"Loh, Mbak, gak buat sarapan?"
Pagi ini Ghea heran melihat meja makan ko-song melompong.
Ku angkat kepala.
Me-na-tap adik bungsu Mas Ammar yang nampaknya ke-la-par-an.
Roll rambut berwarna pink menghias kepalanya. Wa-jah berjerawat ga-dis yang kuliah di perguruan tinggi swasta itu sudah dilapisi riasan cukup tebal. Heran, a-nak kuliahan sekarang berangkat kuliah seperti mau ke kondangan.
Ku hela na-pas panjang.
Memilih tak menjawab pertanyaan Ghea ku masukkan po-tong-an telur rebus ke dalam mu-lut. Mengunyah pelan-pelan. Mood-ku be-ran-tak-an pagi ini karena per-de-bat-an dengan Mas Ammar se-ma-lam.
Mas Ammar pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor tanpa bicara padaku. Aku pun mengunci mu-lut rapat, tapi tetap menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya.
Ini kali pertama suamiku melewatkan sarapan di ru-mah, karena itu aku hanya merebus dua butir telur dan menyeduh segelas coklat pa-nas untuk diriku sendiri. Coklat membuat pikiranku lebih relaks.
"Ih, Mbak Nindi te-ga banget makan sendiri!" Lanjutnya.
Kami ber-ta-tap-an.
Dengan tenang ku teguk coklat pa-nas ku lalu kembali memandangnya. Riak ke-ke-sal-an tercetak di wa-jah Ghea.
"Kalo kamu la-par, ada mie instant di dapur, telur di kulkas. Gas ada. Kompor tinggal pake. Gak sampe lima menit udah mateng. Kalo mau yang lebih ribet ada ayam juga ikan di frezer."
Ga-dis itu tak bersuara.
Aku berdiri dari kursi yang ku duduki lalu berjalan ke ka-mar.
"Mbak, aku gak biasa di dapur. Lagian bakal telat kuliah kalo masak dulu!"
Ayunan kaki ku terhenti.
Dia pikir dirinya siapa?
Sudah num-pang tak tahu terima ka-sih.
Ku pijit pe-li-pis.
Tak bisakah mereka membiarkan ku sedikit lebih tenang?
"Itu urusan mu. Kamu pikir aku koki atau pem-ban-tu yang harus memasak untuk mengenyangkan pe-rut mu?"
"Ya, bukan gitu. Mbak kan bisa sekalian buatin aku su-su."
Suaranya sedikit me-le-mah.
Ku ta-tap ga-dis pemalas yang bisanya hanya berdandan dan pulang ma-lam setelah jam kuliah itu.
"Kamu punya tangan, kan? HP-mu selalu online. Googling cara masak mie instant! Masa kamu kalah sama a-nak SD?!"
Jangan dipikir dia bisa me-nin-das ku di ru-mah ku sendiri.
"Ada apa ini?"
Mama ke-lu-ar dari ka-mar.
Tak lama pintu ka-mar Yola ter-bu-ka.
Ga-dis yang ngebet jadi PNS itu ke-lu-ar dengan wa-jah bangun ti-dur. Lepek. Rambutnya riap-riapan.
Pagi yang bu-ruk.
Mas Ammar mendiamkan ku lalu aku harus menghadapi drama adiknya.
"Ada apa Nindi? Kenapa kamu te-ri-ak?"
Aku tak menjawab. Menatap lurus ke arah Ghea yang berjarak lima langkah dariku.
"Ghea?"
"Gak ada sarapan, Ma. Aku la-par. Mbak Nindi bikin sarapan buat dia aja!" Adunya sambil melirik ku.
Mama diam.
Matanya melirik meja makan.
Hanya ada teko ko-song.
Tiga hari kemarin aku berbaik hati membuatkan mereka sarapan sekaligus sayur untuk makan siang.
Pagi ini bodo amat.
Pe-rem-puan berumur yang masih pe-du-li pada penampilannya itu menghela na-pas panjang.
"Ya sudah, nanti Mama buatkan sarapan yang e-nak, bukan cuma nasi goreng seperti kemarin."
Aku segera angkat kaki ke ka-mar mengambil tas kerja.
Cuma nasi goreng? Tapi dua a-nak ga-dis nya makan seperti orang ke-ra-suk-an.
"Ma, buatnya sekarang. Jangan lama-lama! Aku bisa telat masuk kelas."
Ku dengar pe-rin-tah Ghea ke Mama saat mengenakan sepatu di teras.
Ini yang orang bilang a-nak jadi raja, me-ngin-jak ke-pa-la orangtua.
Usai mengenakan helm, motor ku pacu ke-lu-ar halaman.
Pagi-pagi kepala ku rasanya spanning tinggi.
G i l a.
