Addense

Tuesday, 28 July 2026

Mari kita berpisah




 "Kenapa aku harus menikah dengannya?" Lirih Andini dalam tangisnya. Seharusnya di bulan madu ini mereka bisa berbaikan. Ya, Andini mulai berdamai dengan takdirnya. Mulai menerima Andra sebagai suami yang mungkin Tuhan kirimkan padanya.


 Oleh karena Andra yang tak berminat untuk menari bersama orang lain di tengah Bar sana, maka Briana akan setia menemaninya. Daritadi pertanyaan pancingan selalu diberikan Briana, tapi pria berlengan kekar ini diam saja sambil menyilangkan tangannya di dada. Walau sombong begini, Briana tetap suka. Baginya inilah daya tarik Andra.


 Dua minuman datang, Andra menyesap sodanya perlahan.


 "Gabung, An!" Lukman tiba-tiba datang dan menarik Andra untuk berdiri.


 "Nggak. Kamu aja!" Tolak Andra.


 "Udah. Jangan malu-malu!" Lukman tertawa dan menarik tangan Andra dengan kuat. Daripada diseret, Andra bangkit sendiri dan mengikuti temannya masuk ke tengah orang-orang yang sedang menari bersama.


 Sementara, Briana tersenyum ketika melihat Lukman berhasil menyeret Andra. Tatapan matanya pun beralih pada minuman yang Andra tinggalkan.


 "Aku nggak bisa menari-nari begini!" Andra sampai berdecak. Apalagi ketika tubuhnya ditabrak oleh orang lain.


 "Pejamkan matamu, goyangkan tubuh sesuai iringan musiknya." Lukman mengajari Andra bergoyang hingga membuat Andra jadi tertawa.


 "Temanku memang sudah gila!"


 Daripada menjadi robot yang tersesat diantar orang-orang ini, Andra mundur dan kembali duduk di kursinya. Diapun meminum sodanya.


 "Andra! Astaga! Malah duduk lagi!" Lukman menyusul dan menarik tangan Andra. Namun, segera pria ini menolaknya.


 "Kamu ajalah! Aku nggak bisa nari."


 "Briana aja kalau begitu." Lukman mengulurkan tangan dimana Briana senang hati menerimanya. Briana pun ikut masuk ke dalam permainan goyangan menari.


 Andra mengamati orang-orang yang sedang menari tersebut dengan tangannya yang meraih ponsel. Tak ada pesan yang masuk.


 "Dasar tidak tahu diri!" Andra jadi kesal. "Harusnya dia mengirim pesan dan meminta maaf. Lalu keluar dari hotel ini. Tapi..."


 Andra kehabisan kata-kata. Dia berpikir jika Andini pasti sedang menyabotase kamar miliknya dan tertidur lelap disana tanpa rasa bersalah.


 "Aku akan bicara pada ibuku. Perempuan itu benar-benar bukan gayaku.."


 Andra mengambil lagi soda di gelasnya dan langsung meneguknya habis. Rasa terbakarpun memenuhi tenggorokannya.


 "Kenapa rasanya pekat sekali?" Andra sampai terbatuk.


 Briana yang baru selesai menaripun lalu duduk di samping Andra.


 "Ternyata capek juga.." ucap Briana sembari tertawa. Ia lalu melihat Andra yang tengah memejamkan matanya dengan kening yang mengernyit. "Kamu kenapa, kak?"


 "Nggak apa-apa." Andra tersadar dan menegakkan kepalanya. Tapi, kenapa pandangannya menjadi kabur. Ia pun mengerjap sambil memijit kepalanya perlahan.


 "Kakak sakit?" Tanya Briana perhatian.


 "Kepalaku sakit sedikit." Mata Andra kembali terkejam karena kepalanya yang begitu berat.


 "Bagian mana yang sakit?"


 Briana mendekatkan tubuhnya pada Andra dan menyentuh kepala pria itu. Tak ada perlawanan hingga membuat Briana bebas memijit kepala Andra sehingga Andra merebahkan kepalanya di bahu Briana.


 Andini sendiri masih menangis di kamarnya. Ucapan Andra tadi benar-benar menyakiti harga dirinya.


 "Kenapa aku harus menikah dengannya?" Lirih Andini dalam tangisnya. Seharusnya di bulan madu ini mereka bisa berbaikan. Ya, Andini mulai berdamai dengan takdirnya. Mulai menerima Andra sebagai suami yang mungkin Tuhan kirimkan padanya.


 Tapi, perlakuan Andra kepadanya sungguh membuatnya sakit hati. Tega sekali dia menuduh dan memfitnah Andini sebagai wanita yang menyimpan banyak aib.


 Padahal, seumur hidupnya Andini begitu menjaga kesuciannya. Tujuannya bercadar bukan karena menutupi aib, tapi lebih ingin menjaga dirinya.


 Sambil mengusap air matanya yang sudah membasahi cadarnya. Andini meraih kopernya. Suaminya sendiri tak mau satu kamar dengannya, kan? Maka Andini akan keluar dari hotel ini untuk mencari hotel lain.


 Tapi, demi menjaga marwah suaminya. Andini akan tetap di kota ini sampai beberapa hari ke depan. Lalu, dia akan pulang ke Jakarta dan mengatakan pada Maryam bahwa semuanya baik-baik saja. Sementara, Andini harus pandai bersandiwara walau tak tahu sampai mana batasnya.


 Andini pun keluar dari kamarnya menuju lift yang ada di koridor tengah sebelah kiri. Ia pun berjalan pelan sembari menggeret koper tersebut.


 Sesampainya di depan pintu lift, pas sekali pintu itu terbuka karena membawa dua penumpang yang satu diantaranya seperti tengah mabuk. Pria itu merocos dan mengaduh dengan tangan yang memeluk erat pinggang wanita di sampingnya.


 Briana yang baru saja keluar hanya melihat sekilas wanita bercadar yang berdiri di hadapan pintu. Tangannya sendiri sedang sibuk menopang tubuh pria ini agar tidak jatuh. Sementara, Andini terperangah..


 Pria yang sedang dirangkul oleh wanita lain itu adalah suaminya, Andra. Apalagi Briana membawa Andra ke sebuah kamar yang berada tak jauh dari sana.


 "Jadi mereka benar memiliki hubungan.." gumam Andini sedih. Ia lalu masuk ke lift tanpa memperdulikan Andra lagi.


No comments:

Post a Comment