Addense

Monday, 27 July 2026

Menebus dosa masa lalu



 Aku ka bur ke kota agar orang desa tidak tahu bahwa aku ha mil di luar nikah. 5 tahun berjalan, hidupku damai meski serba kekurangan. Namun, malam itu tiba-tiba saja aku bertemu dengan seorang dokter pria yang dulu telah meno daiku. Aku berniat pergi darinya, tapi dia malah ...



​"Suster! To long, Sus! To long a nak saya!"


Aku berteriak sekuat tenaga, tidak peduli dengan pandangan menghakimi dari orang-orang di lobi rumah sakit yang melihatku seperti orang gi la. 


Di dek apanku, napas Nadia makin tersendat. Wajah kecil yang biasanya ceria kini pucat pasi dan tak berdaya. Dan aku sedang mengusahakan untuk menyelamatkannya.


Semoga saja.


​"Tenang, Bu. Silakan bawa ke brankar ini," ucap seorang perawat perempuan yang sigap menghampiri.


​Aku meletakkan Nadia di atas ka sur do rong dengan tangan gemetar. "To long, Sus ... asma a nak saya kambuh parah. Tadi di puskesmas Dokter udah gak sanggup menanganinya. Tolong an ak saya, Sus ...," pintaku lirih dengan air mata yang terus membanjiri pipi.


​"Ibu tunggu di sini, ya. Biar kami tangani di dalam," sahut perawat itu seraya mendo rong brankar Nadia memasuki pintu ganda Unit Gawat Darurat.


​Aku hendak ikut melangkah masuk, namun langkahku terhenti tepat di ambang pintu saat seorang pria muncul dari balik tirai.


Dia ... kenapa dia ada di sini?


Aku masih sangat mengenal jelas ​wajah itu meski kini penampilannya sangat rapi, berbeda dengan dulu saat dia berhasil meren ggut kesu cianku.


Pria ib lis!


Tanpa sadar kedua tanganku terkepal di samping tu buh. Hingga saat pria itu menoleh, aku segera mundur dan bersandar di dinding.


Pertahananku runtuh. Air mata seketika jatuh bersamaan dengan bayangan kelam masa lalu yang kembali muncul.


Tuhan ... kenapa Kau malah mempertemukanku dengan ib lis itu?


"Permisi, Ibu orang tua pasien a nak itu?" Suara bariton itu akhirnya terdengar lagi setelah kejadian 5 tahun silam.


Aku berbalik, dan seketika tu buhku terasa kaku. Oksigen di sekitar rumah sakit ini seolah habis sehingga membuat da daku se sak. 


Tanpa sadar aku mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Aku tidak ingin melihatnya. Tidak!


"Halo? Ibu baik-baik saja?" Dia kembali bertanya tanpa dosa dan kali ini berhasil membuat langkahku terhenti.


Di dalam sana ada Nadia. Aku harus mengusir egoku sejenak demi keselamatannya.


"Sa-saya orang tuanya," jawabku setelah berhasil menenangkan diri lebih dulu.


​"Pasien sudah kami beri nebu dan bantuan oksigen. Kondisinya mulai stabil, tapi as manya cukup akut. Dia harus dira wat inap untuk observasi lebih lanjut agar tidak terjadi seran gan susulan," jelasnya panjang lebar.


Kutatap nama yang terse mat di jas putihnya—dr. Kevin. Seketika aku tersenyum miris. Dia yang baji ngan malah menjadi seorang dokter spesialis a nak, sementara aku sebagai kor ban harus hidup keras di pinggiran kota.


Rasanya Tuhan belum cukup adil dalam hal ini.


"Silakan Ibu urus administrasi agar pasien bisa kami pindahkan ke ruang rawat inap."


Dia menatapku, begitu pun aku yang menatapnya. Hanya saja tatapan kami berbeda. Jika dia menatapku sebagai orang tua pasien biasa, maka aku menatapnya sebagai pria baji ngan yang ingin kuha jar sekarang juga!


Namun, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Lagipula, sepertinya dia tidak mengenaliku. Dan itu jauh lebih bagus.


"Baik. Tapi saya mau lihat an ak saya dulu," kataku yang langsung saja merangsek masuk, melewatinya begitu saja.


Kevin, baji ngan!


"I-Ibu ...."


Fokusku segera teralihkan saat mendengar suara lirih Nadia. Put ri ke cilku yang tak bersalah harus mengalami banyak hal buruk seolah sedang menanggung do sa orang tuanya.


"Ibu di sini," bisikku. 


Kube lai rambut hitamnya pelan sambil berusaha mengukir senyuman. Nadia tidak boleh tahu jika hatiku tengah han cur saat ini.


"N-Nadia mau pulang, Bu ...."


Aku segera mengangguk. Bi birku bergerak hendak menjawab, tapi urung saat suara dari belakang tiba-tiba menyela.


"Nadia bisa pulang kalau sudah sembuh. Jadi harus cepat sembuh, ya?"


Suara itu membuatku kembali mematung. Kevin terlihat berjalan mendekat ke sisi bangsal dan menatap Nadia dalam.


Oh, Tuhan ... seandainya dia tahu kalau Nadia ... ah, jangan sampai!


"Namamu Nadia?" tanyanya yang langsung diangguki oleh putriku.


"N-nama Pak Dokter, K-Kevin, ya?" Nadia balik bertanya dengan susah payah.


"Wah, kamu sudah bisa baca?" 


"S-sudah ...."


Tanpa sadar aku menatap intens interaksi mereka. Hanya sekejap karena Kevin lebih dulu melihat ke arahku.


"Ibu bisa urus administrasi sekarang. Biar Nadia dijaga oleh perawat dan saya," ucapnya.


Sebenarnya aku ingin menolak dia berada di ruangan ini. Namun, tentu itu hanya akan menimbulkan tanda tanya besar juga keri butan.


Tidak! Aku harus mengutamakan keselamatan dan kenyamanan Nadia sekarang.

 

"Baik," sahutku singkat.


Kakiku mulai melangkah hendak keluar dari ruangan. Namun, baru juga di ambang pintu, suara Kevin kembali terdengar.


"Tunggu! Saya sepertinya tidak asing dengan wajah Ibu. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"


Degh!


No comments:

Post a Comment