Addense

Sunday, 12 July 2026

 (21+) Cinta Terlarang di Usia yang Salah






Bab 1: Hampa di Antara Kenyamanan


Rumah itu terasa sunyi meski dipenuhi tawa. Aku duduk di kursi panjang ruang keluarga, sebuah kursi yang sama selama lima belas tahun terakhir. Di depanku, dua anakku, Raka dan Dinda, bergulat memperebutkan remot televisi. Tawa mereka menggema, memantul dari dinding-dinding yang kucat ulang dua tahun lalu. Istriku, Laras, berada di dapur. Aku bisa mendengar dentingan piring dan sesekali suaranya yang lembut memarahi pembantu rumah tangga karena lupa menaruh gula di tempatnya.


Ini adalah hidup yang seharusnya membuatku bahagia.


Di usia empat puluh lima tahun, aku, Arman Perdana, telah mencapai semua yang diimpikan kebanyakan orang. Aku memiliki perusahaan konstruksi menengah yang stabil, rumah di kawasan elit Jakarta Selatan, dua mobil mewah, dan tabungan yang cukup untuk masa depan anak-anakku. Laras adalah istri yang sempurna. Kami bertemu sejak kuliah, menikah muda, dan membangun semuanya dari nol. Dia setia, sabar, dan selalu menjadi penopangku di masa-masa sulit.


Lalu mengapa rasanya ada yang kosong?


Aku memejamkan mata, berusaha mengusir rasa hampa itu. Tapi ia seperti bayangan yang selalu mengikuti. Beberapa tahun terakhir, aku merasa seperti robot. Bangun pagi, sarapan, ke kantor, rapat, pulang, makan malam, tidur. Semuanya berjalan seperti jarum jam. Aku dan Laras masih berbagi ranjang yang sama, tapi gairah itu telah lama padam. Mungkin setelah kelahiran Dinda, atau mungkin setelah bisnisku mulai stabil. Aku tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku benar-benar merasa hidup.


“Ay, Ayah, Dinda nakal!” seru Raka, menarikku dari lamunan.


Aku membuka mata dan tersenyum. “Raka, kasihan adikmu.”


“Tapi dia gak mau ganti channel, Yah. Ayah kan janji mau nonton bola sama Raka.”


“Nanti malam ya, Nak. Sekarang temani adikmu dulu.”


Raka menggerutu kecil, tapi akhirnya menyerahkan remot pada Dinda yang berteriak kegirangan melihat kartun kesukaannya. Aku mengamati mereka berdua. Raka berusia dua belas tahun, usianya sudah menunjukkan sifat mandiri dan kadang keras kepala seperti aku. Dinda baru sembilan tahun, dia adalah bidadari kecilku yang selalu berhasil membuatku tersenyum dengan tingkah polosnya.


Aku mencintai mereka. Sungguh. Tapi cinta itu terasa seperti kewajiban, bukan ledakan yang membuat jantung berdebar.


Ponselku bergetar. Siapa lagi yang menghubungi di jam seperti ini? Aku mengangkatnya dan melihat nama “Budi” – manajer proyekku. Aku menghela napas. Mungkin ada masalah di proyek perumahan di Cikarang. Aku beranjak dari kursi, menuju teras belakang agar suaraku tidak mengganggu anak-anak.


“Ya, Bud.”


“Pak Arman, maaf mengganggu waktu istirahat Bapak. Ada sedikit perubahan desain dari klien untuk proyek apartemen di Kuningan. Mereka minta kita hadir rapat besok pagi jam 9.”


“Besok pagi? Jam 9? Baik, aku akan hadir. Siapa yang mewakili klien?”


“Ibu Maya, Pak. Direktur operasional dari PT Graha Cipta. Beliau baru bergabung, katanya ingin memastikan semua detail sesuai dengan visi mereka.”


“Maya?” Aku mengulang nama itu. Tidak asing, tapi juga tidak familier.


“Iya Pak. Katanya beliau sangat detail dan perfeksionis. Kita harus siap dengan presentasi yang matang.”


“Baik, siapkan semua data. Kita bahas besok pagi sebelum rapat.”


Aku menutup telepon dan kembali ke dalam. Laras keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi jus jeruk dan kue pisang. Dia tersenyum padaku, senyum yang dulu mampu membuatku luluh, tapi kini hanya terasa sebagai rutinitas.


“Kue pisang buatanmu?” tanyaku.


“Iya, Dinda minta. Cobain, Man.”


Aku mengambil satu dan menggigitnya. Rasanya enak, seperti biasa. Tapi tidak ada rasa istimewa. Aku memakannya hanya karena itu yang seharusnya kulakukan sebagai suami yang baik.


“Enak, as always,” kataku.


Laras tersenyum lagi. “Kamu capek? Kelihatannya ada yang dipikirin.”


“Enggak. Cuma rapat besok pagi. Klien baru, katanya agak perfeksionis.”


