Addense

Monday, 27 July 2026

Ibuku putri kandung presdir

 


Setelah bercerai dari ayah, ibuku bertemu papa kandungnya yang ternyata presdir

Aku menggunakan status kejayaan kami untuk membalas kezaliman ayah dan pelakor itu


Lima tahun penderitaan kami harus dibayar tunai


IBUKU PUTRI KANDUNG PRESDIR (2) 


Mata ayah melotot, mulutnya terbuka lebar. Tangan yang tadi akan menamparku tampak kaku, menggantung di udara seperti kehilangan tenaga. Nafasnya tertahan, dadanya naik turun tidak teratur. Mungkin tak menyangka sama sekali mantan istrinya tiba-tiba bisa melawan.


Aku pun sama terkesima. Jantungku masih berdegup keras di dada. Tak menduga kalau ibu mampu seberani itu pada ayah. Tatapannya bahkan sangat tajam seperti mata pisau yang berkilau, dingin namun mematikan. Wajahnya yang biasanya lembut kini mengeras, seolah seluruh luka bertahun-tahun menjelma menjadi keberanian.


Baru kali ini aku menyaksikan ibu menantang ayah. Seolah tak ada kegentaran sama sekali. Bahunya tegak, dagunya terangkat sedikit, dan sorot matanya lurus tanpa menghindar. Bahkan, sikap itu membuat kegarangan ayah memudar. Lelaki itu tampak kehilangan kendali untuk pertama kalinya.


"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah menyentuh anakku. Sehelai rambutnya jatuh, aku akan membalasmu lebih dari itu! Fayla hanya boleh bahagia, takkan kubiarkan ia menderita sejak hari ini!"


Suara ibu menggema di ruang tamu yang luas itu. Setiap katanya terdengar tegas dan penuh tekanan, seperti sumpah yang tak bisa ditarik kembali. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi bukan karena takut—melainkan karena amarah yang akhirnya menemukan jalannya.


Ibu meninggalkan ayah yang masih ternganga. Langkahnya mantap, meski napasnya masih berat. Aku segera mengikuti ibu menuju kamar. Lorong rumah terasa panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal di dinding seperti menatap kami diam-diam, menjadi saksi bisu perubahan nasib kami. Tujuannya adalah mengambil barang dan perhiasan yang dibeli atas nama kami. Ada yang berasal dari ayah, ada juga hadiah dari kakek.


Begitu masuk ke kamar, suasana langsung berubah. Kamar itu dulu tempat paling nyaman bagiku, tempat aku belajar, tertawa, dan berbagi cerita dengan ibu. Kini terasa asing. Lemari besar berdiri kokoh di sudut ruangan, meja rias dengan cermin lebar memantulkan wajah kami yang penuh tekad.


"Ambil apa yang mau kamu ambil. Itu hakmu. Kita tidak mencuri apapun!"


Suara ibu cukup tegas. Ia berdiri di dekat lemari, tangannya langsung membuka laci-laci dengan gerakan cepat namun teratur. Wajahnya fokus, tak lagi ragu. Karenanya aku tak ragu untuk mengambil barang-barang milik kami. Karena memang ada hak kami di dalamnya.


"Mobil, motor dan perhiasan itu milik kita. Ambil surat-suratnya!"


Aku mengangguk, lalu bergerak cepat. Tanganku membuka brankas yang disembunyikan, mengambil surat penting, meraih kotak perhiasan yang tersimpan rapi. Setiap benda yang kuambil terasa seperti mengambil kembali harga diri yang selama ini dirampas.


Selanjutnya aku juga mengambil barang yang ibu sebutkan. Tak ada satupun yang terlewat. Napas sedikit memburu, tapi tangan tetap cekatan. Sesekali melirik pintu, waspada jika ayah tiba-tiba datang.


"Barang-barang besarnya bagaimana, Bu?"


Aku menoleh pada ibu yang kini sedang mengumpulkan beberapa pakaian dan tas ke dalam koper. Wajahnya masih tegang, tapi ada ketenangan baru di sana.


"Akan ibu jual!"


Jawaban itu keluar singkat, namun penuh kepastian.


Ibu menutup koper dengan kuat, lalu menatap sekeliling kamar untuk terakhir kalinya. Ada kilasan kenangan di mata sendu itu, tapi ia segera menepisnya. Tak ada lagi ruang untuk ragu.


Aku mengikuti arah pandangnya. Tempat tidur, meja belajar, lemari, boneka semuanya menyimpan cerita. Namun kini, semua itu tak lagi berarti.


*


Langkah kami terhenti di depan pintu oleh kedatangan tante Amel. Pintu utama yang tinggi dengan ukiran mewah itu seakan menjadi batas terakhir antara masa lalu dan masa depan kami. Angin sore yang masuk dari celah pintu membawa udara dingin, kontras dengan panasnya suasana di dalam rumah.


Istri kedua papa berdiri dengan gaya angkuhnya. Tubuhnya tegap, dagunya terangkat tinggi, satu tangan bertolak pinggang sementara tangan lainnya memainkan ujung tas branded yang menggantung di lengannya. Tatapannya digerakkan dari atas ke bawah, perlahan, seakan sedang menelanjangi harga diri kami.


