Addense

Monday, 20 July 2026

Di tinggal ayah di temani alloh

 Kata dokter, anak ku tidak akan bisa mengingat apa pun lebih dari lima menit. Tapi hari ini, di depan jutaan penonton, dia melafalkan ayat-ayat yang bahkan tak sempat kupelajari semuanya. 




"Kadang Allah menulis cerita paling indah dengan tinta air mata."


---


Tanganku gemetar memegang tiket akses backstage yang sudah kusut. Entah sejak kapan aku meremasnya tanpa sadar. Di sekelilingku, riuh rendah orang tua peserta lain yang sibuk memotret a naknya dengan kamera profesional. Ada yang membawa goodie bag branded, ada yang sibuk video call dengan keluarga di rumah menggunakan iPhone terbaru. Sementara aku? Hanya berdiri di pojokan dengan jaket lusuh pemberian Bu Ratih—ibuku—yang sudah tiga tahun menemani dinginnya AC Jakarta.


Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantung yang berdetak kencang sejak subuh tadi. Studio televisi ini terlalu megah untukku. Lampu-lampu studio yang menyilaukan, kamera besar yang berjejer, dan layar LED raksasa yang menampilkan logo Kompetisi Hafizh Qur'an Nasional 2024 membuat dadaku sesak. Seperti mimpi yang terlalu tinggi untuk seorang buruh cuci dari gang sempit Brebes.


Tapi ini bukan tentang aku.


Ini tentang salah satu dari ana k kembar anakku, Aksa. An ak yang spesial dari hatiku.


Mataku mencari sosok an ak kecil di antara barisan peserta yang duduk rapi di kursi tunggu. Dan aku menemukannya—duduk paling pojok, tangan mungilnya menggenggam mushaf kecil pemberian Ustadz Mahmud. Rambutnya yang ikal kusisir rapi pagi ini, baju koko putihnya yang kubeli dari toko kelontong Pak Mahmudi sudah kusetrika sampai tidak ada satu lipatanpun. Dia terlihat begitu tenang, berbeda sekali dengan ibunya yang sekarang hampir menangis karena gugup.


Sepuluh tahun.


Sepuluh tahun yang terasa seperti seabad.


Sepuluh tahun air mata, keringat, dan doa yang hampir putus asa.


Semua bermuara di sini. Di panggung megah ini. Di studio televisi yang bahkan ongkos transportnya saja setara dengan gajiku sebulan sebagai pembantu.


"Ibu Diyah?"


Aku menoleh. Seorang panitia muda dengan clipboard dan headset tersenyum padaku.


"Muhammad Aksa urutan ketujuh ya, Bu? Persiapannya dimulai 15 menit lagi. Ibu bisa duduk di sana." Dia menunjuk deretan kursi untuk pendamping. "Nanti saat Aksa dipanggil, Ibu boleh ke sisi panggung untuk support."


Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat. "Terima kasih."


Langkahku terasa berat menuju kursi yang ditunjuk. Di sampingku, seorang ibu berkacamata branded sedang bicara dengan suaminya yang mengenakan jas rapi.


"Alhamdulillah Bian sudah siap. Kemarin kita sudah simulasi sampai tiga kali dengan guru privat tahfizh dari Madinah," kata ibu itu dengan nada bangga.


Aku menunduk, memeluk tas kresek berisi air mineral dan obat kejang Aksa. Tidak ada guru privat dari Madinah. Tidak ada simulasi mewah. Yang ada hanya YouTube gratisan, murotal Syekh Mishary yang diputar berulang-ulang dari ponsel butut, dan suara tangis Aksa setiap kali kejangnya datang di tengah malam.


Tiba-tiba mataku bertemu dengan mata Aksa. Dia tersenyum. Senyum kecil yang membuatku ingin berlari memeluknya, tapi aku tahu aku tidak boleh. Aksa harus fokus. Dia harus tenang. Aku yang tidak boleh jadi beban untuknya hari ini.


