"Apa-apaan kamu, Bang?" Tatapan mata Fayza begitu syok. Selama ini dia kenal suaminya tak pernah kas4r. Tapi hari ini, untuk pertama kali ia merasakan itu.
(7)
"Kalau begini caranya, kamu terus mentingin orang tuamu, kita pisah saja."
Tepat di organ dalam, Fayza merasakan sakit yang luar biasa. Untuk mengeluarkan tetesan air mata ia tak mampu lagi. Kesabarannya hampir di ujung napas.
Tegar hati Bu Aisyah, ia tak mau hanya karena bakti sang anak kepada orang tua, ia dapat mengor'bankan ikatan yang telah dipersatukan oleh Tuhan. Tatapan seorang Ibu menelusuri setiap jengkal tubuh anaknya. Baju seragam hijau yang dikenakan anaknya itu ialah sebuah tanggung jawab. Bu Aisyah paham.
"Fayza anakku. Ikuti perin'tah suamimu. Ibu tidak mau karena kau mengurusi kami, rumah tanggamu jadi beran'takan. Ikutlah ke mana suamimu akan tinggal. Jauh sekali pun, Ibu tak mempersoalkan."
Dadanya sesak seketika. Fayza tak mampu menahannya lagi.
"Aku mau kita pindah dari kontrakan itu," sanggah sang suami.
Fayza mengatur napas, bangkit. Ia punya prinsip. Saat kesabaran telah mati, ia berani berucap lantang. "Aku terima kata cer'ai darimu! Kita pi'sah!"
Tak hanya Arash, kedua orang tua Fayza pun ikut syok.
"Fay!" Tegur sang Ibu.
"Ibu diam! Ini sudah menjadi kesepa'katan kami berdua sebelum menikah dulu, Bu!" Telunjuk Fay mengarah ke suaminya. "Dulu sebelum kami menikah, dia sudah sepakat kalau aku tidak bisa dibawa jauh dari kalian. Tapi sekarang dia ing'kar janji!"
"Tapi, Nak-"
"Ibu diam! Sekali lagi Fay bilang, jangan Ibu be'la mantu Ibu yang ja'hat ini!"
"Ibu tidak membe'lanya. Ibu merasa berdosa jika kalian ce'rai karena kami! Kamu harus sadar, Fay. Kamu sudah dewasa. Kamu sudah sah jadi istrinya. Surgamu sudah pada suamimu. Kamu boleh sesekali datang ke sini. Utamakan keluargamu sendiri, Fay. Jangan pikirkan Ibu. Nanti telponkan saja adikmu yang di luar kota."
Demi menghar'gai ibunya, Fay akhirnya diam. Pertim'bangan satu dengan yang lainnya berputar di o'taknya. Demi keutuhan rumah tangga, Fay mencoba memberi kesempatan untuk suaminya. Kelak, ia berharap suaminya berubah jika dia nurut pada Arash.
*
Seminggu kemudian.
Tahapan pindah rumah dilakukan berdua. Sudah mendapat i'zin dari komandan kompi untuk Arash menempati salah satu mes di batalyon. Dengan kese'pakatan kalau salah satu rumah asrama ada yang kosong mereka akan geser ke rumah asrama.
Kala itu, sore hari, ada latihan volly di lapangan batalyon. Jujur saja, Fayza agak gerogi. Bisa dihitung dengan jari. Selama menikah dengan Arash dia baru dua kali masuk batalyon. Pertama sewaktu menghadap, kedua saat perkenalan anggota pertama kali. Setelah itu Fayza selalu tak hadir jika ada acara apapun di batalyon. Berbagai alasan. Pokoknya tetap tidak mau hadir.
Saat sesuatu melewati lapangan, Feny melihat Arash dan Fayza berboncengan motor. Ada setitik rasa cemburu, tapi tidak mau dirasakannya terlalu jauh. Di mata Feny, Arash sangatlah tampan. Body-nya kekar layaknya tentara yang fisiknya terlatih serta staminanya terjaga. Tak hanya kekar, Arash juga tinggi. Kulitnya kecokelatan. Ra'hangnya tegas. Jika dilihat-lihat sangat mac'ho.
Feny mende'cih. Ia merasa kasihan pada Arash karena mendapat istri yang tak sesuai. Jika disandingkan dengannya mungkin akan sesuai, pikirnya.
"Kalau diliat-liat, sih, Bang Arash lebih cocoknya sama aku. Sama-sama pinter, cantik dan ganteng juga." Bibirnya naik sebelah tatkala ia mengingat suaminya sendiri. "Kalau sama Mas Zafwan ih! Rasanya aku nyesel mau nikah sama dia. Bawaannya terlalu kalem. Belum lagi cemburu sama aku!"
"Aakhh!!" Feny men'jerit saat bola volly itu mengenai kepa'lanya. "Aduh! Yang bener dong mainnya. Kena palaku nih!"
