Addense

Monday, 27 July 2026

Madu mu dan racun mu



 "Aku madumu, calon ratu baru yang akan menguasai rumah, menggantikanmu!"


"Sok2an mimpi jadi ratu, bersiaplah menjadi babu di rumahku. Istri sah dilawan... hancur kalian!"


___


"Sudahlah, kita kasih pelajaran dulu istri dan anakmu, baru bulan madu!" ucap Siska dengan napas menggebu.


Bima pun sepakat. Mereka segera membeli tiket, tapi saat akan membayar, kartu debit yang diberikan tertolak. 


'Sialan Ranaya!' batinnya kesal. Semua kartu yang ia bawa tidak bisa dipakai, karena semuanya atas nama istrinya.


Ia membuka dompet, uang cashnya tidak cukup. Ia pun berbisik pada istri keduanya. "Pakai uangmu dulu!"


Mata Siska melotot. Tapi, karena malu ditunggu orang di belakangnya, ia keluarkan juga kartu miliknya.


Setelahnya dia mengomel. "Baru juga dikasih uang sedikit, sudah diminta lagi. Habis uangku!"


"Ya nanti aku berikan lagi. Kau itu perhitungan sekali!"


"Lagian, katamu kau kaya raya, kenapa rekening cuma satu? Dan langsung bisa dihabiskan anakmu? Aneh, bukannya ada limit bulanan ya? Kalau habis, sedikit dong isinya?"


Bima seketika merasa terhina. Kenyataannya memang begitu. Ia tidak bisa berkelit, jadi mengalihkan pembicaraan. "Sudah diamlah, aku hubungi orang dulu!"


Suaminya menjauh, Siska menatap dengan kesal punggung laki-laki itu. 


Sampai naik pesawat, mereka marahan saling mendiamkan, seolah sudah lupa, tadi seperti sepasang yang tengah kasmaran.


>>

Keesokan harinya.

Ranaya tampak sedang melambaikan tangan, ke arah anak-anaknya yang berangkat sekolah. "Hati-hati, Sayang...!"


"Da.. Mama...!" Arsyila paling semangat melambai di jendela. Mobil sudah berjalan, senyum remaja itu menghilang seketika. 


Arshaka menoleh ke arahnya. "Kenapa?"


"Aneh rasanya. Biasanya Papa ada, ikut antar kita."


"Nanti juga terbiasa. Papa pergi, bukan kita suruh tapi maunya sendiri."


"Iya." 


"Sudah tahu dia, uangnya kita habiskan?"


"Sudah."


"Terus? Apa responnya?"


"Tidak tahu. Aku blokir nomor Papa."


"Bagus." Arshaka hanya menjawab singkat. "Aku juga."


Akhirnya, gadis itu tahu, bahwa mereka merasakan hal yang sama. "Semangat!" katanya tegas sambil mengepalkan tangan di depan wajah.


Arshaka pun menoleh, kemudian tersenyum. "Dasar, katanya dewasa mana?! Bocil gitu!"


"Ye... enak saja. Aku ini lebih dewasa dari pada kau tahu.!"


Mereka mulai lagi, berdebat, menghibur diri. Sementara itu, Mamanya juga sedang bersiap, menatap cermin, menguatkan diri. 


"Bukan kau, atau anak anak yang harus sedih, tapi mereka. Semangat... kau kuat, kau bisa, Ranaya!"


"Jangan biarkan mereka bisa seenaknya lagi setelah ini!"


Ia mengatur napas, mencoba terus bersikap tenang, walau sudah hatinya hancur.


>>

Satu jam kemudian, di salah satu sekolah menengah pertama swasta, seorang guru tampak masuk ke salah satu kelas.


Guru itu berbisik, ke telinga Titin, yang tengah berdiri di dekat papan. "Diminta menghadap ke ruang kepala sekolah sekarang!"


Titin mengernyit. "Ada apa?"


"Katanya, ada donatur yayasan ingin bertemu dengan Anda, Bu Titin. Saya gantikan sementara pelajaran di kelas ini."


"Oh. Iya." Ibu Siska itu sebenarnya masih heran. Buat apa donatur yayasan mau menemuinya? Dia saja tidak kenal.


Tapi, ia menurut, berpamitan kepada siswanya, kemudian pergi dari kelas itu.


Sepanjang jalan, ia berpikir. Sampai di depan ruang kepala sekolah, ia merapikan seragamnya, baru mengetuk pintu.


TOK.. TOK.. TOK!


Pintu tiba-tiba terbuka, wajah kepala sekolah terlihat masam. "Silakan masuk!"


Bahkan suaranya terdengar ketus, padahal Ibu Kepala Sekolah di sana terkenal ramah orangnya.


Titin mulai curiga, semakin was-was. Ia melangkah masuk, hingga langkahnya terhenti, saat melihat perempuan berhijab duduk di sofa tamu ruangan itu.


Tangannya bergerak gemetar, menujuk. Lidah Titin bahkan seolah kelu, berkata pun terbata. "K-kau --"


No comments:

Post a Comment