Kirana berjalan mendekat, berhenti tepat tiga langkah di depan Arga. Dia mengangkat tangannya, membuka kepalan jemarinya, dan membiarkan gulungan struk kertas yang le cek itu jatuh tepat di atas lantai di hadapan kaki te-ln-jang suaminya.
"Klien mana yang sangat suka Strawberry Pavlova, Mas?"
"Sekretaris baru Kakek, Kirana. Dia yang memesan hidangan penutup itu karena aku menyerahkan pemilihan menu sepenuhnya kepada dia sebagai bentuk apresiasi kerja."
Suara Arga terdengar begitu tenang, datar, dan tanpa beban saat ia membungkuk untuk mengambil rema-san kertas struk di atas lantai marmer. Pria itu bahkan sempat mengulas senyum tipis—sejenis senyuman menenangkan yang biasa ia gunakan untuk meredakan suasana, lalu membu-ang kertas itu ke dalam tong s a m p a h kecil di sudut ka m ar. Ia melangkah mendekati Kirana, mencoba meraih kedua bahu istrinya yang tampak bergetar menahan luapan e m o si.
"Kenapa kamu jadi secem-buru ini, Sayang? Aku ini kerja banting tulang dari pagi sampai malam demi masa depan kita, demi membangun kepercayaan Kakek agar posisi kita di keluarga ini aman," sambung Arga lagi, suaranya melembut, kini terdengar seolah ia adalah pihak yang tersakiti oleh tu du han tak berdasar. "Kalau kamu terus-terusan mencu-rigai hal kecil seperti ini, bagaimana aku bisa fokus bekerja?"
Kirana menatap sepasang mata elang di hadapannya. Tidak ada kedipan ragu, tidak ada getar bersalah. Arga begitu lihai menyusun pembelaan diri hingga untuk sesaat, Kirana merasa seolah-olah dirinyalah yang g i l a dan berpikiran sem pit. Rasa se sak di da danya tak serta-merta hilang, namun Kirana memilih untuk mundur satu langkah, melepaskan cengke-raman tangan Arga di bahunya.
"Maaf, Mas. Mungkin aku hanya terlalu le lah," bisik Kirana lirih, membalikkan ba dan dan berjalan menuju sisi rn-jang yang dingin.
Tiga hari berlalu sejak insiden malam itu. Arga tiba-tiba pamit untuk melakukan dinas luar kota ke Surabaya selama tiga hari demi meninjau proyek pembangunan hotel baru milik kakeknya. Kepergian Arga memberikan ruang bernapas yang sangat ia butuhkan, sekaligus menyisakan kesunyian yang mence-kam di dalam rumah megah mereka.
Pagi ini, udara Jakarta terasa agak lembap karena sisa hujan semalam. Kirana memutuskan untuk menyibukkan diri agar tidak tenggelam dalam lu bang spekulasi yang melelahkan. Ia mulai membersihkan rumah, mengganti seprei, hingga akhirnya langkah kakinya berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh di sudut lantai dua.
Ruang kerja pribadi Arga.
Ruangan itu adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang hampir selalu dikunci rapat oleh Arga sejak mereka pertama kali menikah. Arga selalu beralasan bahwa di dalamnya terdapat dokumen-dokumen penting perusahaan Kakek yang bersifat raha-sia dan tidak boleh tercecer.
Namun hari ini, entah karena terburu-buru mengejar penerbangan subuh tadi atau memang takdir sedang menuntun jalannya, Kirana mendapati pintu itu sedikit renggang. Kuncinya menggantung di lu bang pintu.
Jantung Kirana mulai bertalu-talu. Ada per-ang batin yang berkeca-muk di dalam d a d a nya. Sebelah hatinya mengatakan ini adalah tindakan lan-cang yang melanggar privasi suami, namun belahan hatinya yang lain—yang sudah terlanjur terlu ka—menuntut pembuktian atas segala kejanggalan belakangan ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kirana mendorong pintu itu perlahan.
Krieeek.
Aroma maskulin khas Arga langsung menyambut indra pen c i u m a n nya. Ruangan itu sangat rapi.
Sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni terletak di tengah, diapit oleh rak buku menjulang tinggi yang penuh dengan literatur hukum dan bisnis. Kirana melangkah mendekati meja kerja tersebut, jemarinya mengu sap permukaan kayu yang berdebu tipis.
Perhatian Kirana tiba-tiba tersita oleh sebuah buku agenda kulit tebal yang terletak di selipan rak buku paling bawah. Buku itu tampak sedikit menonjol dari barisannya. Saat Kirana menarik buku tersebut, sebuah benda logam kecil terjatuh dan berdenting di atas lantai.
Sebuah kunci kecil berkilau keemasan dengan ukiran yang unik.
