Addense

Tuesday, 28 July 2026

Kado perpisahan buat suami




Malam itu berlalu dengan penuh kegadvhan. Aku mendengar Mas Aris mema ki-ma ki opera tor laya nan pelang gan di telepon, sementara Bu Ratna sibuk mengipasi dirinya dengan majalah, mengeluh betapa panasnya udara tanpa AC. Mereka tidak

tahu bahwa ini baru permulaan. Tanpa listrik, pompa air otomatis pun ma ti. Besok pagi, rumah mewah ini tidak akan berbeda dengan bangunan kosong yang ma ti suri.


Namun, tubvhku tampaknya tak sekuat men talku. Teka nan ba tin selama berhari-hari, ditambah kehujanan saat ke ba nk tadi siang dan tampa ran keras Mas Aris, membuat pertahananku runtuh. Tengah malam, kepalaku mulai berdenyut hebat. Seluruh sendiku terasa ngilu, dan da daku sesak. Aku menggigil hebat di balik selimut tipis, sementara Mas Aris tidur memunggungiku di sisi ran jang yang lain, tetap tidak peduli meski napasku terdengar berat.


Pagi datang dengan cahaya matahari yang menusvk celah gorden, tapi tubvhku terasa seperti dihim pit bongkahan batu besar. Mataku panas, tenggorokanku kering seperti padang pasir. Saat aku mencoba ba ngkit, dunia di sekitarku berputar hebat.


"Maya! Maya! Bangun!"


Pintu kamar digeb rak ka sar. Suara Mas Aris menggelegar, membuyarkan kesadaranku yang masih samar.


"Sudah jam setengah tujuh! Kenapa belum ada bav masakan di dapur? Air di kamar man di juga ma ti! Kamu sengaja ya mau menyik sa kami?"


Aku berusaha duduk, mengumpulkan tenaga yang tersisa. "Mas! Kepalaku sakit sekali. Badanku panas..." suaraku hanya keluar seperti bisikan parau.


Mas Aris melangkah mendekat, tapi bukannya menyentvh keningku untuk memeriksa suhu tubvh, dia justru menarik selimutku hingga terlempar ke lantai.


"Jangan akting!" bentaknya. "Aku tahu ini caramu protes karena masalah kemarin, kan? Kamu mau memba las den dam karena perhiasan itu disi ta Ibu? Kekanak-kanakan sekali kamu, Maya!"


Aku menatapnya dengan pandangan kabur. Wajah suamiku, pria yang dulu berjanji akan menjagaku di depan Papa, kini tampak seperti orang asing yang sangat menakvtkan. Tidak ada secercah pun rasa iba di matanya, yang ada hanya kemarahan karena kenyamanannya terganggu.


"Aku benar-benar sakit, Mas! Tolong, be likan ob at atau panggilkan dokter," rintihku, air mata mulai mengalir karena rasa sakit yang tak tertahankan di kepalaku.


"Dokter? Kamu pikir cari ua ng itu gampang? Ua ng belanja satu jvta saja sudah habis kamu buat apa sampai ba yar listrik saja tidak becvs!" Mas Aris menceng kram rahangku, memak saku menatapnya. "Dengar ya, aku tidak mau tahu. Aku ada rapat penting pagi ini. Mandi tidak bisa karena air ma ti, setidaknya siapkan sarapan dan kopi untukku dan Ibu! Cepat!"


Ia menghem paskanku kembali ke bantal. "Dasar istri tidak bergvna! Baru sakit segitu saja sudah mengeluh. Lihat Sarah, dia wanita karir yang sibuk tapi tetap terlihat segar dan energik. Tidak seperti kamu, yang cuma di rumah saja lembek begini!"


Setelah mengucapkan kalimat yang menya yat hati itu, dia keluar sambil memban ting pintu.


Dengan sisa tenaga yang ada, aku menye ret kakiku menuju dapur. Setiap langkah terasa seperti menginjak duri. Di ruang tengah, aku melihat Bu Ratna sedang duduk di sofa dengan wajah cemberut, menatap cermin kecil sambil memoles bedak.


"Nah, ini dia tuan putrinya baru keluar!" sindir Bu Ratna tanpa menoleh. "Maya, air ma ti! Ibu tidak bisa man di! Cepat ambil air di tandon belakang pakai ember atau apa saja. Badan Ibu sudah gatal-gatal!"


"Aku sakit, Bu! Tidak kuat angkat ember."


"Alasan!" Bu Ratna berdiri, menghampiriku dan mendo rong bahuku hingga aku terbentvr pinggiran meja makan. "Jangan jadi pema las! Kamu itu menantu, tugasmu mela yani! Kalau air ma ti, ya usaha! Jangan cuma mengeluh. Cepat buatkan sarapan, Aris mau berangkat!"


Aku memegang pinggiran meja, berusaha tetap berdiri. Di dapur, aku menyalakan kompor gas. Tanganku gemetar hebat saat memegang wajan. Aku hanya sanggup memecahkan dua butir telur, tapi aroma minyak goreng membuat perutku mual luar biasa.


