Punya menantu gak ada gunanya, bisanya cuma ngabisin u*n9 belanja! Mending diusir sekarang biar Reno bisa sama Stela yang jelas-jelas kaya. Gak sabar mau ganti perabotan baru!
--Saldo 10 M Istri Lusuhku--
"Keluar sekarang, Alya! Aku sudah muak melihat wajahmu yang setiap hari cuma bisa dasteran dan bau bawang!" teriakan Reno, putraku yang sukses dan tampan, menggema di ruang tamu.
Aku tersenyum puas dari balik pintu. Akhirnya, Reno sadar juga.
"Bau bawang ya? Kamu lupa siapa yang tiap pagi masak rendang kesukaanmu sampai mataku perih kena asap dapur?" balas Alya.
Aku langsung melangkah maju, berdiri di samping Reno sambil melipat tangan.
"Halah! Masakanmu itu bisa dibeli di warung padang mana saja! Jangan merasa paling berjasa kamu di rumah ini!" ucapku dengan suara melengking.
Alya menoleh menatapku, tapi aku tidak peduli.
"Lagipula, Reno sekarang sudah punya Stela. Dia cantik, wangi, dan yang paling penting, dia punya kelas! Tidak seperti kamu yang tiap bulan cuma bisa menengadahkan tangan minta nafkah belanja!" sambungku lagi, memamerkan Stela yang berdiri anggun di sofa.
"Kasihan ya, Mbak Alya," ucap Stela dengan suara lembutnya yang manja.
"Mbak itu cantik, tapi sayang, penampilannya seperti asisten rumah tangga. Mas Reno itu butuh pendamping yang bisa diajak ke pesta, bukan yang cuma bisa nungguin jemuran kering."
Alya tersenyum sinis.
"Oh, jadi ini pendamping barumu, Reno? Yang lipstiknya lebih mahal dari harga diri kamu?"
"Jaga mulutmu, Alya!" Reno maju satu langkah, wajahnya memerah karena emosi.
"Kamu itu cuma parasit! Tiga tahun menikah, apa yang kamu kasih buat aku? Tidak ada! Kamu cuma bisa menghabiskan uang lima ratus ribu jatah belanja yang aku kasih!"
"Lima ratus ribu sebulan? Kamu pikir aku pesulap?" Alya malah menantang.
"Di zaman sekarang, uang segitu cuma cukup buat beli garam sama cabai kalau mau makan enak setiap hari. Kamu tahu dari mana daging sapi yang kamu makan setiap Minggu itu berasal? Itu hasil keringat siapa?"
Aku langsung menyahut cepat sebelum Reno terpengaruh.
"Pasti dari sisa uang kembalian yang kamu korupsi diam-diam, kan? Halah, Reno, jangan dengerin dia. Dia cuma mau cari alasan supaya kita merasa bersalah!"
Aku menyenggol lengan Reno.
"Cepat usir dia, Ren! Ibu sudah tidak sabar mau ganti gorden ruang tamu ini. Gorden ini sudah butut, malu kalau orang tua Stela datang berkunjung besok."
Alya menatap gorden mewah di ruang tamu kami.
"Gorden itu harganya lima juta, Bu. Saya beli pakai u*ng saya sendiri. Kalau Ibu mau ganti, silakan. Tapi jangan lupa byyar ganti rvginya ke saya."
"Lima juta? Kamu bohong ya? Paling cuma harga seratus ribu di pasar loak!"
"Sudah, jangan banyak drama. Sini kunci rumah, taruh di meja! Dan jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi!" usir Reno.
"Ambil." Sambil melemparkan.
Dia menyeret kopernya menuju pintu, tapi tiba-tiba berhenti dan menatap anakku dengan nada datar.
"Reno, satu hal. Jangan kaget kalau besok pagi semua fasslitas kantor kamu dit4rik."
Reno terbahak, tawanya terdengar sangat mer3ndahkan. Aku pun ikut tertawa geli. Halu sekali perempuan ini!
"Kamu pikir kamu siapa? Jangan mengada-ada, Alya! Aku ini manajer berprestasi. Bos besar sangat sayang padaku. Pergi sana, jangan bikin kotor rumahku!" usir Reno.
Perempuan dasteran itu tidak membalas lagi. Dia melangkah pergi meninggalkan rumah kami, berjalan kaki menuju jalan raya.
Aku dan Stela langsung berpelukan gembira. Akhirnya, par4sit di rumah ini sudah hilang!
**Sementara itu, di halte bus yang sepi...**
Alya merogoh kantong kecil di bagian dalam kopernya.
Dia mengeluarkan sebuah ponsel tipis keluaran terbaru yang layarnya masih sangat kinclong.
Dengan tenang, Alya membuka sebuah aplikasi perbankan berwarna biru tua.
*L0gin berhasil.*
Sebuah deretan angka yang bisa membuat siapa saja kaget.
**muncul: 10.450.000.000**
"Halo, Pak Hardi?"
"Iya, Ibu Alya? Ada yang bisa saya bantu?" jawab suara di seberang telepon dengan sangat hormat.
"Cccbut semua ssham atas nama saya di perusahaan Reno. Dan pastikan besok pagi dia menjadi gelandangan."
–bersambung–


No comments:
Post a Comment