Addense

Monday, 27 July 2026

Janji dalam liontin



*Janji Dalam Liontin* (2)


Malam datang dengan cepat.

Wahyu pulang sedikit terlambat hari ini.


"Baru aja masuk kerja, udah pulang telat."

"Di kantor ngapain aja,sih mereka ? "Gerutu Winda.


Ia baru saja keluar dari kamar Aira.

Putrinya itu sudah tertidur lebih dulu karena kelelahan menunggu ayahnya pulang.


Winda berjalan menuju koridor rumah.

Ia duduk sendirian di kursi.

Sesekali ia berjalan kesana kemari seperti setrikaan.


Lalu beberapa menit kemudian...


Suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah.


Winda sengaja tak menutup pintu gerbang rumahnya agar Wahyu tak perlu lagi turun dari mobil hanya untuk membuka pintu gerbang.


Mobil Wahyu berhenti di dalam garasi.


Sementara Winda langsung menutup pintu gerbang rumahnya setelah orang yang ditunggunya itu sudah kembali.

Ia berjalan menuju ke pintu rumahnya.


Wahyu yang baru saja pulang berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Ia membuka jas kerjanya.


"Aira udah tidur ?" Tanya Wahyu pelan.

Ia meletakkan jasnya di atas sofa.


"Udah, lagian udah jam berapa ini? "

"Dia kecapean nungguin papanya pulang." Ucap Winda dengan ketus.


Wahyu menoleh ke arah istrinya sejenak.


Winda berjalan ke kamarnya sambil membawa jas kerja Wahyu yang ia letakkan di atas bahunya.


Sementara dirinya masih terduduk di sofa, melepas sepatu pantofel hitam miliknya.


Wahyu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Tangannya perlahan merogoh ke saku celananya.


Kemudian...


Senyum kecil terbit dari sudut bibirnya.


Wahyu berjalan dengan pelan ke kamarnya.

Menyusul istrinya yang mungkin sedang menyiapkan pakaian ganti untuknya.


Pintu kamar masih terbuka lebar.

Wahyu masuk perlahan.


Winda menoleh ke arah suaminya itu.

"Mau mandi dulu, apa mau makan dulu ?" Tanya Winda.


Wahyu menggeleng kecil.

Kemudian ia duduk di pinggir kasur.


Winda yang melihat reaksinya itu merasa sedikit terhenyak.

Ia mendekati suaminya dan duduk di sampingnya.


"Capek ya ?" Tanya Winda pelan.


Wahyu membuang napas singkat.

Lalu menoleh ke wajah istrinya.

Tatapan mereka bertemu.

Cukup lama.

Cukup untuk membuat Winda jadi salah tingkah.


Winda meluruskan kembali wajahnya.

" Kenapa sih, suka banget kayak gitu, orang cuma khawatir juga." Gerutunya.


Wahyu tersenyum tipis.


Istrinya itu masih mengkhawatirkannya.


Bahkan ia sampai menunggu kepulangannya di depan koridor rumah.


Tapi...


Perasaan takut terkadang sering membayangi pikiran Wahyu.


"Winda..."


Ia mengangkat tangannya dengan perlahan ke atas jemari istrinya.


Winda langsung tertegun.


Ia menoleh ke samping, ke wajah Wahyu.


Bibirnya tak berkata apa-apa, saat melihat ekspresi suaminya yang mulai menatapinya dengan begitu lekat.


Bibir Wahyu terbuka pelan.


"Kamu habis dari mana kemarin ?"


Winda membeku.


Kemarin ?


Ia menelan ludah.


Wahyu menggenggam tangan Winda.

Dan mengangkat tangannya sedikit ke atas.

"Pernah gak ya dia pegang tangan kamu kayak gini ?"


Deg


"Wahyu, aku..."


Wahyu langsung memotong ucapannya.

"Aku apa ? Kamu mau bilang, kalo kamu ada urusan penting sama dia ?"

"Atau...gak sengaja ketemu sama dia di jalan." Sindir Wahyu dengan wajah yang masih terlihat tenang.


Wahyu tersenyum.

Senyum yang tak manis.

" Winda..."


Winda menatapnya dengan perlahan.


"Kamu masih gak sih, nganggep aku sebagai suami kamu ?"

