Addense

Monday, 27 July 2026

Menjadi tunangan palsu



Terpaksa Menjadi Tunangan Palsu Dokter Sagara 


Desi memb eku sesaat di dekat pintu. Tatapan Sagara masih tertuju padanya. 


Tenang dan diam. Namun justru itu yang membuatnya jauh lebih menakutkan.


“Suara dan ekspresimu berubah setelah menerima telepon tadi.”


Kalimat itu kembali terngiang di kepala Desi.


Ia memaksakan senyum k ecil sambil berjalan masuk ke dalam kam ar.


“Mungkin karena aku lelah.”


Sagara tidak langsung menjawab. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Desi saat gadis itu meletakkan ponsel di meja kecil.


“Aneh,” gumamnya pelan.

Desi menoleh.


“Apa?”


“Kamu selalu bilang lelah setiap kali aku bertanya sesuatu yang su lit.”


Jantu ng Desi langsung berdetak lebih cepat.


Ia tertawa kecil, meski terdengar kaku.


“Mungkin karena kamu terlalu banyak bertanya.”


“Benarkah?”


Nada suara Sagara tetap santai. Namun matanya terlalu ta jam untuk disebut santai.


Desi buru-buru merapikan kotak makan yang tadi belum dibuang.


Tangannya bergerak cepat hanya untuk menghindari tatapan pria itu.


Ia tidak boleh panik. Semakin gu gup dirinya, semakin mudah Sagara membaca semuanya.


“Besok kita pulang,” ujar Sagara tiba-tiba.


Desi langsung menoleh.

“Ya.”


“Ke rumahku.”


Desi mengangguk kecil.

Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa seperti te ka nan besar di da da nya.


Rumah Sagara. Tempat yang bahkan belum pernah benar-benar ia datangi sebelumnya. 


Mulai besok, ia harus tinggal di sana sambil terus mempertahankan kebohongan ini.


“Kamu pernah tinggal di rumah itu sebelumnya?” tanya Sagara lagi.


Pertanyaan itu membuat Desi hampir salah napas.

“…pernah.”


“Sering?”


Desi ragu sepersekian detik terlalu lama.


“Tidak terlalu.”


Sagara mengangguk pelan.

Ekspresinya tidak berubah. Namun di dalam kepalanya, ia kembali mencatat sesuatu.


Jawaban Desi selalu terdengar seperti hasil berpikir cepat. Bukan sesuatu yang muncul alami dari ingatan.


“Aku penasaran,” katanya lagi sambil bersandar santai di bantal.


Tentang apa?”


“Bagaimana aku bisa melamarmu.”


Desi terdiam.

Ia menatap pria itu beberapa detik.


Wajah Sagara terlihat benar-benar serius. Bukan mengejek atau sedang men je baknya melainkan seperti seseorang yang benar-benar mencoba memahami hidupnya sendiri.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Desi pelan.


Sagara sedikit mengangkat alis.


“Kamu tidak tahu?”


Desi menunduk kecil.

“Kamu yang harus menjawab itu.”


Ia mencoba tersenyum.

“Kamu yang melamarku.”


“Kamu langsung menerima?”


Pertanyaan itu datang terlalu cepat.


Desi benar-benar tidak siap.

“Karena…”


Ia berhenti. Pikirannya kosong sesaat.


Sagara menunggu dengan sabar.


Ruangan terasa sangat sunyi. Akhirnya Desi menjawab pelan,


“Karena kamu orang baik.”


Kalimat itu sederhana. Namun untuk pertama kalinya sejak bangun dari koma, Sagara merasa Desi mengatakan sesuatu yang benar-benar juj ur.


Ia memperhatikan gadis itu lebih lama. Wajahnya tampak lelah. 


Ada lingkaran sam ar di ba wah matanya.


Setiap kali Desi mengira dirinya tidak diperhatikan, ekspresi sedih itu selalu muncul kembali seolah ia sedang memikul sesuatu yang terlalu berat sendirian.


“Desi.”


“Ya?”


“Apakah kamu takut padaku?”


Pertanyaan itu membuat Desi ter sen tak kecil.

“Tidak.”


“Kamu terlihat takut setiap kali aku menatapmu terlalu lama.”


Desi meng gi git bibir pelan.

“Aku hanya tidak terbiasa diperhatikan seperti ini.”


Jawaban itu membuat sudut bi bir Sagara bergerak tip is.


“Menarik.”


“Apa yang menarik?”


“Kalau kita benar-benar bertunangan,” katanya santai, “seharusnya kamu sudah terbiasa.”


Desi langsung kehilangan kata-kata. Untungnya Sagara tidak melanjutkan.

