SETELAH KU BERI TEMPAT TINGGAL DAN HIDUP E-NAK, SUAMIKU DAN KELUARGANYA MALAH BER KHIA NAT. MEREKA PIKIR AKU TIDAK TAHU, TAPI YANG SEBENARNYA ADALAH, AKU SEDANG MENGATUR
PE RANG KAP UNTUK MEMBUAT MEREKA HAN CUR.
"Ren, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Rumi, dia..."
Arman terbata-bata. Sama seperti biasanya, pria itu terlalu bo doh untuk mengendalikan situasi.
Ini sudah bertahun-tahun semenjak aku bersamanya, tetapi tetap saja, Arman tidak pernah berubah. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur cin-ta.
"Apa, Mas? Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Renata. Ta-tap-an-nya ta jam, bergantian menyorot Arman dan aku.
Belum sempat aku menjelaskan apa-apa, Ibunya Arman tiba-tiba maju, mencoba melakukan sesuatu.
"Ren, wa-ni-ta ini me-mak-sa ikut. Katanya kamu sendiri yang minta dia menemani Arman."
"Iya, Ren. Dia mak-sa banget. Kita nggak bisa melarang," Leni ikut menimpali, seolah-olah mereka kor ban keadaan.
Aku me-na-tap keduanya dengan ama rah dan kekecewaan. Mu-lut--ku terkatup rapat menahan em-o-si. Di saat seperti ini, bukannya dibela, aku malah dijadikan tum bal.
"Ren, kamu percaya padaku, kan?" Arman mencoba mendekat, ingin meraih tangan Renata.
Namun wa-ni-ta itu lebih cepat. Tangannya terangkat, menahan Arman untuk tidak melangkah lebih dekat.
"Diam di sana, Arman!"
Suara Renata te-gas, di-ngin, dan membuat semua yang ada di sana me-ne-gang. Bukan hanya karena perintahnya, tapi karena dia menyebut nama Arman tanpa embel-embel hormat lagi.
"Renata, kamu itu nggak sopan ngomong gitu ke suami!" Ibunya Arman mem ben tak, mungkin tak terima a-nak nya di per-ma-lu-kan.
Renata menoleh sebentar, wa-jah-nya tetap datar. "Maaf, Bu. Tapi dia bukan suamiku lagi."
Semua terdiam termasuk aku. Saat Renata mengatakan Arman bukan suaminya lagi, seharusnya aku merasa senang, tetapi ini terlalu cepat. Bukan seperti ini rencananya.
"Apa maksudmu, Renata?" Arman terlihat pa-nik.
"Pengajuan per ce rai an kita sudah disetujui Pengadilan. Aku datang ke sini cuma untuk memberitahu mu secara langsung."
"Renata! Apa-apaan ini?! Kamu bercanda soal per ce rai an?" Arman mulai ke-hi-lang-an kendali. Napasnya be-rat, nadanya me-ning-gi.
Aku ter-ce-kat, kenapa reaksi Arman berlebihan? Seolah dia benar-benar tidak ingin kehilangan Renata.
"Bercanda?" Renata tersenyum miring. "Setelah semua yang kalian lakukan, kamu pikir aku masih sempat bercanda?"
"A-a... Aku nggak ngerti maksud mu, Sa-yang. Nggak ada yang seperti itu. Aku hanya men-cin-tai kamu," suara Arman melemah, memelas. Seolah-olah benar-benar ta-kut ke-hi-lang-an Renata.
Dan aku tidak tahan lagi melihat semua ini!
"Mas Arman, cukup!" suaraku akhirnya pe-cah, membelah suasana. Sorot mataku penuh ke ma-rah-an. Aku melangkah maju, tak pe-du-li lagi apa yang Renata pikirkan.
"Jadi, kamu sudah tahu hu-bu-ngan kami?" kataku lantang. "Iya, aku dan Arman ber-hu-bu-ngan karena kami saling men-cin-tai'!" sambungku dengan bangga. Entah kenapa em osi ku tersulut sehingga tidak bisa lagi mengendalikan diri.
Renata hanya tersenyum getir. "Bagus. Akhirnya kamu mengaku juga."
"Kamu mau ce rai? Bagus. Itu lebih baik! Setelah proses ce rai selesai, kami akan segera me-ni-kah secara resmi!" kataku penuh kemenangan.
Renata mengernyit. "Menikah secara resmi?" Nadanya pelan, tapi taj am. "Maksudmu?"
Aku mengangguk. "Kalau kamu me-nu-duh kami se ling kuh, itu sa-lah besar, Renata. Karena yang sebenarnya, kamu adalah istri keduanya Arman. Kami sudah menikah lebih dulu, jauh sebelum kamu."
Wajah Renata mem-be-ku. Meskipun aku ja hat, tapi aku masih punya har-ga diri. Dikatai
se ling kuh an, rasanya sangat me-nye-bal-kan karena kenyataannya aku adalah istri Arman. Istri pertama, sah secara agama, tapi tidak negara. Kami me-ni-kah jauh sebelum ku kenalkan Arman pada Renata.
"Jadi kalian sudah me-ni-kah... sebelum Arman meni-kahi ku?" tanyanya penuh penekanan.
"Iya," jawabku tegas.
Sesaat, tak ada suara. Lalu, tawa Renata me-le-dak begitu saja—ke-ras dan mengejutkan. Aku terpaku. Apa yang lucu?
Namun tawa itu tak bertahan lama. Sekejap kemudian, ta-tap-an-nya berubah ta jam.
Me nu suk.
