Addense

Monday, 20 July 2026

Masa dia terus

 “4duh, 4invn tid4k p4k4i 4nu kah?” batin Danu yang merasakan sesuatu menempel tanpa penghalang di dadanya.


“Pakde, Bude tidak mengurus Katering seperti yang dia katakan. Tapi, bude Tina sedang 3n4k 3n4k dengan Brondongnya!” Lily, salah satu anak kost melaporkan pada Danu beserta bukti yang ada di Hpnya saat itu.

Pria itu tak percaya jika ada yang di dalam foto itu adalah istrinya yang tengah saling rangkul dengan seorang pria muda. Karena ia pergi sejak sore kemarin adalah untuk mengurus bisnis katering yang ia buat bersama beberapa sahabat.

“Ini, di mana?” tanya Danu pada Lily yang masih ada di dekatnya.

Tenggorokan Danu tampak sangat tegang dengan rahang yang mengerutuk. Ia ingin marah, tapi tidak mungkin ia lampiaskan semuanya pada gadis yang ada di sampingnya itu. Lily justru baik telah memberi info ini

“Itu, di Hotel X, Pakde. Salah satu teman Lily kerja di sana, dan menemukan ini tadi pagi. Itu, yang sering main kesini. Makanya dia tahu, kalau itu adalah Bude Tina.”

 Danu meradang mendengar bahwa itu adalah loby hotel bintang empat. Foto mereka sangat mesra, hingga tak mungkin ada alasan bertemu dan saling menyapa tanpa sengaja. 

Tina tampak mengenakan dres pendek, menggelendot manja di lengan sang brondong. Brondong itu merangkulnya sangat erat. Telapak tangannya masuk ke sela dress Tina, seperti memegangi bagian dada. Mereka saling senyum seperti baru saja tengah mendapat kesenangan dari masing-masing, apalagi Tina yang senyumnya terlihat lepas dan sangat bahagia.

Tina, istri Danu semalam memang tak ada kabar. Ia fikir efek sibuk mengurus katering yang memang tengah berkembang belakangan.

Hp Lily memang retak layarnya, tapi gambar itu terlihat sangat jelas.

Sangking marahnya, Danu spontan angkat tangan dan mendaratkannya di bahu Lily. Ia cengkram dengan kuat karena emosi. Gadis itu tertunduk. Ia merasakan sakit, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan berharap bisa menenangkan Danu atas apa yang terjadi saat ini.

Mahasiswi semester tujuh itu, sering meminta Danu untuk membantu tugas dari kampus. Pertemuan dan obrolan yang sering terjadi, membuat Lily merasa nyaman padanya. Nada suara yang tak pernah tinggi, juga ketelatenannya ketika mengajari itu membuat Lily selama ini kagum bahkan menaruh perasaan padaya. Melihat Danu emosi, serasa tak tega.

Jemari lentik itu terus mengusap punggung tangan Danu dengan segala perhatian yang ia punya. Tapi satu tangan lagi menggeser layar Hp karena rupanya masih ada beberapa foto yang ia simpan di dalam memori Hpnya itu.

“Pakde, nggak cuma satu.” Gadis itu berbisik dengan suara yang begitu lembut.

Lebih mengejutkan lagi dengan foto kedua. Kali ini ini lebih vulgar karena istri Danu berpose semakin mesra di dalam mobil miliknya bersama brondong yang berbeda.

Dari foto itu, tampak Tina sedang b3rcivma4n dan saling m3mb3lit lidah dengan brondong keduanya. Semakin perih hati Danu melihat itu, dan bumi seolah berhenti berputar seketika.

“Apa salahku, Tin? Kenapa kamu begini ke aku?” Danu meratapi nasibnya sendiri saat itu. Suaranya tercekat, tapi ia malu ketika sadar yang di sebelahnya adalah seorang gadis.

Danu terduduk lemas. Hatinya benar-benar sakit melihat kelakuan sang istri yang semakin lama semakin melampaui batas. Ini baru beberapa, dan mungkin masih ada lagi di luar sana yang belum ia ketahui sampai saat ini.

“Ah! Uangku!” Mendadak Danu ingat jika ATM yang ia miliki dipegang oleh sang istri.

Danu segera raih Hp dan buka aplikasi perbankan yang ada di sana, lalu ia cek saldonya.

 

"Uangku, kamu habisin buat brondong itu, Tina!" 


No comments:

Post a Comment