Ia kembali menatap 

langit-langit kamar rumah sakit seolah percakapan itu tidak penting. Padahal justru sebaliknya.


Semua jawaban Desi terasa seperti potongan puzzle yang belum pas. Semakin lama, rasa penasarannya justru semakin besar.


Malam tu run perlahan. Lampu kamar rumah sakit diredupkan. Suasana menjadi jauh lebih tenang dibanding siang tadi.


Desi kembali duduk di kursi kecil di samping tempat tid ur sambil meme gang ponselnya.


Sesekali ia melirik ke arah Sagara. Pria itu terlihat memejamkan mata. 

Mungkin sudah tidur.


Perlahan Desi membuka pesan terbaru dari rumah sakit tempat Dika dirawat. Jantungnya langsung terasa se sak.


Kondisi Dika menurun setelah kemoterapi terakhir.

Tu buh anak itu semakin lemah. Operasi harus segera dilakukan. 


Kalau tidak… Desi cepat-cepat memejamkan mata. Ia tidak sanggup membaca kemungkinan terburuknya.


“Kamu belum tidur?”


Suara Sagara membuat Desi langsung tersentak.

“Aku kira kamu tidur.”


“Belum.”


Desi buru-buru mengunci layar ponselnya.


“Kamu harus istirahat.”


“Kamu juga.”


Desi tersenyum kecil.

“Iya.”


Namun Sagara memperhatikannya diam-diam.


Ia melihat perubahan ekspresi itu. Wajah Desi yang tiba-tiba pucat. Tatapan kosongnya dan bagaimana jemarinya sedikit ge me tar saat memegang ponsel.


Itu bukan ekspresi seseorang yang sedang memikirkan pernikahan melainkan ekspresi seseorang yang sedang takut kehilangan sesuatu.


“Ada masalah?” tanyanya pelan.


Desi langsung menggeleng.

“Tidak.”


“Kamu terlihat seperti ingin menangis.”


Desi tertawa kecil.


“Aku cuma lelah.”

Jawaban yang sama lagi. Namun kali ini Sagara tidak bertanya lebih jauh.


Entah kenapa, melihat Desi seperti itu justru membuat da danya terasa aneh. 


Ia masih curiga, tapi untuk pertama kalinya, ia mulai berpikir mungkin gadis ini juga bukan orang yang benar-benar memegang kendali.


Sekitar tengah malam.

Desi akhirnya tertidur di kursinya. Kepalanya bersan dar di sisi tempat ti dur. Napa snya terdengar pelan dan ter atur.


Sagara membuka mata perlahan. Ia sebenarnya belum tidur sama sekali. 


Tatapannya jatuh pada wajah Desi yang terlihat jauh lebih tenang saat tertidur. Tanpa ekspresi gugup atau senyum palsu. Hanya seseorang yang tampak sangat lelah.


Aneh. Kalau Desi memang bagian dari permainan seseorang… kenapa ia terlihat seperti orang yang terseret paksa ke dalamnya?


Sagara perlahan mengambil ponselnya lagi.


Ia membuka chat Rama.

Sagara: Aku butuh bantuanmu.


Balasan datang cepat.


Rama: Akhirnya kamu sadar ada yang nggak beres?


Sagara: Aku ingin kamu menyelidiki seseorang.


Rama: Siapa?


Sagara menoleh ke arah Desi.


Rambut gadis itu sedikit menutupi wajahnya.


Entah kenapa, melihatnya seperti itu membuat Sagara ragu sepersekian detik. Namun akhirnya ia tetap mengetik.


Sagara: Desi.


Rama: Nama lengkapnya?


Jemari Sagara berhenti di atas layar. Beberapa detik ia hanya diam lalu alisnya perlahan mengerut.


Ia baru menyadari sesuatu. Ia bahkan tidak tahu nama lengkap tunangannya sendiri.


Sagara kembali menatap Desi lama.


“Siapa kamu sebenarnya…” gumamnya pelan.

Ia kembali mengetik.


Sagara: Aku akan kirim datanya besok.


Rama: Baik. Tapi hati-hati.


Sagara: Kenapa?


Balasan Rama muncul beberapa detik kemudian.

Rama: Karena sebelum kecelakaan itu…


Sagara menunggu.


Pesan berikutnya muncul di layar.


Rama: Kamu bilang satu hal padaku.


Tatapan Sagara berubah serius lalu pesan terakhir muncul.


Rama: Kalau sesuatu terjadi padamu, kemungkinan besar itu bukan kecelakaan.


Ruangan mendadak terasa lebih dingin. 


Sagara menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum perlahan mengalihkan pandangan ke arah Desi yang tertid ur di sampingnya.


Baca selengkapnya di Dreame/ Innovel


No comments:

Post a Comment