Lima Tahun Setelah Dipisahkan Secara Pak-sa dari Ba-yi ku, Aku Kembali… Tapi Hanya Sebagai Pengasuh untuk A-nak Kan-dung Sendiri, dan A-nak-ku Memanggilku, Bibi...
“Maksud kamu?”
“Ya enggak apa-apa. Bagus, dong, kalau Arumi nya-man.” Ia lalu menoleh ke Nayara. “Tapi Mbak Nia juga harus hati-hati, ya.” ucap Indira.
“Hati-hati bagaimana, Bu?” tanya Nayara.
Indira tersenyum. “A n a k kecil gampang sekali lengket. Kadang kalau terlalu di man-ja kan, nanti su-sah lepas.”
Kalimat itu membuat ra-hang Nayara mengen-cang.
Seolah-olah kedekatan ini adalah ke-sa-lah-an. Seolah-olah cin-ta seorang Ibu adalah sesuatu yang harus dibatasi.
Nayara menahan diri untuk tidak mem-ba-las terlalu jauh.
“Saya cuma berusaha menenangkan Arumi,” jawab Nayara.
“Tentu, saya cuma mengingatkan. Ta-kut-nya nanti dia terlalu bergantung.” ucap Indira.
“Kalau itu bikin Arumi tenang, saya rasa nggak ma-sa-lah.” kata Arsha.
Indira menoleh cepat. Mungkin ia tidak menyangka Arsha akan mem-be-la Nayara.
Dan Nayara melihat jelas bagaimana senyum perempuan itu re-tak tipis sebelum kembali rapi.
“Tentu,” jawab Indira lem-but. “Aku juga cuma mikirin Arumi.”
“Ngomong-ngomong,” lanjut Indira sambil memandang Nayara lagi, “besok pagi Arumi ada terapi. Jadi Mbak Nia sebaiknya jangan terlalu capek malam ini. Masih lama jaga
a n a k kecil yang sen-si-tif.”
Namun sebelum Nayara sempat menjawab, Arumi mendadak bergerak kecil. Kepalanya bergeser sedikit di pang-kuan Nayara, lalu bi-bir mungil itu menggumam setengah sa-dar,
“Jangan be-ri-sik.”
Ruangan langsung hening.
Indira mem-be-ku. Arsha menahan na-pas. Nayara sendiri nyaris tak percaya.
Dan yang paling meng-han-cur-kan adalah Arumi tak berhenti di sana.
A n a k itu merapat lebih dekat ke pe-rut Nayara, lalu me-nge-luh kecil dengan nada man-ja,
“Arumi mau ti-dur sama Mama.”
Ucapan Arumi cukup untuk membuat da-rah Nayara mem-be-ku.
Dan kali ini, bukan hanya Arsha yang mendengarnya.
Indira juga.
Ruangan itu seketika mem-be-ku. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bicara.
Bahkan bunyi monitor di samping ran-jang mendadak terdengar terlalu nyaring di telinga Nayara.
Sementara satu kalimat kecil yang baru saja ke-lu-ar dari bi-bir Arumi terus menggema di kepalanya seperti pa-lu yang meng-han-tam berulang kali.
Du-nia seperti berhenti berputar.
Nayara me-na-tap wajah kecil putrinya yang masih setengah ter-ti-dur, pi-pi-nya menem-pel manja di pe-rutnya, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang paling wajar di dunia.
Padahal tidak. Tidak ada yang wajar dari malam ini.
Perlahan, Nayara mengangkat wa-jah. Dan tepat seperti yang ia ta-kut-kan, Arsha sedang me-na-tap-nya.
Ta-tap-an lelaki itu tak lagi sekadar bingung. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam di sana sekarang. Sesuatu yang mulai merangkai potongan-potongan kecil yang selama ini berserakan.
Lagu itu. Panggilan itu. Cara Arumi me-nem-pel. Cara Nayara me-nyen-tuh, menenangkan, me-me-luk. Semuanya.
Dan di sisi lain ran-jang, Indira terlihat jauh lebih bu-ruk.
Wa-jah perempuan itu masih tersenyum tipis, tapi matanya me-nya-la seperti sesuatu yang nyaris pe-cah.
Untuk pertama kalinya malam itu, topeng tenangnya re-tak cukup jelas.
“Arumi ngigau,” katanya cepat.
Seolah ia buru-buru ingin menutup lu-bang yang baru saja ter-bu-ka lebar di depan mereka.
“Dia setengah ti-dur,” lanjut Indira sambil tertawa kecil yang terdengar hambar. “A n a k kecil memang su-ka asal ngomong kalau ngantuk.”
Tak ada yang menjawab. Karena bahkan ke-bo-ho-ngan itu terdengar terlalu ra-puh untuk dipercaya.
Arsha tak mengalihkan pandangannya dari Nayara.
“Dia manggil apa tadi?” tanyanya pelan.
Jan-tung Nayara seperti ja-tuh ke lantai.
Indira langsung menyahut, “Paling cuma sa-lah dengar ...”
“Mama,” po-tong Arsha tanpa menoleh. “Dia bilang Mama.”
Ruangan itu kembali hening.
Nayara merasakan telapak tangannya mulai dingin.
