"Kak Bian beneran sudah bersih dari perasaan buat Nira? Sampai Mas seyakin ini mau ni-kah sama Mbak Sarah?"
Udara di ruang makan yang awalnya ha-ngat mendadak terasa mem-be-ku. Suara decit kursi atau obrolan kecil a-nak-a-nak KKN di ruang depan seolah le-nyap tersapu oleh satu kalimat itu. Tangan ku yang baru saja hendak menyuap makanan terhenti di udara. Aku me-na-tap lurus ke arah piring di depan ku.
Perlahan aku menurunkan tangan. Aku meletakkan sendok logam itu ke atas piring kaca. Bunyi denting pelan yang tercipta terdengar sangat jelas dan ta-jam di telinga ku. Ra-hang ku me-nge-ras. Aku mengangkat wa-jah, me-na-tap adikku dengan sorot mata yang se-nga-ja ku buat se-ge-lap mungkin.
"Masa lalu tidak usah dibahas lagi, Di," kataku dengan nada suara yang sangat rendah. "Itu akan me-lu-kai ha-ti Sarah kalau dia sampai mendengarnya. Kenapa kamu tiba-tiba membahas a-nak itu?"
Abdi mem-ba-las ta-tap-an ku tanpa ragu. Pria muda di depanku ini memang tidak pernah ta-kut padaku.
"Aku cuma merasa Nira tidak se-bu-ruk yang orang lain kira, Mas. Ada banyak hal yang mungkin kita sa-lah nilai dari dia."
Aku mem-bu-ang na-pas sangat ka-sar. Kepalaku menggeleng pelan. Aku menyandarkan pung-gung ke sandaran kursi kayu jati ini. Mataku me-na-tap wa-jah Abdi dengan ke-ke-ce-wa-an yang tidak ku tutupi.
"Aku yang lebih tahu siapa gadis itu," ucapku dingin. "Berapa lama aku hidup satu atap dengannya? Cukup lama untuk mengerti bahwa kami tidak akan pernah bisa sejalan. Sudah menjadi tak-dir terbaik aku bisa le-pas dari dia. Sarah adalah masa depa nku."
"Orang lain ber-hak punya pendapat, Mas." Abdi mengangkat bahunya pelan. Ia berdiri dari kursinya. "Aku pamit pulang dulu. Tolong pikirkan lagi batas toleransi mu pada masa lalu."
Adik ku melangkah per-gi begitu saja. Deru mesin motornya terdengar menjauh me-ning-gal-kan halaman ru-mah. Aku meng-u-sap wa-jah-ku dengan ka-sar. Aku sama sekali tidak berniat mengingat Nira lagi. Nama itu sudah ku ku-bur bersama si-sa-si-sa kesabaran yang dulu pernah ku miliki. Aku punya kehidupan yang tenang sekarang dan aku tidak akan membiarkan siapa pun me-ru-sak-nya.
Setengah jam kemudian, aku melangkah ke-lu-ar menuju teras depan. Dodi sudah berdiri di sana bersama kertas-kertas jadwal di tangannya. Pemuda itu menyerahkan selembar kertas padaku dengan gerakan ragu.
"Ini jadwal program kerja kami hari ini, Om."
Aku melirik kertas itu sekilas. Mataku menyapu barisan nama dusun dan daftar tokoh masyarakat yang harus mereka temui. Aku melipat kertas itu menjadi dua dan memasukkannya ke saku kemeja.
"Hari ini saya akan menemani kalian mengenal batas desa sekaligus perkenalan ke para tokoh dusun," kataku dengan suara te-gas. Mataku me-na-tap satu per satu mahasiswa yang masih duduk santai di ruang tamu. "Kalian punya waktu sepuluh menit. Jam delapan pagi tepat, semua wajib kumpul di halaman. Yang te-lat, saya ting-gal."
Seketika ke-pa-nik-an melanda rombongan itu. Mereka berlarian kecil masuk ke ka-mar masing-masing. Suara resleting tas ditarik, langkah kaki yang terburu-buru, dan sahutan pa-nik saling ber-ta-brak-an me-me-cah keheningan pagi. Aku berdiri bersandar di pilar teras, melipat kedua tangan di depan da-da, mengawasi pergerakan mereka.
Di atas kapal, kedisiplinan adalah nya-wa. Aku tidak akan me-nu-run-kan standar itu hanya karena mereka a-nak kuliahan.
Satu per satu dari mereka mulai berkumpul di halaman berumput. Mataku menyapu barisan itu dan berhenti pada satu so-sok di ujung barisan.
Nira. Mahasiswi bercadar itu sedang sibuk membenahi tali ranselnya. Kepalanya tertunduk seperti biasa. Namun yang membuat mataku menyipit adalah pakaiannya.
Ia mengenakan rok panjang berbahan katun ja-tuh dan sepasang kaus kaki tebal menutupi telapak kakinya.
"Jalan menuju dusun sebelah tidak beraspal," kataku me-me-cah keheningan. "Kita harus melewati pematang sawah yang li-cin dan berlumpur. Pastikan persiapan kalian benar."
Dodi langsung menoleh ke arah Nira. "Nir, kamu mending lepas saja kaus kaki mu. Rok mu juga mending agak diangkat sedikit nanti. Kalau kena lumpur su-sah dicucinya."
Nira menggeleng cepat. Tangannya me-re-mas ujung rok nya kuat-kuat. Ia mundur selangkah, seolah usulan Dodi barusan adalah sebuah an-cam-an be-sar. Gadis itu me-no-lak mem-bu-ka kaus kakinya apalagi mengangkat ujung roknya.
