Addense

Monday, 20 July 2026

Apartemen

 IBU MERTUAKU DATANG MEMBAWA KOPER UNTUK MEREBUT APARTEMENKU, TAPI DIA LUPA ADA KAMERA TERSEMBUNYI YANG MASIH AKTIF MEREKAM SEMUA AKSI BUSUKNYA! 



"Sudah cukup, Karin. Serahkan kunci apartemen ini sekarang."


"Kamu harus belajar bahwa dalam pernikahan, istri tidak boleh membangkang pada suami!"


Rendra menengadahkan tangannya di tengah dapur.


Saat itu jam 07:10 pagi di sebuah apartemen di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.


Dari ruang tamu, Ibu Lastri, ibu mertuaku, berdiri bersedekap dada sambil tersenyum puas.


Aku meletakkan gantungan kunci di atas meja makan.


"Saat kamu pulang nanti, mungkin kamu yang harus memohon izin untuk masuk ke sini," ucapku tenang.


Rendra tertawa meremehkan.


Dia melangkah keluar, yakin bahwa malam nanti aku akan menangis di lobi menunggu belas kasihannya.


Rendra melupakan satu fakta hukum yang sangat krusial.


Apartemen ini bukan milik kami berdua.


Aku membelinya 4 tahun sebelum mengenalnya.


Aku bekerja keras siang dan malam sebagai penerjemah dokumen hukum untuk membayar uang mukanya.


Setiap cicilan, setiap lembar tagihan, dan setiap perabotan di sini adalah hasil keringatku sendiri.


Pada 3 tahun pertama pernikahan kami, Rendra adalah suami yang sangat manis.


Namun, dalam 1 bulan terakhir, segalanya berubah drastis.


Dia mulai menyembunyikan ponselnya, pulang larut malam, dan selalu membela ibunya tanpa peduli duduk perkaranya.


Lalu, keanehan demi keanehan mulai terjadi di apartemenku.


Gelas kopi favoritku sering basah di pagi hari.


Lemari pakaianku sering bergeser posisinya.


Aroma parfum wanita paruh baya yang menyengat sering tercium di kamar mandi.


Beberapa lembar uang ratusan ribu di dompetku hilang, begitu pula dengan sepasang anting emas peninggalan nenekku.


Hari Selasa yang lalu, aku terpaksa pulang cepat karena ponselku tertinggal.


Di sana, aku menemukan Ibu Lastri sedang duduk santai menyeruput teh menggunakan gelasku.


Di atas meja, berserakan sertifikat apartemen, bukti bayar PBB, dan laporan rekening koranku.


"Sedang apa Ibu memeriksa dokumen pribadi saya?" tanyaku menahan diri.


"Rendra itu anakku. Aku berhak tahu bagaimana masa depan finansialnya," jawabnya tanpa rasa bersalah.


"Bagaimana Ibu bisa masuk ke sini?"


"Rendra yang memberikan kuncinya. Ini kan rumah anakku juga."


Malam itu, aku menuntut Rendra untuk meminta kembali kunci tersebut.


Rendra menolak mentah-mentah.


"Ibu datang ke sini untuk membantumu karena kamu selalu sibuk bekerja," dalih Rendra.


"Aku kehilangan uang Rp 2.000.000 dan anting peninggalan nenekku, Rendra!"


"Kamu pasti salah taruh. Belakangan ini kamu sering berhalusinasi karena stres kerja."


Tiba-tiba Ibu Lastri keluar dari lorong kamar, membawa gantungan baju berisi daster miliknya, lalu menggantungnya di lemariku.


"Mulai hari ini, Ibu akan menaruh beberapa barang di sini," ucap Rendra dengan nada final. "Jangan kekanak-kanakan."


Saat itulah aku sadar.


Mereka tidak sedang berkunjung.


Mereka sedang menjajah rumahku perlahan-lahan sambil membuatku meragukan kewarasanku sendiri.


Keesokan harinya, aku membeli sebuah kamera pengawas berbentuk adaptor charger ponsel yang sangat kecil.


Aku memasangnya di sudut ruang tengah.


Rekaman hari pertama langsung membuatku mual.


Ibu Lastri masuk pada jam 10:04 pagi.


Dia mencoba pakaian-pakaian mahalku di depan cermin.


Dia mengambil anting emas dari laci rias, memasukkannya ke kantong, lalu memotret sertifikat apartemenku dengan ponselnya.


Dia kemudian membuka sebuah buku catatan kecil dan menelepon seseorang.


"Tenang saja, sebentar lagi tempat ini akan menjadi milik kita."


"Rendra sudah tahu cara memaksa anak itu untuk tanda tangan."


Napas sepintas tertahan saat aku melihat halaman buku catatan yang dia tunjukkan ke arah kamera saat berbicara lewat panggilan video.


Di buku itu, tertulis kata "Perceraian".


Di bawahnya ada nama seorang oknum notaris, rincian utang sebesar Rp 680.000.000, 

No comments:

Post a Comment