Arumi bergerak kecil, lalu merapat lagi ke tu-buh-nya. Jemari mungil itu kini men-ceng-ke-ram kain bajunya dengan sangat e-rat, seperti a n a k kecil yang ta-kut seseorang akan me-na-rik tempat amannya per-gi.
Dan entah kenapa, justru pemandangan itu yang membuat Arsha terlihat makin ter-gun-cang.
Karena tak ada a n a k yang akan me-me-luk orang a-sing seperti itu. Tak ada a n a k yang akan menyebut panggilan sein-tim itu tanpa alasan.
“Pak,” suara Nayara akhirnya ke-lu-ar, pelan dan hati-hati. “Arumi lagi ngantuk. Kadang a n a k kecil suka nyampur mimpi sama kenyataan.”
Kalimat itu tak sepenuhnya bo-hong. Tapi tetap tak cukup kuat untuk menyelamatkan semuanya.
Arsha masih me-na-tap-nya.
“Siapa Anda?”
Nayara tak bisa langsung menjawab.
Karena apa yang bisa ia katakan?
Bahwa ia adalah perempuan yang pernah di-cin-tai, lalu di bu-ang? Bahwa ia adalah Ibu kan-dung a n a k yang kini ti dur di pang-kuannya? Bahwa lima tahun hidupnya habis dalam lu-ka yang dibuat keluarga ini?
Tidak. Belum sekarang.
Sebelum Nayara sempat memaksa bi birnya bergerak, Indira kembali masuk di tengah.
“Arsha, cukup,” katanya lem-but, kali ini sambil memegang lengan lelaki itu. “Ini sudah malam. Mbak Nia juga pasti capek.”
Arsha menoleh singkat ke arah Indira.
“Capek bukan berarti saya nggak boleh tahu kenapa a n a k saya bersikap seperti ini ke orang yang baru dia kenal.”
Kalimat itu membuat senyum Indira mene-gang.
Dan untuk sepersekian detik, Nayara benar-benar bisa melihat pa-nik di balik wa-jah perempuan itu.
Indira tahu. Kalau Arsha terus menggali, cepat atau lambat, semuanya bisa ter-bong-kar.
“A n a k kecil yang lagi sa kit memang lebih sen-sitif,” jawab Indira. “Mungkin dia cuma merasa nya-man.”
“Nya-man sampai manggil Mama?” Suara Arsha kali ini sedikit lebih ta-jam.
Indira terdiam.
Sementara Nayara hanya bisa menahan na-pas, ta-kut satu gerakan kecil saja akan membuat semuanya benar-benar pe-cah malam ini.
Namun sebelum siapa pun sempat berkata lagi, Arumi mendadak merengek kecil. Tangannya makin e-rat me-me-luk Nayara.
“Jangan ribut,” bi-sik-nya lemah.
Semua orang langsung diam.
Nayara refleks membelai rambut a n a k itu. “Shh … nggak ribut, Sa-yang. Ti-dur lagi ya.”
Arumi mengangguk kecil dalam kondisi setengah sa-dar. Wa-jah mungil itu kembali menyu sup ke tu-buh Nayara, seolah seluruh keributan dunia tak akan bisa menyen-ttuhnya selama perempuan itu masih ada.
Dan entah kenapa, justru momen kecil itulah yang membuat sesuatu di wa-jah Arsha run-tuh sedikit. Karena a n a k itu terlihat terlalu damai di sana.
Sementara setiap kali bersama orang lain, Arumi justru terus ge-li-sah.
Akhirnya Arsha menarik napas panjang, lalu mengusap wa-jah-nya pelan.
“Kita bahas nanti,” ucapnya singkat.
Nayara tak tahu harus merasa le-ga atau justru lebih ta-kut. Karena “nanti” dari lelaki itu terdengar seperti an-cam-an yang hanya ditunda.
Indira langsung me-nang-kap celah itu.
“Aku antar Mama pulang dulu ya,” katanya cepat, lalu me-na-tap Nayara dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Biar Mbak Nia fokus jaga Arumi.”
Nayara tahu itu bukan sekadar izin pamit. Itu pe-ringat-an.
Arsha hanya mengangguk singkat.
Indira berbalik, tapi sebelum ke-lu-ar, matanya sempat bertemu lagi dengan Nayara. Dan kali ini tak ada kepu-ra-pu-raan di sana. Hanya ke-ben-ci-an yang mulai telan-jang.
Pintu tertutup. Ruangan kembali hening.
Namun justru setelah mereka per-gi, suasana terasa jauh lebih be-rat. Karena kini tinggal mereka bertiga.
Arumi yang terti-dur. Arsha yang diam. Dan Nayara yang nyaris tak sanggup berna-pas normal.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Arsha berkata tanpa me-na-tap-nya, “Dia belum pernah manggil siapa pun begitu.”
Nayara meng-gi-git bagian dalam pi-pi-nya.
“Ada banyak hal yang bisa terjadi kalau a n a k lagi trau-ma, Pak.”
Arsha tertawa pendek. Bukan tawa senang. Lebih seperti tawa seseorang yang terlalu le-lah untuk percaya, tapi terlalu sa-dar untuk menga-baikan.
“Trau-ma nggak bikin a n a k tahu lagu yang bahkan nggak pernah saya dengar lagi selama bertahun-tahun.”

No comments:
Post a Comment