“Kamu baru kembali?” Di luar dugaan, justru Mas Aldi yang menyapa lebih dulu.
“Iya, Mas. Aku langsung ke ka mar ya, badanku rasanya re muk sekali,” sahutku datar.
“Harusnya kamu manfaatkan sisa cutimu untuk bersantai. Jalan-jalan dengan temanmu, misalnya.”
Dulu kamu berjanji akan membawaku honeymoon, Mas. Sekarang kamu malah menyuruhku pergi dengan teman-temanku?
Ingin rasanya aku berteriak tepat di telinganya, mengingatkan janji-janji manisnya sebelum ijab kabul. Tapi aku sadar itu percuma. Mas Aldi sudah membulatkan tekad untuk membu angku, jadi untuk apa menge mis janji yang sudah kedaluwarsa?
“Aku hanya butuh pengalihan agar tidak jenuh, Mas. Makanya aku memutuskan kembali bekerja lebih awal,” jawabku seadanya.
Aku tidak sepenuhnya berbohong soal rasa lelah. Duduk seharian di kafe sembari memelototi layar ponsel itu benar-benar menguras energi. Aku harus melakukan ini demi menemukan celah di mana Mas Aldi melepaskan kewaspadaannya.
**
Hari ketiga. Mas Aldi mengumumkan bahwa dia akan kembali ke kantor hari ini.
“Kamu sudah mau berangkat?” tanyanya saat kami berpapasan di ambang pintu.
Sepertinya dia hendak ma ndi dan berganti pakaian, karena seluruh keperluan kerjanya masih tertinggal di kam ar yang kutempati.
“Mau berangkat bersama denganku?” tawarnya yang seketika membuatku terperangah.
“Tidak perlu, Mas. Aku bawa kendaraan sendiri saja.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Aku mengangguk formal, lalu melangkah keluar sembari sesekali melirik layar CCTV untuk memastikan apakah dia meninggalkan ponselnya atau membawanya ke ka mar ma ndi.
Aku sengaja memperlambat langkah di area parkir, berjaga-jaga jika ada kesempatan untuk kembali masuk saat dia sedang ma ndi. Saat itulah, aku teringat pada ponsel keduaku yang tertinggal.
“Di mana ponselnya? Perasaan sudah kumasukkan ke tas tadi,” gumamku panik sembari membo ngkar isi tas.
Saking paniknya, aku sampai mengabaikan pantauan CCTV di layar. Aku baru teringat kalau ponsel itu tergeletak di meja ka mar setelah aku menerima telepon dari Lana tadi pagi. Mau tidak mau, aku harus kembali ke dalam.
Dengan langkah terburu, aku memutar kunci dan masuk ke kam ar. Namun saat pintu terbuka, aku spontan berteriak.
“Aaaaa!” Aku segera menutup mata dengan kedua telapak tangan. “Mas! Kenapa kamu tidak pakai baju, sih?” protesku dengan wajah yang pasti sudah semerah tomat.
Jantu ngku berdegup kencang. Meski aku sempat melihat bayangannya di CCTV, menyaksikannya secara langsung dalam jarak sedekat ini tetap saja memberikan sensasi yang berbeda.
“A-aku tidak menyangka kamu akan kembali secepat ini,” sahutnya kikuk.
“Ponselku ketinggalan, Mas.”
“Ambil saja, aku mau ma ndi dulu.” Begitu mendengar suara gemericik air dari balik pintu ka mar ma ndi, aku segera membuka mata.
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran di da da. Pemandangan barusan benar-benar menguji pertahananku. Namun, aku segera tersadar. Ini adalah kesempatan emas yang sudah diatur semesta.
Di atas meja, ponsel Mas Aldi tergeletak manis tepat di samping ponselku. Tanpa membu ang detik, aku meraih benda itu. Berkat CCTV, aku sudah menghafal pola PIN yang sering dia gunakan. Jariku menari cepat di atas layar, dan... terbuka!
Dengan tangan gemetar hebat, aku segera menjalankan proses kloning WhatsApp yang sudah kupelajari dari tutorial yang diberikan temanku. Keringat dingin mulai membasahi da hi, padahal suhu AC di kamar ini cukup rendah.
“Gagal?” desisku panik saat percobaan pertama tidak berjalan mulus.
Aku mencoba sekali lagi. Jant ungku serasa ingin melompat keluar. Aku sangat takut Mas Aldi tiba-tiba keluar. Saat bilah proses sedang berjalan, suara gemericik air di ka mar ma ndi mendadak berhenti.
Hening.
Apakah dia sudah selesai? Tapi proses ini belum tuntas sepenuhnya!
Sedikit lagi... kumohon, sebentar lagi... jangan keluar dulu, Mas! Duniaku seolah berhenti berputar saat aku mendengar suara kunci pintu ka mar ma ndi yang diputar

No comments:
Post a Comment