Addense

Monday, 20 July 2026

Kejadian waktu hamil

 Ditinggalkan, diselingkvhi saat hamil dan tidak ditemani saat melahirkan. Suami menikah lagi dengan perempuan lain.


Diselingkvhi Saat Hamil, Dinikahi Berondong Tajir




Lelah rasanya ditengah usia kan-dung-an yang semakin hari semakin membesar, sikap dan kelakuan Mas Satya benar-benar membuatku han-cur. Harusnya kasih sa-yang dan kelembutan dari suami aku dapatkan di saat-saat menjelang me-la-hir-kan seperti sekarang bukan malah sebaliknya.


Ya Allah, cobaan ini begitu indah. Aku mencoba ikhlas walau kenyataannya sungguh me-nya-kit-kan. Semoga saja aku diberi kekuatan agar bisa melewati semuanya dengan mudah.


Aku tidak ingin ba-yi dalam kan-dung-an ku terdampak perasaan yang dialami Ibunya. Sekarang aku berusaha lebih tenang dan tidak mementingkan ego ku. Belajar mengontrol em-o-si dan lebih bersabar lagi tentunya.


Kepulangan Mas Satya sudah tak ku tunggu lagi, terserah dia mau pulang atau tidak, aku sudah tidak ambil pusing. Hampir semua kewajiban seorang istri berusaha aku kerjakan mengurus a-nak, beres-beres ru-mah, mencuci, dan memasak walaupun sudah jarang Mas Satya makan di ru-mah. 


Aku tidak ingin jadi istri dur-ha-ka, biarlah apa yang dilakukan Mas Satya aku tidak mau tahu. Lebih baik tidak mengetahui apapun dari pada mengetahui kebenaran dan nantinya malah berujung sa-kit hati. 


Aku juga sudah tidak mau tahu bagaimana hu-bung-an Mas Satya dan Rena sekarang. Selentingan-selentingan tentang kedekatan Mas Satya dan Rena tidak di pedulikan, aku sudah tidak ingin mendengar apapun tentang mereka berdua. Tetangga juga banyak mengadukan kelakuan keduanya tapi aku tidak ambil pusing. Apapun yang mereka lakukan toh dosanya mereka berdua yang tanggung.


Sekarang aku Mulai memutar o-tak, bagaimana agar bisa bertahan hidup kedepannya. U4ng belanja yang diberikan Mas Satya semakin bulan malah semakin berkurang. Aku harus bisa berusaha agar u4ng yang ku miliki bisa sampai dan bertahan sampai akhir bulan. 


Aku harus jadi perempuan ku-at dan pintar. Aku akan membuktikan jika aku bisa hidup tanpa Mas Satya. Aku harus sanggup membesarkan Brama dan ba-yi di pe-rut-ku sendiri.


Aku mencoba membuat camilan seperti cilok, bakso goreng pedas, cireng, risol dan masih banyak lagi. Semua hanya di ju-al secara online seseuai jumlah pesanan. Hari-hari pertama memang hanya beberapa saja yang memesan daganganku via aplikasi, tapi mudah-mudahan kedepannya laris dan banyak yg memesan.


"Ini bel4njaannya, Mbak Gina," seru Mbak Ivi.


"Terima kasih, Mbak. Maaf tiap hari merepotkan," ucapku.


Alhamdulillah aku mempunyai tetangga yang baik, sekarang Mbak Ivi sudah seperti Kakak bagiku. Dia berbaik hati mau dititipi bel4njaan setiap hari, mungkin tidak te-ga juga melihatku yang setiap pagi berbel4nja berjalan kaki dengan pe-rut yang semakin membesar.


Bukan hanya Mbak Ivi, Mas Galih suaminya juga sangat baik. Mas Galih mempromosikan ju4lanku pada karyawan pabrik lain sehingga banyak yang memesan dan menitip padanya.


Rasa sa-kit ini sedikit banyak membawa perubahan pada diriku. Aku yang lemah berusaha untuk menjadi wanita tangguh dan ku-at.


Semenjak berumah tangga dengan Mas Satya, mana pernah aku mengganti tabung gas yang habis. Takut me-le-dak dan tidak berani. Sekarang mau tidak mau harus bisa sendiri karena Mas Satya sudah tidak pernah memperhatikan lagi, mana peduli dia dengan gas yang habis.


Beberapa kali meminta tolong tetangga mengganti gas yang habis, ku perhatikan bagaimana cara mereka memasang tabung gas yang benar. Sekarang dengan modal keberanian dan menyampingkan rasa ta-kut, aku bisa memasang gas sendiri. Jujur ma-lu rasanya jika tiap gas habis harus merepotkan tetangga terus.


