Addense

Monday, 27 July 2026

Perceraian

 "


Sah!"


Suara gemuruh langsung memenuhi masjid tempat dilaksanakannya sebuah akad nikah. Doa-doa pun terpanjat dari semua yang hadir di ruangan tersebut.


Tampak sang mempelai pria tersenyum lebar saat mendapat ucapan selamat dari para tamu yang hadir di acara itu. Berbeda dengan mempelai wanita yang hanya tersenyum tipis sambil sesekali menunduk. Tak ada gurat bahagia di wajah ayunya.


Tak banyak tamu yang diundang, hanya teman dekat dan kerabat, serta keluarga dari kedua belah pihak mempelai saja. 


Sampai kemudian seorang pria berambut klimis datang dan menyalami keduanya.


"Ingat, sebulan setelah pernikahan ini, kalian harus bercerai!" ucap pria itu penuh penekanan.


Adam Baihaqi, sang mempelai pria hanya tersenyum menanggapi ucapan lelaki tadi. Ia pun menoleh ke arah wanita yang beberapa saat lalu sah menjadi istrinya. Maharani Darapuspita--sang mempelai wanita--menatapnya sesaat, lalu kembali menunduk.


"Dan kau, jangan pernah menyentuhnya, hingga saat perceraian kalian tiba." Kembali pria itu berucap tegas dengan sorot mata setajam elang.


"Dia istriku, jadi aku berhak untuk melakukan apa saja padanya," jawab Adam dengan tenang dan sambil tersenyum.


"Kau---"


"Mas Panji, tolong jangan buat keributan!" pekik Maharani tertahan. 


Lelaki bernama Panji itu menurunkan kembali tangan yang hampir melayang ke wajah Adam yang masih mengulas senyum. 


"Pulanglah, Mas," pinta Maharani. 


Dengan tatapan tajam dan napas memburu menahan amarah, Panji meninggalkan kedua mempelai itu dengan rahang mengatup keras. Sebelum benar-benar berlalu, pria itu masih sempat menoleh ke arah Adam yang menatapnya dengan senyum masih menghias bibir.


Sementara Maharani mengiringi kepergian Panji dengan tatapan yang sulit diterka.


"Lelaki seperti itukah yang masih kau cintai?"


Pertanyaan Adam membuat wanita yang terlihat cantik dalam balutan kebaya broken white itu menoleh. Ia pun mengembuskan napas tanpa berniat menjawab pertanyaan pria di sampingnya, karena Maharani sendiri masih belum mengerti bagaimana rasa hatinya kini kepada Panji, sang mantan suami.


Ya, Maharani dan Panji adalah suami istri yang bercerai karena sebuah penghianatan. Panji bermain hati dengan sekretarisnya dan menuduh Maharani berselingkuh hingga akhirnya rumah tangga yang sudah berjalan lima tahun itu pun harus kandas.


***

Sore itu, setahun yang lalu ....


"Apa yang kamu lakukan di sini!" Lelaki dengan setelan jas itu menatap tajam pada seorang laki-laki yang tengah duduk di sebuah sofa dengan bertelanjang dada di kamarnya. 


"Tu--tuan Panji?" 


Rosidi, pria berusia 25 tahun itu bangkit dengan tubuh setengah membungkuk dan gemetar. Dia menunduk sambil meremas kaos di tangan.


Panji menatap tajam pria di hadapannya, lalu saat ia menoleh ke arah ranjang kedua mata itu tertumbuk pada benda yang ada di sana. Pakaian dalam istrinya tampak berserak di sebelah tumpukan baju yang masih terlipat rapi.


Lelaki beralis tebal itu kembali menoleh pada Rosidi yang masih tertunduk. Matanya menatap nyalang dengan kedua rahang yang mengatup erat.


"Apa yang kalian lakukan di kamarku?! Hah!" 


"Apa m--maksud, Tuan?" Rosidi mengangkat wajah tak mengerti.


"Gak usah pura-pura bego. Kamu bertelanjang dada di kamarku dengan keringat membasahi tubuh, apalagi kalau bukan berzina dengan istriku!" 


Rosidi terbelalak sambil menggeleng mendengar tuduhan majikannya. "Tuan salah paham. Sa-saya hanya---"


"Mas Panji?" Suara lembut dari arah pintu yang terbuka dari sudut kamar sebelah kanan membuat kedua lelaki itu menoleh. 


Wanita berwajah manis dengan handuk melilit rambut itu melangkah pelan menghampiri Panji yang menatapnya tajam. Senyum sinis tergambar di bibir lelaki itu saat melihat Maharani keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


"Oh, jadi begini kelakuanmu saat aku tidak di rumah?"


"Ada apa ini, Mas?"


Maharani menatap lelaki berbeda kasta di hadapannya bergantian, seolah meminta penjelasan.


"Kamu selingkuh dengan tukang kebun ini dan berzina di kamarku, dan kau masih bertanya ada apa?!Menjijikkan!"


"Astagfirullah, Mas!" pekik Maharani sambil menutup mulut. 


"Ternyata di balik wajah lugu yang kamu pamerkan, kamu hanya seorang wanita murahan!"


Usai mengatakan hal itu, Panji pun berbalik dan berlalu dengan amarah yang masih menguasainya. Pria itu berhenti sejenak di depan seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu dengan sorot mata sendu. Namun, detik kemudian ia kembali melangkah meninggalkan kamar.


"Mas!" Maharani berusaha mengejar suaminya. 


"Aku bisa jelaskan semuanya." Wanita yang masih mengenakan kimono handuk itu berhasil meraih tangan Panji.


"Apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan."


Pria berkulit sawo matang itu pun berbalik dan tersenyum miring.