"Maap Bu Zafwan! Nggak sengaja!" teriak ibu-ibu di lapangan. Feny dong'kol setengah mati. Karena terkena bola volly ia terlewat pemandangan Arash yang lewat.
Feny mendadak sedih. "Kalau Bang Arash sudah bawa istri tinggal di asrama, bakalan susah aku ketemu dia."
*
Beberapa minggu kemudian.
Fayza telat pulang hari ini. Saat melewati kantor suaminya ia tak sengaja melihat motor yang dia kenal. Ya, itu motor Feny dan sang suami.
"Mama, kita singgah ke kantor Papa, ya!" Rengek sang anak melihat bangunan di samping kantor staf 1.
"Buat apa, Nak? Papa kerja loh." Lalu ia memelankan laju motornya, meladeni Devin ngomong.
"Aku mau ja'jan eskrim di kantinnya kantor Papa." Devin menunjuk sebuah kantin batalyon yang hampir tutup.
"Oh iya boleh."
"Cepetan, Ma! Kantinnya mau tutup itu!" Te'riak Devin. Fayza langsung gas cepat.
Beberapa ibu-ibu keluar dari kantin yang bergabung dengan kope'rasi batalyon. Ada yang membawa pulang beras atau keperluan rumah tangga lainnya.
Fayza jadi berpikir, mungkin bisa berbe'lanja di sini saat di akhir bulan.
"Ibu mau be'lanja?" te'gur salah satu anggota tentara yang tugasnya di bagian kope'rasi.
"Iya, Om. Yaudah buruan atuh, Bu. Ini sudah mau tutup kopera'sinya."
"Oh iya, Om." Fayza buru-buru turun dari motor. Devin sudah lebih dulu lari ke kope'rasi.
Agak kaku, Fayza berjalan di antara ibu-ibu yang lewat sehabis belan'ja. Tidak saling mene'gur. Hanya senyum seadanya. Bahkan ada yang melirik pakai e'kor mata. Lidah Fayza ke'lu untuk mene'gur duluan. Merasa mereka tak saling mengenal walaupun ada di antaranya suami mereka satu letting.
"Begini nih, kalau tinggal di asrama, kaku. Aku jadi segan kayak gini. Mana nggak ada yang kenal. Aku nggak tau mana istri senior dan junior," batin Fayza yang susah beradaptasi di lingkungan asrama.
Beberapa barang sudah diambil, Devin juga banyak mengambil jaja'nan yang dia suka. Setelahnya dia keluar buru-buru. Ketika sampai di depan kantin, hati Fayza mence'los melihat keakraban suaminya dengan salah satu persit di depan kantor.
Ya, dia wanita yang dianggap menjadi du'ri dalam rumah tangga mereka.
Hati istri mana yang tak sakit. Melihat ada wanita berceng'krama dengan sang suami. Bahkan di depan kantor sekali pun.
Saat itu Fayza hanya mampu melihat saja, tidak berani mene'gur. Sadar, dia orang baru di sana. Takut kena masa'lah. Kalau bukan dipikir karena ibunya, Fayza sudah mundur menjadi istri Arash. Insting seorang istri sangatlah kuat. Ia menduga kalau suaminya memang ada ma'in dengan wanita itu.
Dari depan kantor, Feny menyadari kalau Fayza memerhatikan.
"Bang, noh istri kamu pulang."
Arash yang tadinya ceria langsung berubah masam. "Iya. Jam 6 sore gini baru pulang. Udah ngalah-ngalahin pegawai negeri aja. Sampai rumah entar ngeluh alasan capek."
"Jelas dong," sahut Feny. "Yaudah, ya. Aku pulang dulu. Males. Entar ada masalah."
Feny pulang duluan. Ia takut mendapat tatapan ta jam dari Fayza. Padahal, Fayza ingin mendekat, tapi Feny duluan ka'bur.
"Ma, aku ikut pulang dengan motor Papa aja, ya?" Pinta si anak. Fayza mengiyakan. Devin langsung lari ke motor papanya.
Mereka pulang. Fayza di belakang membuntuti.
Ketika malam ...
Meski lelah, Fayza tetap menjalani tu'gasnya sebagai istri. Mema'sak, bersih-bersih. Sedang Arash fokus duduk sambil mengetik lap'oran persit yang Feny suruh. Ponselnya tiba-tiba masuk pemberita'huan gr'up. Arash membacanya.
"Dek!"
Fayza setengah mengantuk datang dari dapur. "Ya?"
"Rabu kabarnya ada kun'jungan bapak pang'lima. Kamu diminta ibu-ibu pengurus untuk hadir ke aula buat persiapan penyambutan. Dua hari sebelum acara sudah harus sering datang ke sana."
Fayza terdiam. Ia ingat jadwal kontrol bapaknya ke dokter di hari rabu itu juga.
Apakah dia harus izin??
Bagaimana dia bilang ke suaminya??
Bersambung.

No comments:
Post a Comment