"Bukannya kalian tak butuh harta suamiku? Bukankah harga diri kalian sangat tinggi? Bingung, ya, bagaimana menjalani hidup tanpa nafkah dari suamiku? Makanya gak usah sok bisa hidup tanpa belas kasih suamiku!"


Nada suaranya ringan, tapi setiap katanya menusuk. Senyum miring menghiasi bibirnya, penuh ejekan yang tak disembunyikan sedikit pun.


Di hadapan wanita sialan ini aku tak pernah bisa menahan emosi. Pasti terpancing oleh kata-kata atau sikapnya yang sangat menyebalkan. Gayanya serasa dia itu bos besar dan kami bawahannya. Bahkan cara berdirinya saja seperti ingin menunjukkan siapa yang berkuasa di rumah ini.


"Yang kami ambil adalah harta atas nama kami. Tentu saja ini hak kami, bukan harta ayah, apalagi hartamu. Ada hadiah dari kakek dan nenek juga. Kami tak mencuri apapun!"


Suaraku tegas, meski dada terasa sesak menahan amarah. Tatapanku tak kalah tajam, menantangnya tanpa gentar.


Tante Amel tersenyum sinis. Bibirnya melengkung tipis, matanya menyipit penuh penghinaan. Lalu berjalan dengan gaya angkuhnya ke arahku, langkahnya pelan namun penuh tekanan. Tumit sepatunya berbunyi nyaring di lantai marmer, seperti irama yang sengaja ingin mengintimidasi.


Dia menyentuh koper yang ada di sisiku. Jemarinya mengusap permukaan koper itu seolah sedang menilai sesuatu yang hina.


"Barang yang akan kamu bawa itu dibeli oleh uang ayahmu. Artinya itu milik ayahmu. Kamu hanya berhak menggunakan saat masih ada di rumah ini, tak berhak memiliki setelah pergi dari rumah ini. Jadi, kalau kalian bawa, apa namanya kalau bukan mencuri?"


Nada suaranya merendah di akhir kalimat, penuh penekanan, seakan ingin memastikan setiap kata menancap dalam-dalam.


Dadaku langsung panas. Napas seketika memburu. Kata-katanya sangat menguras emosi. Tangan refleks mengepal. Aku ingin sekali mencengkram mulut kotornya, menghapus senyum sinis itu dari wajahnya.


Aku melangkah setengah maju, tapi


"Fayla, jangan berdebat dengan manusia bodoh. Ayo kita pergi!"


Suara ibu memotong tegas. Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk menghentikanku. Tatapannya padaku penuh peringatan sekaligus keteguhan.


Ibu melangkah lebih dulu. Langkahnya mantap, tak sedikit pun menoleh ke belakang. Tak dipedulikan makian tante Amel kemudian yang mulai meninggi dan tak terkontrol.


Aku segera menyusulnya. Menarik koper dengan sedikit kasar, melewati tante Amel yang masih berdiri dengan wajah kesal. Bahuku nyaris bersenggolan dengannya, tapi aku tak peduli.


Namun, sebelum benar-benar pergi dari rumah ini, ibu berbalik.


Gerakannya tenang, tapi penuh wibawa. Ia menatap lurus ke arah tante Amel, tanpa gentar sedikit pun.


"Besok akan ada yang mengambil barang-barang besar milikku dan Fayla. Aku sudah menjualnya!"


"Apa katamu! Enak saja kau jual barang-barang di sini! Kau tak berhak, ingat itu!" teriak tante Amel. Wajahnya memerah, matanya membelalak, dan nada suaranya kini tak lagi angkuh, lebih terdengar panik.


"Terserah apa katamu. Yang pasti besok pagi pembelinya akan angkut barang-barang itu!"


Suara ibu tetap datar, tapi tegas. Tak ada emosi berlebihan, justru itu yang membuatnya terdengar lebih kuat.


"Kau pikir aku akan diam saja? Aku akan mencegahnya! Jangan mimpi bisa mengambil apapun dari rumah ini!"


Tante Amel melangkah maju, suaranya meninggi lagi, tangannya menunjuk-nunjuk dengan kasar.


Ibu hanya menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan senyum lembut yang penuh kepercayaan diri. 


"Coba saja."


Hanya dua kata, tapi cukup membuat suasana membeku sejenak.


Aku bisa melihat jelas perubahan ekspresi di wajah tante Amel, dari marah menjadi ragu, meski hanya sesaat.


"Mas, kok, kamu diam saja, sih! Mereka ngerampok rumah kamu, hey!" 


Entah mengapa ayah tak ikut menyerang kami. Tak juga melemparkan tatapan tajam. Ayah berdiri, diam dan membeku


Ibu kembali membalikkan badan. Kali ini benar-benar melangkah keluar. Pintu besar itu terbuka lebar, memperlihatkan halaman rumah yang luas dan langit sore yang mulai menggelap.


Aku mengikutinya tanpa menoleh lagi.


Di belakang kami, suara tante Amel masih terdengar. Teriakan, makian, ancaman berhamburan. Namun semuanya terasa tak berarti karenawsed kami benar-benar pergi tanpa berniat untuk kembali.


No comments:

Post a Comment