"Aku nggak mau ikut Ibu! Ibu nggak punya penghasilan. Mau dikasih makan apa kalau aku ikut dengannya!"
"Benar, Buk. Aku juga ikut Ayah. Masa depanku lebih terjamin. Bentar lagi aku masuk kuliah. Butuh biaya banyak!"
Senyum mas Haris merekah mendengar jawaban dari kedua putriku. Kami akan bercerai setelah 18 tahun pernikahan. Satu Minggu yang lalu pria itu mengaku telah jatuh cinta pada wanita lain.
"Namanya Puspa. Minggu depan, aku akan membawanya tinggal di rumah ini."
Sebenarnya aku sudah tahu kalau dia selingkuh. Wanita itu sering meninggalkan jejak di tas maupun baju mas Haris. Entah itu parfum, kecu-pan di baju, CD, wanita itu seolah mengirim pesan padaku bahwa sosoknya hadir di pernikahan kami.
Saat itu, aku memilih diam karena bapak sedang s4kit-s4kitan dan butuh bi4ya berobat.
"Apa ibu mengizinkan dia tinggal di rumah ini?"
"Ibu sudah setuju. Aku tidak mem4ksamu untuk menerimanya. Kamu pun bisa memilih, c3rai atau tetap menyandang status sebagai istri tua."
Aku bukan wanita yang pandai memohon. Mulutku bungkam men4han s4kit yang sudah lama kup3ndam. Sampai akhirnya k4limat itu meluncur bebas dari bibirku.
"Kita c3rai saja! Silakan kamu pergi dan tinggal bersama wanita itu. Kami bisa hidup tanpamu!"
Dia terbahak. "Aku, Shendy?! Kamu sadar dengan ucapanmu?"
"Apa? Emangnya kamu mau mengvsirku dan 4nak-4nak?!"
"Tidak! Aku tidak akan mengvsir a4nak-an4k!" Kedua tanganya beralih ke pundakku, mem4ksaku fokus menatapnya. "Tapi kamu yang harus pergi dari rumah ini! Sendiri! Tanpa 4nak-an4ak!" Dia berkata dengan tegas.
D4daku semakin s3sak. Aku bisa saja kehilangan pria brengsek ini. Tapi rasanya berat untuk kehilangan 4nak-4nak. Mereka d4-rah dagingku, dari lahir sampai sekarang aku yang mengurusnya, memastikan mereka mendapat yang terbaik.
"Aku pastikan 4nak-an4ak akan ikut denganku!" Tekadku, penuh keyakinan.
"Kalau 4nak-an4k ikut denganmu, mereka nggak akan mendapatkan uwang naf-kah sepeserpun dariku! Aku juga tidak akan pernah mau menemui mereka! Aku anggap ketiga 4nak itu sudah m4-ti!"
K3jam! Dia seolah ingin putus hubungan dengan ketiga d4rah d4gingnya. "Aku bisa menaf-kahi mereka tanpa bantuanmu, Mas! An4k -an4k harus ikut denganku! Kita akan bertarvng di pengadilan."
Dia terbahak, entah sejak kapan aku benar benar kehilangan sosok suami yang dulu selalu mengayomi.
"Kamu pikir, biaya hidup zaman sekarang murah?! Mereka tidak akan bisa belajar tanpa uwang dariku, Shendy! Kamu ibu yang tidak punya penghasilan! Masa depan mereka bisa hancur kalau ikut denganmu!"
"Aku mampu dan aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka!"
"Baik kalau kamu tetap ke-ras kepala. Supaya adil. Biarkan mereka memilih akan ikut dengan siapa."
"Kalau Noa mau ikut ibu aja! Ayah nggak bisa bikin svsv. Rasanya ham-bar, enak buatan ibu ...."
S3ntuhan lem-but di telapak tanganku membuyarkan kepe-dihan yang nyaris menenggelamkanku. Noa, bocah tiga tahun, putra bungsu sekaligus satu-satunya yang memihakku, mendongak dengan mata bulat polosnya.