Aku membalas senyumnya sambil menunjukkan jempol. "Kamu pasti bisa, Nak."


Aksa mengangguk kecil, lalu kembali membuka mushafnya.


"Ya Allah, kuatkan kami."


Suara host dari arah panggung mulai terdengar. Lampu studio menyala lebih terang. Musik opening mengalun. Kompetisi dimulai.


Satu per satu peserta dipanggil. Aku menyaksikan a nak-an ak dengan hafalan luar biasa naik ke panggung, membacakan ayat-ay at suci dengan tartil dan fasih. Juri-juri yang duduk di meja depan mengangguk-angguk, sesekali mencatat sesuatu di kertas mereka. Penonton di tribun bertepuk tangan setiap peserta selesai.


Dadaku semakin sesak.


Mereka semua luar biasa. Semuanya sempurna. Bagaimana mungkin Aksa bisa bersaing dengan mereka? A nak-an ak yang mungkin tidak pernah merasakan kejang di tengah malam, tidak pernah tatntru m sampai memukul kepalanya sendiri ke dinding, tidak pernah diragukan dokter tentang kemampuan otaknya.


"Peserta urutan ketujuh, Muhammad Aksa dari Pondok Pesantren Tahfizh Al-Hikmah, Brebes!"


Jantungku seolah berhenti.


Aksa berdiri. Tangannya menggenggam mushaf itu lebih erat. Dia berjalan menuju panggung dengan langkah kecil-kecil. Aku ikut berdiri, kakiku bergerak sendiri menuju sisi panggung seperti yang diizinkan panitia.


Di bawah sorot lampu studio yang menyilaukan, Aksa terlihat sangat kecil. Sangat rapuh. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuatku yakin bahwa Allah sedang memegang tangannya sekarang.


Host tersenyum ramah. "Assalamu'alaikum, Dek Aksa. Nervous nggak?"


Aksa menggeleng pelan. Suaranya lirih tapi jelas tertangkap mikrofon. "Nggak, Kak. Aksa percaya sama Allah."


Seluruh studio hening sejenak.


Lalu tepuk tangan meriah pecah.


Air mataku jatuh. Aku tidak peduli lagi siapa yang melihat. Aku tidak peduli dengan ibu-ibu lain yang mungkin berbisik tentang jaket lusuhku atau tas kresek murahan di tanganku.


Yang aku tahu, sepuluh tahun lalu, dokter bilang Aksa tidak akan bisa menyimpan memori besar.


Tapi hari ini, anakku berdiri di panggung nasional, siap membacakan 30 juz Al-Qur'an yang tersimpan sempurna di otaknya yang kata mereka "terbatas."


Host melanjutkan. "Baik, Dek Aksa. Silakan ambil undian surat dan ayat yang akan kamu baca hari ini."


Aksa memasukkan tangannya ke dalam kotak undian.


Jantungku berdegup kencang. Tanganku basah oleh keringat dingin.


Aksa mengeluarkan selembar kertas.


Host membukanya. Wajahnya sedikit terkejut.


"Surat Al-Baqarah, ayat 155 sampai 157."


Aku tahu ayat itu.


Ayat tentang ujian. Tentang kesabaran. Tentang mereka yang ketika ditimpa musibah berkata: "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali."


Aksa mengambil napas.


Dan saat bibirnya mulai membuka, saat huruf-huruf suci mulai mengalir dari mulut mungilnya dengan nada yang merdu—


Tangannya tiba-tiba bergetar.


Aku mengenali getar itu.


"Ya Allah, jangan sekarang."


Tidak di sini. Tidak di depan kamera. Tidak di tengah panggung.


Tapi Aksa tetap melanjutkan bacaannya.


Getaran di tangannya semakin kuat.


Dan aku tahu—


Keja ngnya datang.


Bersambung 

No comments:

Post a Comment