. Kupukul tangannya pelan sambil menyeka sisa air mata.
Beberapa saat kemudian, dia kembali bicara.
"Besok ... kita ‘kan Cuma akad nikah saja dan syukuran kecil-kecilan. Kalau nanti kita bikin resepsinya di rumah Ibuk ... mau nggak?"
Aku menoleh cepat. “Maksud, Mas?”
Dia tersenyum tenang "Kita bikin resepsi di rumah Ibuk. Undang tetangga desa. Kita rayakan pernikahan kita di sana. Biar ... Ibuk ikut seneng rumahnya dipakai anaknya nikah."
Aku membeku. Tanganku benar-benar gemetar. Aku tidak bisa berkata apa-apa, dadaku mendadak sesak. Karena... aku sendiri tidak pernah memikirkan hal itu.
Bahkan tidak terlintas sedikit pun. Namun laki-laki di depanku justru memikirkannya.

No comments:
Post a Comment