“Kamu pasti bisa. Kamu kan hebat.”


Aku mengangguk, lalu mengecup keningnya singkat. Itu pun terasa seperti gerakan otomatis, tanpa gairah. Laras tampaknya tidak menyadari. Atau mungkin dia sudah terbiasa.


Malam harinya, setelah anak-anak tidur, aku duduk di ruang kerjaku. Laras sudah berbaring di kamar, mungkin sudah tertidur. Kami sudah jarang berbicara panjang lebar seperti dulu. Percakapan kami hanya seputar anak-anak, sekolah, dan jadwal kegiatan. Seks? Mungkin sebulan sekali, itupun terasa seperti kewajiban untuk mempertahankan keharmonisan.


Aku membuka laptop dan mulai mengecek presentasi untuk besok. Budi memang handal. Semua data sudah tersusun rapi. Aku hanya perlu memastikan tidak ada kesalahan kecil yang bisa memicu kerewelan klien.


Pikiranku melayang pada nama “Maya”. Siapa dia? Mungkin wanita karir yang ambisius, ketat, dan dingin. Aku sudah sering bertemu tipe seperti itu. Mereka biasanya sulit diajak bekerja sama karena terlalu banyak tuntutan.


Aku memejamkan mata, mencoba fokus pada pekerjaan. Tapi rasa hampa itu kembali menyerang. Tiba-tiba, aku teringat pada masa-masa awal pernikahanku dengan Laras. Dulu, aku selalu bersemangat pulang ke rumah hanya untuk melihat wajahnya. Kami sering bercanda, bertukar cerita, dan bercinta dengan penuh gairah. Lalu apa yang terjadi? Mungkin aku terlalu sibuk membangun bisnis. Atau mungkin api itu padam dengan sendirinya karena terbiasa.


Apakah semua pernikahan akan seperti ini pada akhirnya?


Aku menghela napas panjang. Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Aku sudah beruntung memiliki Laras. Dia adalah wanita baik yang tidak pernah menuntut lebih. Aku seharusnya bersyukur.


Tapi rasa syukur tidak bisa mengusir rasa hampa.


Pagi harinya, aku tiba di kantor lebih awal. Budi sudah menunggu dengan laptop dan bahan presentasi. Wajahnya sedikit tegang, menandakan bahwa dia juga merasakan tekanan dari pertemuan ini.


“Pak, saya dengar Ibu Maya ini orangnya sangat detil. Bisa sampai menanyakan spesifikasi baut yang digunakan,” ujar Budi sambil menyiapkan proyektor.


“Tidak masalah. Kita sudah punya semua spesifikasi. Asal dia reasonable, kita akan penuhi.”


Kami berangkat menuju kantor PT Graha Cipta di kawasan Kuningan. Gedung itu megah, berdiri tiga puluh lantai dengan fasad kaca yang memantulkan sinar matahari pagi. Aku merasa sedikit terintimidasi, tapi segera mengingatkan diriku bahwa aku sudah puluhan kali menghadapi klien besar.


Kami diarahkan ke ruang rapat di lantai dua puluh. Ruangan itu luas dengan meja kayu jati yang mengilap dan kursi-kursi kulit hitam yang nyaman. Dinding kacanya menghadap ke selatan, memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.


Kami menunggu sekitar sepuluh menit. Aku memanfaatkan waktu itu untuk merapikan catatan dan memastikan tidak ada yang terlewat. Budi duduk di sampingku, matanya sesekali melirik pintu.


Lalu pintu terbuka.


Seorang wanita masuk dengan langkah mantap. Dia mengenakan blazer putih dipadukan dengan rok pensil hitam yang membentuk tubuhnya yang langsing. Rambutnya hitam panjang sebahu, dibiarkan tergerai natural dengan sedikit gelombang di ujung. Wajahnya... Tuhan, dia cantik. Bukan kecantikan yang dibuat-buat dengan riasan tebal, tapi kecantikan alami yang menonjolkan tulang pipi tinggi, bibir penuh yang sedikit mengembang dalam senyum tipis, dan mata yang teduh namun tajam.


Tapi bukan hanya penampilannya yang membuatku terpaku. Ada sesuatu dalam auranya—sesuatu yang membuatku tiba-tiba kehilangan napas.


“Pak Arman? Saya Maya. Maaf membuat Bapak menunggu.” Suaranya lembut, tapi tegas. Dia mengulurkan tangan.


Aku berdiri, sedikit kikuk karena baru tersadar dari keterpakuanku. Tangannya terasa halus dan hangat saat aku menjabatnya. “Arman Perdana. Senang bertemu dengan Anda, Bu Maya.”


“Panggil saya Maya saja. Lebih santai.” Dia tersenyum, dan senyum itu... Tuhan, senyum itu seperti sinar matahari yang menerobos awan mendung. Dadaku terasa berdebar, sebuah sensasi yang sudah lama tidak kurasakan.


