Addense

Sunday, 19 July 2026




Telepon Bertubi-tubi


“S i a l!” umpat Vanya setengah berbisik. Gadis dengan kemeja hitam itu tampak mendekat ke arah r a n j a n g, lalu menekan cepat tombol panggilan petugas r u m a h sakit.


Tak berselang lama, dua orang suster datang dengan tergesa.


“Sus t o l o n g, ini sahabat saya masih drop kondisinya. Kalo perlu, jangan ada yang dibolehin masuk, Sus!”


Kedua suster itu saling pandang, lalu bergegas mengangguk ramah. “Maaf atas ketidaknyamanannya, Mbak. Untuk Ibu, bisa keluar sekarang ya,” ucap salah satunya ke arah Bu Asih.


“Astaga, kenapa sih?! Saya ngejenguk baek-baek begini malah diusir,” cibir wanita tua itu, berdecih j i j i k ke arah Vanya.


“Halah! Saya tau ini kewajiban, Dina. Tapi tau kondisi bisa kan, Buk?” protes Vanya lagi.


“Eh, Neng, jangan ikut campur kalo gak bisa bantu bayar! Saya ini juga k o r b a n—”


“Punya nomer suaminya, kan? Tau dong harus nagih ke mana,” sela gadis itu sambil melipat tangannya di depan d a d a.


“Vanya, udah,” lirih Dina mencoba meraih ujung baju sahabatnya.


“Maaf, Buk. Yang dikatakan Mbak ini benar. Pasien butuh istirahat secara mental dan fisik.” Salah seorang suster melangkah maju, menghadap langsung ke arah Bu Asih. “Mohon keluar sekarang ya, Ibu,” lanjutnya.


“Iya, iya, saya keluar! D a s a r a n a k muda gak tahu sopan santun! Inget ya Neng Dina, urusan kita belum selesai!”


Vanya menyentak tirai pembatas hingga tertutup rapat, menghembuskan n a p a s k a s a r guna meredakan gemuruh di dadanya.


Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Belum sempat Vanya duduk kembali di kursi samping r a n j a n g, aroma minyak telon yang menyengat mendadak menyusup masuk.


Topeng manipulatif yang sesungguhnya baru saja tiba.


Reno melangkah masuk ke balik tirai dengan bahu turun, bahkan raut wajah lelah yang memuakkan.


Di tangan kanannya pula, ia menjinjing sebuah kantong plastik berlogo warung bubur ayam.


Pria berkulit gelap itu langsung mengabaikan tatapan m e m b u n u h dari Vanya dan setengah berlari menuju r a n j a n g Dina.


“Din … ya Allah, kamu gak apa-apa, kan?” Suara Reno terdengar begitu bergetar. Tanpa permisi, ia langsung menggenggam jemari dingin Dina, menatap wajah pucat istrinya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


“Maafin aku, Din. Aku gak tau kalo sampe separah ini.”


Dina hanya diam. Matanya yang bengkak memilih melempar tatapan ke sembarang arah. Genggaman tangan Reno yang biasanya terasa hangat, kini terasa seperti lilitan ular yang menjijikkan.


“Din, t o l o n g ngomong sesuatu. Jangan bikin aku takut,” bujuknya lagi. “Soal gembok itu … demi Allah, aku gak ada niat jahat, S a y a n g. Tadi pas aku mau ngater Raya sama Mama, di luar kompleks lagi rame orang asing lalu-lalang. Aku takut ada maling masuk dan celakain kamu pas kamu. Apalagi, kamu masih lemah.”


“Bacot, lu!” sela Vanya, tertawa sinis dengan tangan bersedekap di d a d a. “Bilang aja lu sengaja, mau b u n u h Dina! Iyakan?! Atau, lu mau rampas semua hartanya Dina, pake jalur warisan istri buat suami?”


Reno seketika menoleh, menatap Vanya dengan raut wajah yang mendadak terluka, seolah ia adalah pihak yang paling terpojok di ruangan ini. “Vanya, t o l o n g ya, ini urusan r u m a h tangga aku sama Dina. Aku tau aku salah karena teledor, tapi t o l o n g jangan buat suasana makin panas.”


“Keluar!” desis Dina, menatap t a j a m tepat ke arah manik mata Reno. “Kalo kamu gak bisa bawa Raya ke sini!”


“Dina, jangan kepancing, hei,” bujuk Vanya, melangkah mendekat ke arah r a n j a n g sahabatnya.


“Punya kuping, kan? Dia cuma mau, lo balikin anaknya!” tantang Vanya, melangkah maju demi memisahkan sepasang suami istri itu.


“Vanya, please ….” Reno menurunkan nada suaranya, terdengar sangat memelas. “Gue cuma mau bicara berdua sama istri gue. Bentar aja.”


Dina memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut Reno rasanya memicu rasa ngilu yang luar biasa di perut bawahnya.


“Van …,” lirih Dina akhirnya, membuka suara dengan tenggorokan yang terasa seperti berpasir. “Lo, nunggu di sudut dulu …, boleh ya?”


Vanya terbelalak, menatap Dina tidak percaya.


“Din? Tapi tadi lu bilang—”


“Biarin aja. Kalo macem-macem, kan ada elo?” potong Dina sambil melirik j i j i k ke arah Reno.


Vanya menggeram pelan, melirik Reno dengan tatapan mengancam sebelum melangkah malas ke sudut ruangan.


“Inget, lu ya! Kalo sampe lu berani macem-macem, gua telpon polisi!”


Suasana di dalam bangsal mendadak hening. Reno mengembuskan n a p a s panjang, lalu duduk di tepi r a n j a n g besi, semakin merapatkan tubuhnya pada Dina. Siasat barunya kini mulai dilancarkan.


