Addense

Thursday, 23 July 2026

Ayah tiri

 


Ayah selalu membanggakan anak tirinya yang katanya pintar. Bahkan ayah memasukan anak tirinya ke universitas bergengsi sedangkan aku yang jelas anak kandungnya dilarang kuliah hanya karena aku tidak sepintar anak pel4kor itu.


Ayah tidak tahu saja kalau aku sudah dapat beasiswa. Aku memilih diam dan pergi dari rumah.


Akhirnya Ayah menyesal saat tahu gundik dan anak tiri kesayangannya itu ternyata ….


Part 1


Hari kelulusan yang seharusnya istimewa dan disambut tawa. Malah terasa hambar. Tidak ada buket bunga besar, tidak ada kamera yang siap momen bahagia ini.


Di sampingku, hanya ada Mbok Yum. Wanita tua itu mengenakan kebaya batik lusuh, tangannya yang keriput menggenggam erat sebuah botol air mineral untukku.


"Non Melody cantik sekali hari ini," bisik Mbok Yum tulus. Matanya berkaca-kaca.


Aku tersenyum tipis, meski hatiku perih. "Terima kasih, Mbok. Kalau bukan karena Mbok yang mengurus aku, mungkin aku nggak akan bisa sampai lulus."


Tidak ada perayaan apapun untukku, sebesar apapun prestasi yang kudapat. Semua itu berbanding terbalik dengan Gisya.


Ayah begitu bangga pada Gisya. Mereka dengan bangga memamerkan momen bahagia itu. Tante Ajeng mengirimkan videonya padaku. 


Terlihat Ayah tertawa lebar saat beberapa kolega menyalaminya.


"Putri saya ini memang luar biasa. Bibit unggul!" seru Ayah bangga, sambil mengusap kepala Gisya.


Luka hatiku semakin meradang.


Bibit unggul? Ayah tidak tahu saja bahwa piala itu dibeli dengan uang suap. Aku teringat kejadian beberapa bulan lalu, saat aku melewati kamar Tante Ajeng. Pintunya sedikit terbuka.


"Pokoknya saya mau kunci jawaban itu sudah ada di tangan Gisya malam ini. Berapa

pun harganya. Suami saya anggota dewan, jangan sampai dia malu kalau anaknya

punya nilai standar." Suara Tante Ajeng di telepon saat itu masih terngiang jelas.


Aku sudah curiga dari lama. Karena Gisya yang sebenarnya hobi keluyuran dan tidak pernah terlihat belajar selalu mendapatkan prestasi. Ternyata mereka memang memakai cara kotor.


Uang yang seharusnya menjadi hakku malah mengalir ke kantong-kantong gelap demi ambisi Gisya dan Tante Ajeng. Tante Ajeng memang tidak pernah memberiku uang sepeserpun. Aku bisa sekolah di sini pun hanya karena bantuan dana hibah dari sekolah untuk siswa tidak mampu.


Mereka menyayangkan kalau aku putus sekolah karena aku berprestasi dan ser1ng memenangi lomba hingga mengharumkan nama sekolah . Ironis, bukan? Anak seor4ng anggota dewan terhormat mendapat bantuan siswa miskin karena ayahnya enggan mengeluarkan sepeserpun untuk d4rah dagingnya sendiri.


"Non, ayo ambil ijazahnya. Giliran Non sekarang," Mbok Yum menyenggol lenganku pelan.


Aku melangkah maju saat namaku dipanggil. "Melody Putri Prima."


Aku berjalan ke atas panggung sambil menahan tangis. Untuk kedua kalinya momen kelulusanku tidak dihadiri ayah. 


Saat pulang ke rumah pun tak ada sambutan atau ucapan selamat. Ayah bersama istri dan anak kesayangannya tertawa bahagia menikmati momen kebersamaan.


“Anak Ayah emang hebat, Ayah yakin kamu akan masuk universitas bergengsi,” ucap ayah dengan bangga.


“Tapi di sana pasti mahal, Yah. Kasihan Ayah.” Gisya memasang t4mpang memelas.


“Ya ampun. Kamu itu anak Ayah, berapapun akan ayah keluarkan demi masa depan kamu, Nak. Jangan pikirkan biaya. Kamu fokus aja kejar cita-cita.” Ayah tersenyum bangga.


Senyum yang dulu diberikannya padaku. Aku bahkan tidak ingat kapan ayah terakhir tersenyum padaku.


“Eh, Melody udah pulang. Sini, Sayang. Ikut makan bareng. Maaf ya, Ibu sama Ayah nggak sempat ke sekolah kamu tadi. Soalnya acara di sekolah Gisya ternyata lumayan lama.” Dengan wajah sok polos yang menjijik4n itu, Tante Ajeng menatapku dengan sorot mata dibuat sedih.


“Aku juga nggak butuh kalian buat ambil ijazahku kok.”


Ayah melotot. “Melody! Jaga bicaramu! Yang sopan pada ibumu!” bentaknya.


Aku menyeringai. “Ibu? Sorry, tapi aku nggak punya ibu pencvri kayak dia.”


“MELODY!”


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi. Rasa perih menjalar sampai menusuk ke ulu hati.


Mataku memanas, tapi sebisa mungkin kutahan air mata agar tidak tumpah. Sudah cukup aku mengeluarkan air kata yang berharga ini hanya karena ulah mereka.


“Mulutmu itu seperti tidak disekolahkan. Hormati dia, memang bukan dia yang melahirkanmu tapi selama ini siapa yang merawat kamu? Anak tidak tahu diri.”


“Apa ada yang salah sama.ucapanku? Dia memang pencvri? Dia mengambil Ayah dari Bunda, menghancurkan kebahagiaan kita!”


“Kamu—” Tangan Ayah melayang siap menamparku lagi.


“Yah, sudah. Jangan begini.” Tante Ajeng menahan tangan ayah. “Melody pasti hanya sedih karena tadi kita nggak datang ke sekolahnya.”


“Kamu jangan membelanya terus. Dia itu salah, jadi harus ditegur. Kalau sampai ayah liat kamu melawan lagi, ayah nggak akan kasih ampun, Melody.”


Aku lelah diinjak-injak. Biarlah ayah memandangku buruk, karena percuma sebaik apapun yang kulakukan pasti tidak akan mengubah pandangan ayah.


“Soal kuliah, jangan harap Ayah akan membiayai kamu. Kamu itu b0doh, kalau kuliah pasti hanya akan bikin Ayah malu.”


Tak masalah. Aku bisa kuliah tanpa uang ayah sepeserpun.


Ayah berjalan ke kamar dan kembali lagi membawa sesuatu dan memperlihatkannya padaku.


“Lihat ini. Gisya sangat berbakat, di usia semuda ini dia bahkan bisa membuat karya yang luar biasa. Ayah yakin dia akan jadi desainer terkenal. Harusnya kamu banyak belajar dari dia bukan malah memusuhinya.”


Mataku melebar melihat kertas-kertas di tangan Ayah. Semua hasil coretan yang menghasilkan desain indah itu milikku.


Kulirik Gisya yang menyeringai. Bibirnya bergerak tanpa suara. “Aku menang.”


Dia m3ncvri hasil karyaku dan mengakui itu sebagai miliknya di depan ayah? G1la! Ibu dan anak sama-sama pencvri.


Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membalas kalian.


No comments:

Post a Comment