"Noa, nanti kalau ikut ibu kamu bakal kela-paran! Ibu nggak punya uwang buat beli svsv!" Putriku, Maurin, berusaha membujuk.
"Enggak papa. Yang penting aku sama ibu," jawabnya polos.
"Ya, sudah ... Biarin Noa ikut ibunya. Repot juga kalau harus urus balita."
"Eh, ya nggak bisa, Ris ... Noa Nggak boleh pergi! Dia harus tetap tinggal di sini!"
Mertuaku yang baru keluar dari kamar turut menyela. Tatapanya tertuju padaku, ta-jam.
"Ingat ya, Shen! Kamu nggak punya penghasilan, jadi jangan bawa Noa!"
"Buk, kami sudah sepakat untuk memberikan pilihan kepada 4nak-4nak. Biarkan Noa ikut denganku," balasku, sedikit emosi.
"Mau kamu kasih makan apa cucuku? BATU!"
Aku membuang napas k4sar. Menatap mertuaku lekat. "Aku bisa kerja, Buk. Selama ini aku terlalu sibuk ngurusin keperluan kalian." Tatapanku menyapu wajah mereka bergantian. Lalu berhenti di Bu Dyah. "Jika kalian tidak selalu merepotkan, karirku bahkan bisa lebih tinggi dari putramu, Bu!" Aku berdiri dari meja makan. Tanganku meraih lengan Shania dan Maurin, aku ingin meyakinkan kedua putriku. Berharap bisa merubah keputusan mereka.
"Kalian ikut, Ibu. Ibu akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian."
Maurin terkekeh kecil sambil menghempas tanganku. Melihatnya bersikap seperti ini semakin membuatku sakit hati.
"Benar yang dikatakan nenek, Bu. Mau Ibu kasih makan apa kalau kita ikut ibu? Batu?!"
"Ibu akan kerja, Rin."
"Maurin tetap nggak mau! Ibu pikir gampang nyari kerja! Udah! Ibu bawa Noa aja! Pikirkan gimana caranya bisa beli svsvnya Noa."
Aku menatap Shania, dia turut mengangguk seolah membenarkan ucapan Maurin. "Keputusan Nia juga sudah bulat. Nia di sini saja sama ayah. Yang jelas jelas sudah punya penghasilan tetap. Ikut dengan ibu sama saja menghan-curkan masa depanku. Bisa bisa tangan Nia jadi ka4sar disuruh ibu ini, itu!"
Detik itu, duniaku seakan berhenti berputar. Aku menatap kedua putriku. Tidak ada kebencian di wajah mereka. Yang ada hanya keyakinan bahwa mereka sedang membuat pilihan yang benar.
"Kalian nggak tahu apa yang dilakukan ayah kalian di luar sana."
"DIAM, BUK!" bentak Maurin. "Ibu kalau sudah kalah ya sudah! Hargai keputusan kami! Dan jangan ngomong hal buruk tentang ayah!"
Ya, mereka tidak tahu apa yang dilakukan mas Haris di luar sana. Mereka hanya gadis polos yang setiap hari hanya fokus belajar agar bisa mendapat nilai baik.
"Maurin ... Sebenarnya—
Brak!
Dentuman keras itu membuatku tersentak. Mas Haris melempar tas berisi pakaianku ke lantai.
"Apa-apaan kamu, Mas?!" Aku bergegas menghampirinya. Ini bukan kesepakatan kami. Di perjanjian yang tidak tertulis, dia akan memintaku pergi setelah resmi putusan pengadilan. Dan awalnya, aku berniat menggunakan waktu itu untuk mengurus harta g0no-gini.
"Sudah aku putuskan. Semakin cepat kamu pergi dari rumah ini. Akan semakin baik untuk mental 4nak-an4k!"
"Ini rumah kita, Mas! Semua harta yang didapat selama kita nikah harus dibagi rata!" bantahku lantang.
Mas Haris hanya mendengus sinis. Namun, sebelum dia sempat menjawab, sebuah jenggungan mendarat di kepalaku.
"Aw!" Aku spontan memegangi bagian kepalaku yang terasa nyeri. Saat menoleh, Bu Dyah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan tajam.