“U a n g kontrakan tiga bulan ini ke mana, Reno?” Pertanyaan telak dari Dina yang bernada dingin tanpa ekspresi itu seketika membuat t u b u h Reno menegang selama beberapa detik.


Gurat kepanikan melintas di matanya, meski dengan cepat ia kembali berhasil menguasai diri, bahkan memasang senyum t i p i s.


“Ya Allah, Din … jadi Buk Asih udah nagih ke kamu?” Reno menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. “Itu dia, Din. Aku sengaja gak bilang dari kemarin karena gak mau kamu stres pasca-melahirkan. U a n g gajiku tiga bulan ini … dipinjem dulu sama Mama.”


Dina memalingkan wajahnya, lalu kembali menatap langsung ke manik mata suaminya. “Mama lagi, mama lagi! Istri kamu siapa sih?”


“Dapur belakang r u m a h Mama sempat jebol bagian asbes, Din. Belum lagi yang arisan Mama yang numpuk. Kamu taulah, gaya mama gimana,” tutur Reno tanpa berkedip, suaranya sengaja dilembutkan.


“Sebagai a n a k tunggal, masa iya, aku tega liat masa tua mama gak bahagia, Din? Kamu kan tau sendiri gimana sayangnya aku sama Mama. Jadi, aku terpaksa tunda dulu bayar kontrakan kita, toh aku kira Buk Asih bisa diajak rembukan baik-baik.”


Dina tersenyum getir, m e n a h a n air mata yang mendadak mendesak ingin keluar. “Terus a n a k istrinya menderita begini, teganya dia?!” batin Dina menjerit.


Dulu, ia selalu luluh setiap kali Reno membawa alasan berbakti pada orang tua. Namun kini, setelah semuanya terkuak, tameng ‘a n a k berbakti’ itu terasa sangat busuk di telinga Dina.


“Oh, jadi sewa r u m a h gak penting? Itu kewajiban kamu loh! Kepala keluarga, kan?” sindir Dina t a j a m.


Reno memajukan wajahnya, menggenggam kedua tangan Dina lebih erat lagi. “Makanya, Din … dalam kondisi darurat begini, kita gak boleh egois. Mama tadi  janji bakal balikin Raya ke kamu secepatnya, dan kita bisa bayar tunggakan kontrakan ke Buk Asih, asal … kamu mau bantu aku.”


Dina mengernyitkan alisnya, firasat buruk mulai merayapi pikiran.


“Kamu … coba telepon Mama atau Papa kamu, Din,” bisik Reno pelan, menatap Dina penuh harap. “Minta t o l o n g pinjam u a n g dulu ke mereka. Bilang aja buat biaya persalinan kamu yang kurang, atau buat beli perlengkapan b a y i Raya yang mahal-mahal. Orang tua kamu kan tajir, Din. U a n g segitu mah kecil. Kalo udah dikasih, kita bayar deh u a n g kontrakannya, dan aku bisa tebus Raya dari r u m a h Mama buat dibawa pulang ke sini lagi. Kita mulai dari awal lagi, ya, S a y a n g?”


Deg!


Kata-kata Reno langsung m e n g h a n t a m telak sisa-sisa h a r g a diri yang sudah susah payah ia pertahankan.


Ingatan bagaimana dulu ia meyakinkan niat baik Reno di depan Papanya langsung mengelilingi otaknya. Sementara kini, ingatan itu justru menjelma menjadi t a m p a r a n paling k e r a s yang menguliti h a r g a dirinya.


Dina sontak menggeleng tegas. “Gak! Gak mungkin, Reno,” desis Dina, suaranya berubah menjadi getaran amarah.


Reno yang mendengarnya seketika menghembuskan n a p a s k a s a r. Topeng manipulatifnya mulai retak, kerutan amarah terukir jelas di wajahnya kusam.


Ia melepaskan cengkraman tangannya dari jemari Dina dan beralih mencengkeram besi pembatas r a n j a n g r u m a h sakit dengan kuat.


“Kamu kenapa sih, Din? Selalu aja k e r a s kepala!” suara Reno mulai meninggi, tidak peduli lagi dengan situasi bangsal medis.


“Woi!” panggil Vanya dari sudut, menyadari situasi mulai kacau.


Dina melirik ke arah Vanya, memberi kode untuk tetap diam.


“Ini demi a n a k kita! Demi Raya! Gengsi kamu itu gak akan bisa kasih makan a n a k kita, Din! Kenapa sih kamu selalu perhitungan? Padahal Mama cuma pinjam bentar!”


“Aku yang perhitungan atau keluarga kamu yang gak tau diri?!” b a l a s Dina, air matanya akhirnya luruh menembus batas kesabarannya.


Melihatnya, Vanya langsung berlari mendekat. Ia bahkan berdiri pasang badan di antara r a n j a n g Dina dan Reno.


“Gak usah sok k e r a s kepala, Dina! Tanpa u a n g dari kamu buat tebus Raya dari Mama, kamu gak akan pernah bisa lihat a n a k itu lagi!” ancam Reno, menunjuk ke arah Dina berulangkali.


“Heh, cowok mokondo! Keluar lo!” bentak Vanya, mendorong bahu Reno dengan k a s a r hingga pria itu mundur beberapa langkah. “Suster, t o l o n g!”


Reno menatap Vanya dengan pandangan benci yang mendalam, lalu kembali menatap Dina yang kini tengah menangis sesenggukan di atas bantal.


Reno merapikan jaketnya dengan k a s a r, lalu tersenyum miring. “Aku cuma mau yang terbaik buat keluarga kita, Din. Tapi kalo kamu lebih milih dengerin dia, ya … serah! Jangan salahin aku kalo Raya makin betah di r u m a h Mama,” ucap Reno dingin, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan bangsal.


No comments:

Post a Comment