Tiba-tiba, suara klakson mobil berbunyi dari depan rumah. Itu bukan suara mobil Mas Aris.


"Aris! Itu Sarah sudah datang menjemput!" seru Bu Ratna kegirangan.


Mas Aris keluar dari kamar dengan jas rapi, wajahnya langsung cerah seketika.


"Oh, dia sudah sampai? Baguslah, aku memang malas menyetir pagi ini karena tidak man di."


Ia masuk ke dapur sebentar, melihat telur yang baru setengah matang di wajan, lalu mendengvs ji jik. "Lama sekali! Sudah, tidak usah sarapan! Aku sarapan dengan Sarah saja di kantor. Kamu benar-benar pa yah, Maya! Menggoreng telur saja tidak becvs, apalagi mengurvs suami."


"Mas! Kamu mau pergi?" tanyaku lirih, menatap punggungnya. "Aku menggi gil, Mas! Tolong..."


Mas Aris berhenti sebentar, tapi tanpa menoleh dia berkata, "Jangan manja! Kamu kan sudah besar. Kalau memang sakit, minum air putih yang banyak. Aku pergi dulu. Oh ya, jangan lupa bersihkan rumah, debunya sudah tebal. Malu kalau nanti

sore Sarah mampir lagi."


Dan begitu saja, dia pergi. Meninggalkanku yang sedang berjuang melawan kesadaran yang kian menipis. Aku mendengar suara tawa Sarah dari luar, lalu suara deru mobil yang menjauh. Bu Ratna pun ikut keluar, kabarnya mau ikut Sarah ke butik karena di rumah panas dan tidak ada air.


Aku ditinggalkan sendirian di rumah besar yang sunyi ini dalam kondisi de mam yang memba kar seluruh tubvhku.


Aku mencoba mema tikan kompor, tapi pandanganku tiba-tiba menjadi gelap total.


Ribuan bintang seolah menari di depan mataku. Rasa mval itu memvncak, dan hal terakhir yang kudengar adalah suara denting wajan yang jatuh ke lantai sebelum tubvhku menyentvh ubin dapur yang dingin.


Aku menyerah, entah berapa lama aku tergeletak di sana. Namun, sayup-sayup aku mendengar suara

pagar yang dibuka paksa. Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat.


"Non? Non Maya!"


Suara itu, aku mengenalnya. Itu bukan suara Aris. Bukan pula suara dingin mertuaku.


Pintu dapur terbuka dengan ban tingan keras.


"Astaga, Non!"


Aku merasakan tangan yang kuat dan kas ar namun penuh kehati-hatian mengangkat kepalaku. Seseorang sedang menepuk pipiku dengan panik.


"Pak Dirman?" bisikku sangat pelan, nyaris tak terdengar.


"Iya, Non! Ini saya! Ya Tuhan, badan Non panas sekali! Kenapa Non bisa begini? Di mana si Aris itu?" suara Pak Dirman bergetar karena marah dan panik.


Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa merasakan air mata hangat jatuh dari sudut mataku. Pak Dirman, sopir pribadi Ayahku yang biasanya datang diam-diam untuk mengantar kiriman makanan dari Papa, kini menatapku dengan wajah pucat pasi.


"Sabar ya, Non! Saya bawa ke rumah sakit sekarang. Saya sudah bilang ke Tuan Surya kalau ada yang tidak beres dengan rumah ini karena lampu jalan ma ti semua, makanya saya nekat masuk lewat pagar samping," Pak Dirman menggen dongku dengan sigap.


Saat ia membawaku keluar melewati ruang tamu, ia melihat kekacauan di rumah itu. Piring kotor yang berserakan, baju-baju yang dilempar dari kamar oleh Bu Ratna kemarin, dan suasana rumah yang seperti kapal pecah.


"Kurang ajar!" umpat Pak Dirman pelan. "Mereka memperlakukan putri tunggal Tuan Surya seperti ini? Mereka benar-benar bosan hidup."


Pak Dirman memasukkanku ke dalam mobil mewah yang terparkir di luar pagar. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang kembali, aku melihatnya mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Halo, Tuan? Iya, ini saya Dirman. Non Maya pingsan, Tuan! Badannya panas sekali. Di rumah ini, sepertinya Non Maya diperlakukan lebih burvk

dari pela yan di sini. Saya akan bawa ke Rumah Sakit Medika sekarang."


Ada jeda sebentar, lalu aku mendengar suara Pak Dirman lagi, kali ini dengan nada yang sangat tegas.


"Siap, Tuan! Saya mengerti! Saya akan panggil tim hukum dan tim keamanan sekarang juga untuk mengosongkan as et. Baik, Tuan! Mereka tidak akan tahu apa yang menimpa mereka besok pagi."


Aku memejamkan mata dengan tenang. Papa sudah tahu dan jika Papa sudah turun tangan, maka badai yang sebenarnya baru saja dimulai bagi Aris dan ibunya.

No comments:

Post a Comment