Aku hampir lupa memperkenalkan Budi. Maya menyapanya dengan ramah, lalu duduk di seberangku. Dia membuka laptopnya dan langsung memulai presentasi dengan fokus. Dia memang detail. Dia menanyakan setiap aspek proyek, dari struktur fondasi hingga jenis cat yang akan digunakan. Budi menjawab dengan cekatan, sesekali melirikku untuk memastikan semuanya beres.


Tapi aku... aku kesulitan berkonsentrasi. Mataku terus tertarik padanya. Cara dia berbicara, cara dia mengernyitkan dahi saat memeriksa data, cara dia menautkan jari-jarinya yang lentik saat berpikir—semuanya memesona.


Ini gila. Aku sudah menikah, hampir dua kali usianya. Tapi jantungku berdegup kencang seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


“Pak Arman?” panggil Maya.


Aku tersentak. “Ya?”


“Saya bertanya tentang timeline pengiriman material. Apakah Bapak punya catatan lebih lanjut?”


Aku menelan ludah, berusaha fokus. “Maaf, saya sedikit... kurang fokus. Bisakah Anda mengulangi pertanyaannya?”


Maya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkin dia merasa aku tidak profesional. Atau mungkin... dia menyadari sesuatu. “Timeline pengiriman material, Pak. Apakah ada kemungkinan percepatan? Karena kami ingin groundbreaking bulan depan.”


Aku mengambil napas dalam-dalam dan mulai menjawab dengan profesional. Aku menjelaskan bahwa percepatan mungkin dilakukan jika klien bersedia menyesuaikan jadwal pembayaran. Maya mendengarkan dengan serius, lalu mengangguk.


“Baik. Saya akan koordinasikan dengan tim keuangan. Untuk pertemuan selanjutnya, mungkin kita bisa membahas detail kontrak.”


Pertemuan itu berlangsung hampir tiga jam. Saat kami keluar dari ruang rapat, aku merasa seperti baru saja menyelesaikan ujian berat. Tapi bukan karena tekanan klien—karena tekanan yang kubicarakan pada diriku sendiri.


Di lobi, Maya menghampiriku. “Pak Arman, terima kasih atas waktunya. Saya puas dengan presentasi hari ini. Tim Bapak sangat profesional.”


“Terima kasih kembali. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik.”


Dia tersenyum lagi, dan lagi-lagi jantungku berdegup tak terkendali. “Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, Pak. Saya akan kirimkan jadwalnya.”


Aku mengangguk, berusaha tersenyum biasa. Tapi saat dia berbalik dan berjalan meninggalkan lobi, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari sosoknya yang menjauh.


“Pak Arman?” Budi menepuk pundakku. “Kita pulang, Pak?”


Aku menghela napas, berusaha mengembalikan diriku ke realitas. “Iya, pulang.”


Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak bisa berhenti memikirkan Maya. Bukan tentang proyek, tapi tentang tatapannya, senyumnya, suaranya. Aku merasa bersalah karena berpikir seperti itu. Aku sudah memiliki Laras, istri yang baik dan setia. Tapi kenapa hatiku berdebar untuk wanita lain?


Malam itu, saat makan malam bersama keluarga, aku berusaha terlihat normal. Laras bertanya tentang pertemuan tadi, dan aku menjawab seadanya. Aku tidak menyebutkan Maya, tidak menyebutkan bagaimana wanita itu membuatku kehilangan konsentrasi.


Setelah makan malam, aku duduk di teras belakang, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Aku berusaha menenangkan hati, berusaha meyakinkan diriku bahwa ini hanya kekaguman biasa. Maya adalah klien, hanya itu. Tidak lebih.


Tapi hatiku tahu, ini bukan sekadar kekaguman.


Ini adalah awal dari sesuatu yang berbahaya.


Dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk menghentikannya.


Di dalam kamar, Laras sudah tertidur pulas. Aku berbaring di sampingnya, menatap langit-langit kamar dalam gelap. Ponselku bergetar di meja samping. Aku mengambilnya dan melihat sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


“Selamat malam, Pak Arman. Ini Maya. Terima kasih atas presentasinya tadi. Saya senang bekerja sama dengan Bapak. Semoga kita bisa menyelesaikan proyek ini dengan sukses. Salam.”


Aku membaca pesan itu berulang kali. Jantungku berdegup kencang lagi. Aku ingin membalas, tapi tanganku gemetar. Aku tahu, jika aku membalas, ini akan menjadi pintu yang membuka sesuatu yang mungkin tidak bisa kututup.


Aku meletakkan ponsel kembali, memejamkan mata. Tapi bayangan Maya terus menghantui.


Ini salah, batinku. Ini sangat salah.


Tapi mengapa rasanya begitu benar?

Selanjutnya.......

No comments:

Post a Comment