Suaranya lirih, menusuk tepat di jantung Winda.


Deg


" Kamu bisa kan, bilang dulu ke aku."

"Kamu mau kemana, ketemu siapa."

"Kamu tinggal ngomong aja Win, apa susahnya." Suara Wahyu sedikit naik.


Hingga Winda tersentak mendengarnya

Ia belum pernah melihat ekspresi suaminya sedingin itu.

Bibir Winda bergetar.

Dia punya alasan atas kejadian kemarin.

Tapi...

Winda membeku dengan kepala yang tertunduk.Ia merasa bersalah atas kejadian kemarin.

Sekalipun itu penting.

Tapi Wahyu benar.

Dia sudah punya suami.

Tak bisa keluar kemana saja dengan pria lain tanpa seizin suaminya.


"Aku ngerti." Ucap Winda lirih.

"Tapi aku punya alesan untuk itu."

Winda masih mencoba membela diri.


"Aku tahu, Win."

"Kamu gak akan pergi kalo cuma mau jalan-jalan doang." Jelas Wahyu.

"Tapi aku gak sanggup lihat kamu pergi berdua sama dia."


Hening....


"Aku cuma takut, kalo perasaan itu balik lagi ke kamu."lanjut Wahyu.


Winda menengok ke arahnya.


"Perasaan?"

"Perasaan apa?" Tanya Winda pelan.


Wahyu membuang napasnya yang sesak.

"Cinta pertama itu sulit buat dilupain."

"Kayak aku... sulit ngelupain kamu."ucapnya lirih.

"Karena emang yang pertama tinggal di hati aku....itu kamu." Wahyu langsung menoleh ke wajah istrinya.


Sementara Winda mengangkat wajahnya dengan perlahan.


Sepasang bola mata mereka bertemu.

Lebih lama.

Lebih dalam.

Wahyu menyentuh kulit wajahnya yang halus itu.

Sementara satu tangannya lagi merogoh ke saku celananya.

Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


"Winda..."


Winda memandanginya tanpa berkedip.


"Aku gak pernah ya beliin kamu apa-apa." Wahyu tersenyum kecil.

"Setiap hari anniversary kita, lewat gitu aja."


Wahyu mengecup keningnya dengan lembut.

Kemudian tangannya melingkarkan sesuatu di leher istrinya.


Cantik.


Hanya sebuah liontin silver, yang harganya mungkin tak lebih mahal dari cincin pernikahan yang pernah Ino berikan untuk Winda.


Tapi di dalam liontin itu...


Akan menjadi sebuah ruang.


Tempat yang akan menyimpan semua momen indah yang pernah mereka lewati bersama.


Wahyu tersenyum simpul.


"Aku emang suami yang buruk, yang gak pernah tahu barang apa yang disukain istrinya."

"Tapi aku gak akan pernah ninggalin kamu. Meski badan aku telah nyatu dalam tanah."


Mata Winda memerah.

Tangannya menyentuh liontin yang Wahyu kenakan di lehernya.


Lalu Wahyu berkata dengan suaranya yang lirih,


"Kalau suatu hari nanti, aku gak bisa lagi nemenin kamu..."


Winda langsung menggeleng sambil menyentuh bibir Wahyu dengan telunjuknya.

Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

Air matanya sudah lebih dulu mengungkapkan segala perasaannya.


Wahyu...

Aku gak pernah nganggep kamu suami yang buruk.

Bahkan aku merasa sangat beruntung karena dicintai oleh laki-laki yang sempurna seperti kamu.

Dan liontin ini mungkin bukan liontin yang mahal.

Tapi liontin ini....

Akan menjadi barang yang paling istimewa yang pernah aku miliki.


Winda menarik tubuh suaminya itu ke dalam pelukannya.


Wahyu terdiam sesaat.

Tangannya perlahan terangkat ke atas.

Membalas pelukan itu dengan erat.


Malam itu terasa panjang.

Dan Winda merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Wahyu di malam itu.

Sesuatu yang membuatnya merasa takut.


Winda menggeleng kepada waktu.

Memohon dengan sangat.


~Biarkan aku yang menjaganya.

Jangan ambil dirinya dariku.


*Bersambung....*


No comments:

Post a Comment