Kirana menatap kunci itu, lalu beralih menatap laci paling bawah dari meja kerja Arga—satu-satunya laci yang memiliki lubang kunci serupa. Rasa penasaran yang begitu pekat merayap, memba k ar seluruh keraguannya. Kirana berlutut di atas lantai, memasukkan kunci kecil itu ke dalam lubangnya, dan memutarnya.
Klik.
Laci itu terbuka. Aroma wangi yang sangat familier seketika menguar dari dalam laci, membuat b u l u kuduk Kirana berdiri roman. Aroma manis perpaduan melati dan vanila. Wangi yang sama dengan parfum asing di jas Arga beberapa malam lalu.
Di dalam laci yang hampir ko song itu, tidak ada dokumen perusahaan Kakek yang rumit. Hanya ada sebuah kotak beludru merah berukuran sedang. Dengan napas yang memburu dan jan&tung yang berdegup kencang di rongga d a d a, Kirana membuka kotak tersebut.
Kilau emas putih langsung memantulkan cahaya ruangan. Di dalam kotak itu terbaring sebuah bros emas berdesain sangat elegan berbentuk kelopak bunga anggrek, bertatahkan berlian kecil yang berkilauan mewah. Nilainya pasti mencapai puluhan atau bahkan ratu-san ju ta ru-piah.
Kirana memegangi bros tersebut dengan jemari yang bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini merebak, mengaburkan pandangannya. Otak Kirana langsung memproses satu fakta manis yang mendadak menyeruak di tengah kegelapan: Minggu depan adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.
"Mas Arga... menyiapkan ini untukku?" bisik Kirana pada kesunyian ruangan, sebuah senyuman haru perlahan terbit di sela sisa air matanya.
Rasa bersalah yang teramat besar seketika menghan-tam dinding hati Kirana. Ia merasa menjadi istri paling berdo sa di dunia karena telah meragukan ketulusan suaminya sendiri. Aroma parfum di jas, senyuman misterius di ponsel, dan makan malam mewah itu... mungkinkah semuanya adalah bagian dari rangkaian sandiwara Arga demi menyiapkan kejutan besar ini? Mungkinkah Arga sengaja berpura-pura dingin dan sibuk agar Kirana terkejut saat hari jadi mereka tiba?
Kirana mendekap kotak beludru itu di d a d a nya dengan perasaan lega yang membun-cah. Namun, saat ia hendak mengembalikan kotak itu ke posisi semula, jemarinya menyenggol selembar kertas kecil yang terlipat rapi di dasar laci, tepat di bawah kotak beludru tadi.
Rasa penasaran membawa Kirana untuk membuka lipatan kertas tersebut. Itu bukan dokumen kantor, melainkan selembar no ta pembelian dari toko perhia-san tempat bros itu dibe li.
Mata Kirana menyusuri rincian nota tersebut. Tanggal pembelian: Kemarin lusa. Harga: Rp85.000.000.
Namun, senyuman Kirana mendadak membeku, dan seluruh pasokan oksigen di pa ru-pabrunya seolah dise dot habis ketika matanya tertuju pada kolom paling bawah nota tersebut. Kolom bertuliskan 'Catatan Pengiriman & Grafir Nama'.
Di sana, tertulis sebaris instruksi dengan tinta hitam, ditulis langsung oleh tangan Arga yang sangat Kirana kenali:
"Grafir di bagian belakang bros: 'Untuk Nadia-ku tercinta, lekas sembuh. Hati ini selalu milikmu.' Kirim langsung ke alamat Paviliun Melati, RS Medika Sentosa."
Dunia Kirana run-tuh seadi-jadinya dalam satu detik. Kotak beludru di tangannya terlepas, jatuh meng h a n-tam lantai marmer dengan suara berdebam yang memekakkan telinga. Detak jantungnya seolah berhenti. Bros mewah itu... bukan untuknya. Parfum wangi melati itu... adalah wangi wanita bernama Nadia yang sedang terba ring di rumah sa k it.
Gemetar di seluruh tu b u h Kirana berubah menjadi dingin yang mema-tikan. Air mata yang keluar kali ini bukan lagi karena rasa haru, melainkan tetesan d a r a h dari hatinya yang baru saja dica bik-ca bik tanpa ampun. Di tengah kesunyian ruang kerja yang m e n ce-ka m itu, ponsel di sa ku gaun Kirana bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Arga.
‘Sayang, aku baru selesai meninjau lokasi tapak h o t e l di Surabaya. Kamu sudah tidur?’
Kirana menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong, air matanya menetes tepat di atas nama Arga. Dengan jemari yang sedingin es dan dada yang terasa remuk tak berbentuk, ia mengetikkan balasan dengan senyuman paling getir dalam hidupnya.
"Belum Mas, aku baru saja melihat hadiah indahmu untuk Nadia."
Judul: Pembalasan Istri Yang Dibo-hongi.

No comments:
Post a Comment