"Enak saja!" bentaknya. "Kamu lupa kalau rumah ini dibangun di atas tanah milikku? Jadi mana ada bagian untukmu, Shendy!"
Da-daku naik turun menahan amarah.
"Kalau sudah cerai, sadar diri! Pergi dan pulang ke rumah reyot peninggalan orang tuamu itu. Jangan mimpi mendapat bagian dari har-ta 4nakku!"
“Silakan tunggu di luar, Shen. Aku sudah memanggil taksi, sebentar lagi taksinya datang.”
"Mas, kas—"
"Pergi!" Bentak Mas Haris. Lalu matanya menatap layar ponsel. Dia melangkah pergi, mengabaikan Noa yang sudah mengulurkan tangan siap salim, seakan tahu bahwa dia sedang diusir.
"Sayang? Ada apa, bentar lima menit lagi aku otewe.."
Samar telingaku masih bisa mendengar ucapan Mas Haris dengan wanita di telepon. Pria itu melangkah pergi begitu saja, mengabaikan Noa yang sempat mengulurkan tangan kecilnya, bersiap pamit. Anak sekecil itu seakan tahu bahwa hari ini ia sedang diusir.
"Noa, di sini sama Nenek! Jangan ikut ibumu yang melarat itu!" Bu Dyah tiba-tiba maju dan menyentak pergelangan tangan Noa, menariknya paksa ke dalam gendongan.
"Ibuk ... Noa enggak mau, Bu! Tolongin Noa! Nek, Noa mau ikut Ibuk! Turunin, Noa!" Teriakan di sela tangis histeris Noa langsung mengalihkan perhatianku dari Mas Haris.
"Lepas, Bu! Jangan pak-sa Noa!" Dengan cepat aku merebut Noa kembali dari dekapan Bu Dyah.
Kami saling tarik-menarik. Tubuh mungil Noa melorot ke lantai, tetapi tangan Bu Dyah masih menc3ngkeram kaosnya dengan k4sar hingga Noa menje-rit ketakutan. Begitu ceng-keraman itu terlepas, Noa langsung mer4ngkak cepat dan bersembunyi di balik tubuhku, me-meluk kakiku erat-erat sambil sesenggukan.
"Noa akan tetap ikut denganku, Bu! Kalian tidak berhak menahannya!" tegasku sambil mende-kap kepala putra bungsuku.
Melihat Noa yang terus menangis histeris dan menatapnya dengan pandangan takut, Bu Dyah mendengus ji-jik. Kibasan tangannya yang penuh perhiasan emas itu mengudara, seolah-olah kami adalah kotoran yang harus segera disingkirkan.
"Ya sudah, pergi sana! Dasar 4nak enggak tahu untung! Jangan pernah injakkan kaki kalian di rumah ini lagi!" bentak wanita paruh baya itu penuh kebencian.
Blar!
Pintu kayu jati di depanku dibanting sangat kasar, menyisakan embusan angin dingin yang menampar wajahku. Aku menatap daun pintu itu dengan pandangan nanar.
"Ibu ... malam ini kita bobok di mana?" tanya Noa lirih. Suaranya berge-tar, sementara tangan kecilnya beralih memeluk mainan robot tua yang baru dia pungut dari lantai teras.
Aku berjongkok, menyejajarkan wajahku dengan Noa. Kumantapkan hatiku yang hancur lebur demi sepasang mata bulat yang menatapku penuh harap itu.
"Kita pulang ke rumah Kakek, Sayang," bisikku sambil menyeka sisa air mata di pipi tem-bem nya.
"Rumah jelek itu?"
Aku mengangguk tegar. "Sementara ...."
Aku kembali berdiri, menggandeng jemari mungil Noa yang terasa dingin, lalu menuntunnya berjalan menjauh dari pekarangan rumah megah yang kini terasa seperti neraka.
Nikmatilah kemenangan kalian malam ini. Aku bersumpah, akan membayar setiap tetes air mata yang kami tumpahkan hari ini dengan kehancuran kalian.


No comments:
Post a Comment