"Kau pikir aku percaya dengan semua penjelasan dari wanita murahan sepertimu? Mimpi!" Panji menyentakkan tangannya hingga genggaman Maharani terlepas. Ia pun kembali melangkah ke luar, meninggalkan sang istri yang menangis pilu karena tuduhan keji suaminya.


"Kamu sudah salah paham, Mas!" teriak wanita itu dengan tubuh luruh ke lantai.


Panji tak peduli, ia terus melangkah menuju mobil dengan wajah gusar. Perlahan lelaki berperawakan sedang itu pun melajukan mobil keluar dari halaman rumah nan luas itu.


"Den Ayu."


Maharani tersentak, sebuah panggilan memaksanya kembali dari angan yang mengembara.


"Mbok?"


"Den Ayu melamun lagi?"


Mbok Wiji, wanita tua yang selalu setia membersamainya, menjatuhkan tubuh di sisi Maharani yang sudah seperti anak sendiri. 


"Nggak, Mbok, hanya sedang memikirkan pekerjaan," kilah wanita berdarah Jawa itu sambil menghela napas. Ia tak ingin kesedihannya membuat wanita tua itu khawatir.


"Sudah waktunya makan malam, si Mbok sudah siapkan sup makaroni kesukaan Den Ayu."


Mbok Wiji paham atas kesedihan yang menimpa sang majikan. Ia sudah berusaha membantu menyelesaikan kesalahpahaman suami istri itu, tapi tak membuahkan hasil.


***


"Den Panji!" panggil Mbok Wiji saat pria berambut lurus itu pulang setelah beberapa hari menghilang pasca kejadian di kamar itu.


Dengan malas Panji pun memutar tubuh, mengurungkan langkah kakinya ke kamar. Dengan kepala setengah miring ia menatap Mbok Wiji yang sudah berdiri di depannya.


"Ada apa, Mbok?"


"Si Mbok mau bicara sama Den Panji."


"Bicara apa? Apa Mbok juga mau melindungi maksiat yang sudah dilakukan oleh momongan Mbok itu?" 


"Ndak, Den."


"Lalu?"


"Mbok hanya mau Den Panji berpikir dengan jernih, tanyakan pada hatinkecil Den Panji, apa hati Den Panji yakin kalau Den Ayu Maharani bisa berbuat hina seperti yang Den Panji pikirkan."


"Oh, jadi sekarang Mbok sudah berani mengatur saya? Mbok gak sadar siapa Mbok di rumah ini? Ingat, Mbok cuma pembantu di sini. Jangan mentang-mentang saya baik, lalu Mbok jadi ngelunjak dan lupa apa kedudukan Mbok di rumah ini!"


"Bukan begitu, Den, maksud Mbok---"


"Ah ... sudahlah, saya tidak percaya pada kalian. Kalian sudah bersekongkol untuk membohongi saya." Panji mengibaskan tangan lalu berbalik menuju kamar.


"Mas Panji? Mas sudah pulang?"


Maharani yang baru selesai melaksanakan salat ashar tersenyum lebar saat melihat sang suami kembali. Wanita ayu yang masih berbalut mukena itu hendak meraih tangan Panji untuk menciumnya, tapi pria itu acuh dan terus melangkah ke lemari. Mengambil koper lalu memasukkan semua pakaian-pakaian itu ke sana.


"Mas, kenapa semua baju-baju itu kamu masukkan koper? Kamu mau ke mana?" tanya Maharani panik.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Panji terus memasukkan semua pakaian itu. Setelah yakin tak ada lagi yang tertinggal, Panji pun menutup koper dan pergi dari kamar yang selama lima tahun ini menjadi tempatnya melepas lelah bersama wanita yang pernah sangat ia cintai.


"Mas, aku mohon jangan pergi. Kita perlu bicara. Tolong jangan pergi, Mas!"


Tanpa melepas mukena, Maharani terus mengekor di belakang Panji yang melangkah cepat hendak meninggalkan rumah.


"Mas!"


Panji berhenti saat selangkah lagi kakinya mencapai pintu utama. Detik kemudian, pria itu memutar tubuh. Memindai wajah yang dulu selalu membuat ia rindu. Namun kini, rasa itu menguap entah ke mana.


"Dengar, harusnya kamu bersyukur aku tidak mengusirmu karena perselingkuhanmu dengan jongos itu. Aku masih berbaik hati memberikan rumah ini untukmu. Kau bisa berbuat sesukamu setelah aku pergi." 


"Mas, aku mohon ... dengar dulu penjelasanku. Kalau kamu tidak percaya padaku, setidaknya kamu bisa percaya dengan Mbok Wiji."


"Heh, kamu pikir aku bodoh, percaya dengan pelayanmu itu? Rosidi itu keponakannya, jelas si Mbok akan menutupi semua kebusukan kalian itu."


"Astagfirullah, Mas! Kamu boleh saja menghinaku, tapi jangan pernah menghina Mbok Wiji. Dia memang pelayan, tapi dia tidak serendah itu!"


"Terserah apa katamu, aku tidak peduli!" Panji pun berbalik dan melangkah ke luar. Namun, ia kembali memutar tubuh saat sudah berada di sisi mobil.


"Oya, secepatnya akan aku kirim surat perceraian kita." 


Maharani terbelalak sambil membekap mulut mendengar kata-kata Panji. Air mata langsung menganak sungai di pipi. Pandangan matanya mengabur, menatap mobil yang melaju pelan meninggalkan pelataran rumah.


Sepasang kakinya tak lagi mampu menopang bobot tubuh wanita itu. Ia luruh dalam isak tangis dan luka yang tiada tara.

.


No comments:

Post a Comment