Addense

Sunday, 19 July 2026

Cerai


 "Beri aku kesempatan, Ayra." Haris meraih tangannya. Menggenggam erat. "Aku minta maaf. Aku tau kamu tidak salah, tapi Satrialah yang salah." 


"Tidak." Ayra melepasnya, sekaligus menepis tuduhan pada adiknya itu. 


"Satria tidak bersalah. Kami tidak salah. Dan aku tidak mau kembali dengamu. Sekarang, kamu pergi dari sini." Ayra berbalik, memasuki kontrakan. Namun, Haris menahan saat pintu hendak ditutup. 


"Kamu membela laki-laki itu?" tanyanya tak suka. 


Ayra tertegun, dia tidak bermaksud membela, Satria memang tidak bersalah hanya mengatakan itu saja. Dan tampak lain bagi Haris yang sen si tif. 


"Segera pergi dari tempatku, Mas." Dia tidak ingin menanggapinya. Berusaha menutup pintu. Haris masih mempertahankan. 


"Jangan-jangan kamu benar melakukannya? Sampai-sampai tidak mau kembali denganku?" 


"Astagfirullah. Tidak, Mas!" Ayra tersulut Haris menuduhnya lagi.


"Kamu bahkan membela Satria!" Lelaki itu memb4las keras. 


"Pergi kamu, atau aku akan t3riak?!" Terpaksa Ayra mengan- cam. Dia sangat tidak suka sikap Haris seperti itu. 


"T3riak saja. Kamu menyebalkan Ayra. Kamu akan menyesal telah menolakku. Hidupmu akan su sah!" Haris tak kalah mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Bahkan mendoakan buruk. 


Ayra tersenyum ke cut. "Aku tidak takut. Dengan kamu bersikap seperti ini, aku semakin yakin untuk jauh-jauh darimu!" 


Bugh! Pintu ditutup Ayra kencang. Haris berhasil disingkirkan. Lelaki itu mengg3ram karna kegagalan. Juga mengusap wajah frus tra- si. Karna sebenarnya dia ingin Ayra kembali. 


Dia lalu menghela napas menenangkan diri sudah terbawa em o si. Tak seharusnya dia seperti itu jika ingin Ayra menerimanya lagi. 


Setelah beberapa saat terdiam, lelaki itu bekata pelan. "Aku akan menerimamu kapan pun kamu mau kembali denganku, Ayra." 


Ayra terdiam bersandar pada pintu mendengarnya. Tidak merespon apa-apa sampai lelaki itu berbalik pergi. Menjauhi hal4man kontrakan. 


"Ternyata kamu tinggal di tempat seperti ini?" Tisa bergumam dengan tatapan mence mo'oh. Diam-diam dia mengikuti Haris. Saat lelaki itu sudah tidak kelihatan dia baru menampakkan diri. Sekarang jadi tahu tempat tinggal Ayra. 


"Aku senang kamu menolak Mas Haris. Selamat menjadi mis kin selamanya, Ayra." Ia tertawa pu a s. Sebelumnya sangat takut dia mau diajak ru juk. 


"Kamu memang harus sadar diri. Tidak guna kamu jadi istri, tidak bisa memberi keturunan. Teruslah seperti itu, teruslah menghindari Mas Haris." Tisa lalu pergi dengan senyum lebar di bibirnya. Dan tertawa lagi. 


"Dasar perempuan berhati busuk. Sera kah." Setelah Tisa, kini Satria yang menampakkan diri di sudut tempat lain. Dia pun sedari tadi memperhatikan. Ingin tahu kedatangan Haris yang ternyata mengajak ru juk. 


Satria hampir akan mendatanginya jika lelaki itu berbuat ka sar terhadap Ayra. Beruntungnya Ayra cepat menghindar. Dia sangat tidak setuju jika Ayra bersamanya lagi. Tidak ingin itu terjadi. "Kamu tidak boleh bersamanya lagi."


*** 


Ayra terkejut saat membuka pintu mendapati Satria berdiri di hadapannya. Tengah tersenyum manis. 


"Buat kamu." Dia memberikan sekantong makanan. 


"Simpan saja untuk kamu. Aku mau berangkat kerja." Ayra hendak melewatinya tapi dihalangi. 


"Simpan dulu. Jangan nolak rejeki." 


Ayra pun terpaksa mengambil agar dia cepat pergi. "Terimakasih." Menaruhnya di dalam. 


"Gitu dong, jangan nolak terus." 


Pintu kontrakan ditutupnya lagi dan dikunci. "Minggir. Aku mau berangkat." 


"Aku antar." 


"Gak usah." Ayra bergegas meninggalkannya. 


"Naik motor aku aja. Dari pada capek jalan kaki." Tidak dipedulikan, Ayra terus melangkah cepat. Satria mengikuti di belakang. 


"Anggap aja aku tukang ojek. Kamu boleh ba yar." 


Sejenak Ayra terdiam. Karna sudah kesiangan, dia pun akhirnya menerima tumpangan. Duduk menyamping.


"Nanti aku b a yar."


"Oke." Satria tersenyum senang membawa Ayra di jalan. 


Haris baru turun dari mobil melihat keduanya satu motor, seketika memandang tak suka dan cemburu. 


"Ayra!" 


Ayra menoleh dan terbelalak melihatnya. .


No comments:

Post a Comment