"Pernikahan siri, ya? Sa-yang-nya apa pun yang kalian sebut sebagai per-ni-kah-an itu, dari sisi hu-kum tetap tidak sah." Renata menatapku dalam-dalam. "Dan apa kamu tahu, Rumi? Dari sudut pandang hu-kum, kamu tetap perempuan yang ber hubu ngan dengan suami orang."
Aku mulai ge-li-sah.
"Dan kamu tahu, kan, ada sanksi atas perbuatan seperti itu? Saat bukti
per sel ing kuh an itu sampai ke tangan Polisi, maka hidup mu kelar di balik jeruji besi."
Benarkah? Apa pernikahan siri selemah itu? Aku sama sekali tidak tahu soal ini, aku pikir walaupun pada akhirnya kami ketahuan, aku akan tetap menang dari Renata karena aku istri pertama. Jadi pernikahan ku dan Arman tidak ada artinya?
Dan bukti apa yang Renata miliki? Selama ini dia tidak tahu hu bu ngan kami. Atau... dia mengetahui dan menyelidiki diam-diam?
Renata menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan, tapi sangat jelas, “Kalian pikir aku akan diam? Kalian pikir aku akan me-na-ngis? Maaf. Aku bukan wa-ni-ta selemah yang kalian bayangkan.”
"Renata, tolong... Jangan lakukan ini," suara Arman nyaris pe-cah. Ia mendekat dengan langkah ge-me-tar. "Aku sa-lah, aku tahu... Tapi aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Renata hanya memandangnya dengan dingin.
"Aku mohon... Ka-sih aku kesempatan kedua. Aku akan tinggalkan Rumi, Ren. Rumi cuma... dia cuma—"
Apa yang Arman katakan? Kenapa dia bersikap seperti itu? Harusnya dia membela ku, mengatakan hu-bu-ngan kami dengan bangga di hadapan Renata. Dia tahu betul setelah Renata mengetahui semuanya, wa-ni-ta itu tidak akan bisa dibujuk lagi.
Arman, kamu sudah membuat hatiku han cur.
"Sudah cukup, Mas!" potongku ke-ras. Aku berdiri di sampingnya, meng-geng-gam lengannya. "Kamu nggak perlu me-ren-dah-kan diri di depannya. Kamu masih punya aku."
Tapi dia malah menepis tanganku ka-sar. "Diam, Rumi! Kamu nggak ngerti apa pun!"
Aku terperangah. Suaraku tercekat. “Kamu... kamu... Jangan bilang kamu lebih memilih dia setelah semua yang kita lalui?!”
Arman tak menjawab. Matanya hanya me-na-tap Renata, seolah berharap keajaiban datang. Dan dia diampuni.
Dan persis sesuai dugaan ku, Renata tetap tak tergoyahkan.
“Jangan datang lagi ke ru-mah ku,” katanya pelan, tapi penuh tekanan. “Mulai hari ini, kamu bukan siapa-siapa.”
"Renata... jangan katakan itu. Ru-mah itu tempat kita dulu...."
“Ru-mah itu bukan lagi tempat mu!” sergah Renata ta jam.
Lalu, dia memberi isyarat kecil. Seorang pria berpakaian hitam datang dari arah belakang, menyeret dua koper be-sar. Dengan gerakan cepat tanpa basa-basi dan...
Bruk!
Koper-koper itu dilemparkan tepat di hadapan Arman. Suara hantamannya terdengar ke-ras.
Renata menunjuk ke arah koper. “Semua barang mu ada di situ. Lengkap. Jangan pernah datang lagi ke ru-mah ku.”
Ku lihat Arman dan mendapati wa-jah-nya memucat.
“Renata, kamu se-ri-us?” tanyanya putus asa. “Apa kamu benar-benar te-ga melupakan semua yang kita bangun selama ini?”
Renata melangkah pelan, lalu berhenti tepat di hadapannya. “Jangan membuat ku tertawa, Arman. Memang apa yang sudah kamu bangun? Kamu bahkan tidak menghasilkan apa pun.”
Lalu dia menoleh padaku, senyumnya kering. “Selamat me-nik-ma-ti si-sa hidup mu dengan orang tidak berguna ini. Kamu mau sam pah ku, kan? Ambil!”
Deg!
Ucapan itu seperti me nam par ku. Sebuah
tam pa ran yang sangat ke-ras. Sam pah? Kenapa hatiku malah membenarkan sebutan itu?
Renata per-gi begitu saja. Me-ning-gal-kan kami dalam ke han cu ran. Arman terduduk di samping kopernya, dan aku berdiri mematung.
Melihat Arman seperti itu, membuatku berpikir. Mungkinkah dia benar-benar tidak ingin kehilangan Renata? Apakah tiga tahun ini bukan ke-bo-ho-ngan baginya? Dia... dia men-cin-tai Renata?
"Apa yang kamu sesali, Mas? Kenapa bersikap seperti kamu benar-benar men-cin-tai dia, ha?" Aku menatapnya ta-jam.
"Kita sudah punya ru-mah itu, dan kamu nggak lupa kan kita punya vila dan usaha," kataku lagi. Mengingatkan dia bahwa yang kami dapatkan dari Renata sudah cukup sehingga Arman tidak perlu meratapi per-pi-sah-an nya.
Arman tiba-tiba mengangkat wa-jah-nya, menatapku na nar. "Rum, sertifikat vila itu masih tertinggal di ru-mah Renata. Aku harus membujuk dia demi sertifikat itu," katanya. Tapi entah kenapa aku merasa semua itu hanya alasan.
Apakah pada akhirnya aku lah yang kalah? Mungkin aku berhasil mendapatkan banyak
ke me wah an dari Renata, tetapi hati Arman malah tertinggal padanya? Aku berhasil me-ni-pu Renata, tetapi aku ga-gal mempertahankan hati suamiku.

No comments:
Post a Comment