Pantesan menantu-menantu di luar sana pada curhat di medsos tentang mertua dan ipar mereka. Ternyata seperti ini rasanya se-ru-mah dengan mertua dan ipar tak tahu di-ri.
Ke-lu-ar dari pagar ku ta-rik gas motor lebih ken-cang.
Tiba-tiba ....
"AWAASS!!"
Ciiiit!!
Aku terkejut setengah ma-ti ketika seorang a-nak kecil berlari ke-lu-ar dari pagar yang ter-bu-ka. Spontan ku ta-rik rem sekuat tenaga.
"Allahu Akbar!"
BRAK!!
Aku meloncat sebelum motor terbanting ke aspal.
Astaghfirullah.
Aku terduduk di aspal. Degup jan-tung-ku tak beraturan. Tungkai kaki dan lu-tut ku ge-me-tar-an.
Benar-benar hari yang buruk. Sudah didiamkan Mas Ammar, di mu-suhi mertua dan ipar, sekarang aku nyaris me-na-brak a-nak kecil. Telat mengerem sedikit saja tu-buh kecil itu ter-han-tam motorku.
Ku ta-tap ga-dis kecil yang me-na-ngis ke-ta-kut-an tak jauh dari motorku yang mesinnya terus menderu.
"YA ALLAH, CELIAA!"
So-sok pe-rem-puan berjilbab ber-te-riak. Dia me-me-luk lalu memeriksa tu-buh a-nak kecil yang terus me-na-ngis ken-cang.
"Oma udah bilang jangan lari-lari!"
Seorang pengendara motor yang melintas berhenti. Menegakkan motor ku lalu membawa ke pinggir jalan.
"Mbak na-brak a-nak kecil itu?"
"Gak, Pak. Gak sampai ke-ta-brak. Saya ngerem mendadak sampe motor nge-jung-kal." jelasku.
"Mbaknya ga pa-pa?"
"Ga pa-pa. Saya baik-baik aja. Makasih banyak, Pak."
Bapak berjaket hitam itu mengangguk. 'Syukurlah."
Perempuan berjilbab hitam menoleh. Sambil menggendong cu-cu-nya dia mendekati ku.
"Adeknya ter-lu-ka, Bu? Kita bawa berobat. Tapi saya pastikan dia gak ter-ta-brak, dia ja-tuh karena ka-get." Ucapku mencoba jelaskan.
Degup jan-tung-ku terus bertalu-talu karena sangat terkejut. A-nak itu berlari ken-cang tanpa melihat kanan-kiri.
Ku pikir perempuan paruh baya di depanku akan ma-rah atau me-nun-tut pertanggungjawaban keteledoran ku, tapi yang diucapkannya membuat ku tertegun.
"Alhamdulilah, Nak. Cucu Ibu ga pa-pa. Gak ada lu-ka serius. Cuma lu-tut-nya le-cet kena aspal. Maaf, ya. Dia memang sering begitu kalo liat pagar ke-bu-ka."
Leher ku yang te-gang mengendur.
Aku memegang lengan Celia. Dia me-me-luk e-rat leher Oma-nya. Usia a-nak itu sekitar lima atau enam tahun. Dia masih terisak. Ku lirik lu-tut-nya. Hanya le-cet sedikit.
"Celia, maaf, ya. Tante bener-bener gak se-nga-ja."
"Lanjut aja, Nak. Coba periksa motornya. Apa ada yang ru-sak. A-nak juga gak ada yang lu-ka karena cu-cu saya, kan?"
Eh, Ibu ini luar biasa. Tidak ma-rah, padahal aku nyaris men-ce-la-kai cu-cu-nya. Justru dia yang minta maaf dan sekarang mengkhawatirkan keadaanku.
"Saya anter ke dokter, Bu. Ta-kut-nya ada memar atau adeknya kebentur. Gak jauh dari sini ada dokter umum. Dokter Ayu. Pagi-pagi begini dia masih di ru-mah."
"Gak perlu, Nak. Celia gak perlu ke dokter."
"Beneran ga pa-pa, Bu? Saya gak e-nak, nanti orang tuanya ma-rah."
Ibu di depanku tertawa.
"Saya yang mengurus Celia. Mama Papanya gak ada. Mereka ka-bur."
Hah?
Melihat keterkejutan ku, Ibu yang sangat baik itu kembali tertawa kecil.
"Ibu cuma bercanda. Oya, ru-mah mu yang mana?"
Ku tunjuk pagar berwarna hitam sekitar sepuluh meter dari tempat kami berdiri.
"Ru-mah-nya Pak Sodiq?"
Aku mengangguk.
Ternyata si Ibu kenal almarhum Ayahku.
"Apa kamu Ninditha?"
Surprise!
Si Ibu juga tahu nama ku.

No comments:
Post a Comment