Untunglah Brama tumbuh jadi a-nak yang pintar, dia sedikit-sedikit mau membantu Ibunya dan berusaha menjaga ku dan calon adiknya. Saking pintarnya Brama bisa tahu perubahan pada Ayahnya tanpa aku beritahu. 


Padahal aku sama sekali tidak mengeluh tentang Mas Satya tapi Brama begitu peka. Jika Mas Satya pulang dia selalu stand-by di dekatku. Katanya ta-kut jika Ayah nanti me-nya-kiti Ibu.


Masya Allah, aku bersyukur sekali telah dititipkan malaikat kecil itu. Brama yang selalu ada, me-me-luk dan menenangkan saat aku terpuruk sekalipun. Sekarang aku hanya berdua dengan Brama, harus kuat dan selalu bersama dalam situasi apapun.


"Dengar! Aku akan mengikuti acara yang diadakan pabrik ke luar kota. Selama tiga hari, Galih, Ivi dan a-nak-nya juga ikut," celoteh Mas Satya.


Aku mengangguk dan tak banyak berkomentar, malas dan ta-kut sa-lah juga. Dimata Mas Satya sekarang sedikit saja aku membuat ke-sa-lah-an semuanya bisa berabe.


"Kalau begitu Brama ikut! Ajak juga Ibu!" seru Brama.


Aku tidak menyangka jika a-nak tampanku. seberani itu pada Ayahnya.


"Ibu kan sedang ha-mil besar, bagaimana kalau nanti me-la-hir-kan disana? Dari pada menyusahkan orang di tempat yang jauh lebih baik kamu dan Ibu tidak ikut ... Brama jaga Ibu baik-baik ya? Kalau ada apa-apa kabari, telepon Ayah!" bujuk Mas Satya.


Aku menyuruh Brama pergi dan bermain bersama teman-temannya agar tidak melihat saat Mas Satya per-gi bersama Rena.


"Simpan u4ng untuk  biay4 me-la-hir-kan, Mas! Menurut perkiraan Bu Bidan aku akan me-la-hir-kan besok. Untuk jaga-jaga, ta-kut-nya nanti aku me-la-hir-kan saat Mas belum pulang," pintaku.


"Ribet sekali, me-la-hir-kan saja belum, sudah minta u4ng. Aku tidak akan memberikan u-ang-nya, nanti habis!" sen-tak-nya.


Ya Allah ... setega itu Mas Satya padaku, sekarang. Selain cin-ta dan ka-sih sa-yang-nya, ternyata kepercayaannya terhadapku juga sudah hilang.


"Lalu ... jika aku benar me-la-hir-kan besok bagaimana?" tanyaku lagi, pelan.


"Ini bukan di kutub, tekhnologi canggih, tinggal menggeser layar handphone saja aku bisa mengirimkan u4ng ke sudut dunia manapun," pungkasnya.


Aku mengalah, tak ada gunanya juga berdebat. Aku membawa tas ransel milik Mas Satya dan mengantarnya sampai ke teras.


Setelah aku menyalami Mas Satya, Rena datang dan naik ke motor Mas Satya. Rena begitu tanpa do-sa, per-gi dibonceng suamiku tanpa permisi sama sekali. Nauzubillah ... Rena bisa setenang itu.


Mas Satya dan Rena sudah tak peduli lagi dengan apa kata orang sekitar. Mereka berdua sudah tidak ma-lu atau sungkan saling panggil sa-yang di tempat umum. Sekali lagi aku hanya bisa mengelus da-da dan mengucap Istighfar. Terus bersabar, menutup mata dan telinga agar pikiranku tenang agar kesehatan aku dan ba-yi tetap stabil menjelang me-la-hir-kan.


Wajah Brama berubah murung, aku faham ... a-nak seumuran Brama pasti ingin sekali per-gi liburan dan bermain pasir di tepian pantai. Aku tidak mau hatinya ke-ce-wa, setelah Mas Satya per-gi aku mengajak Brama per-gi mem-be-li mainan di toko mainan yang tak jauh dari kon-trak-an.


Meskipun tidak akan menghilangkan rasa ke-ce-wa Brama terhadap Ayahnya, setidaknya mudah-mudahan dia senang bisa memb3li mainan yang sudah lama ia inginkan. Ada sedikit sim-pan-an, tak apa aku be-li-kan separuh yang penting jagoanku bisa bahagia dan tidak ber-se-dih lagi.

No comments:

Post a Comment