Aku men-de-ngus pelan melihat keke-ras kepalaan itu. Sifat ke-ras kepala yang entah mengapa terasa sangat familiar di ingatanku. Namun aku segera menepis pikiran bo-doh itu.
"Terserah. Kalau ja-tuh, tanggung sendiri," po-tong ku cepat. Aku memutar tu-buh dan berjalan mendahului mereka.
Tepat saat kami hendak ke-lu-ar dari pekarangan, Sarah datang. Senyum teduhnya menyapa pagi. Ia mengenakan atasan sederhana berwarna pastel yang membuatnya terlihat sangat anggun.
Ia menawarkan diri untuk ikut menemani rombongan mahasiswa ini. Aku mengangguk pelan dan mengizinkannya berjalan di si-si ku. Kehadiran Sarah entah bagaimana selalu berhasil meredam e-mo-si ka-sar ku.
Perjalanan melintasi batas desa dimulai. Udara pagi masih terasa sejuk, namun matahari mulai merangkak naik menyengat kulit. Sejauh mata memandang, hamparan sawah hijau membentang luas. Angin membawa aroma tanah ba-sah dan daun padi yang segar.
Jalan tanah yang kami lewati perlahan menyempit menjadi pematang sawah yang hanya muat untuk satu orang. Tanah liat yang ba-sah si-sa hujan semalam membuatnya sangat li-cin. Aku memimpin di depan, memastikan pijakan aman sebelum diikuti oleh yang lain. Sarah berjalan sangat hati-hati di belakangku.
Tiba-tiba terdengar suara pe-kik-an ke-ras dari arah belakang.
Bunyi air lumpur yang terciprat nyaring me-me-cah keheningan area persawahan. Aku menoleh dengan cepat. Jan-tung-ku berdetak memompa da-rah lebih cepat.
Mutia dan Nira yang tadi berjalan bergandengan tangan sudah tidak ada di atas pematang. Keduanya terjerembab ja-tuh ke dalam petak sawah yang penuh lumpur tebal. Pakaian mereka ko-tor be-ran-tak-an. Nira tampak kesulitan berdiri karena ujung roknya yang panjang terasa be-rat menyerap air berlumpur.
Belum sempat ada yang turun menolong, seorang petani tua berlari mendekat dari ujung petak sawah. Wa-jah keriputnya memerah menahan ma-rah. Pria itu memegang sebatang kayu kecil dan ber-te-riak ke arah kami.
"Aduh, bagaimana ini! Bibit padiku ru-sak semua ketiban ba-dan kalian! Ini baru mau tanam, kalian malah main-main di sini!"
Suasana mendadak te-gang. A-nak-a-nak mahasiswa itu terdiam pu-cat pasi. Dodi me-ne-lan lu-dah, bingung harus berbuat apa melihat ke-ma-rah-an warga desa asli. Nira dan Mutia yang masih ter-je-bak di dalam lumpur hanya bisa menunduk ke-ta-kut-an.
Aku melangkah maju dengan tenang. Aku melewati Dodi dan berdiri menutupi a-nak-a-nak mahasiswa itu dari pandangan ma-rah sang petani. Aku menundukkan kepala sedikit dengan sangat sopan.
"Maafkan ke-ce-ro-boh-an adik-adik saya, Pak," kataku dengan suara be-rat yang sama sekali tidak me-ning-gi. Ketenangan adalah kunci menghadapi a-ma-rah. "Mereka belum terbiasa jalan di pematang sawah. Sungguh tidak ada niat me-ru-sak bibit padi Bapak."
Aku me-ro-goh saku belakang celanaku dan mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat tua. Aku menarik beberapa lembar u-ang ratusan ri-bu, jumlah yang jauh dari kata cukup dan bahkan sangat berlebih untuk mengganti kerugian bi-bit padi di satu petak kecil itu.
Aku mengulurkan u-ang itu dengan kedua tangan. "Mohon diterima, Pak. Anggap saja ini sebagai ganti ru-gi bi-bit dan tenaga Bapak untuk menanam ulang. Sekali lagi, saya yang bertanggung jawab dan meminta maaf."
Petani tua itu tertegun. Matanya menatap u-ang di tanganku lalu beralih me-na-tap wa-jah-ku. Ke-ma-rah-an di wa-jah keriputnya perlahan lu-ruh. Ia menerima u-ang itu dengan tangan ge-me-tar lalu tersenyum sangat sungkan.
"Iya, Nak. Ya sudah, tidak apa-apa. Namanya juga mu-si-bah. Suruh adik-adiknya hati-hati kalau jalan."
Aku mengangguk hormat. Saat aku membalikkan ba-dan, aku melihat mahasiswi lain me-na-tap-ku dengan mu-lut sedikit ter-bu-ka. Mereka terdiam melihat cara ma-sa-lah ini diselesaikan tanpa ada perdebatan panjang. Aku tidak memedulikan ta-tap-an kagum itu. Mataku langsung tertuju pada Mutia dan Nira yang sudah dibantu naik ke jalanan tanah oleh teman-temannya.
Pakaian Nira benar-benar ko-tor. Lumpur cokelat menutupi hampir separuh rok dan lengannya.
"Kalian tidak mungkin ikut ke ru-mah kepala dusun dengan kondisi seperti itu," kataku te-gas. Aku menunjuk aliran sungai kecil berair jernih di balik rimbunan pohon bambu yang letaknya tidak jauh dari jalan desa. "Bersihkan diri kalian di.sungai itu. Kami akan menunggu di balai ru-mah kepala dusun yang ada di ujung jalan sana. Jangan terlalu lama."
Mutia mengangguk cepat. Ia menarik tangan Nira yang masih menunduk me-re-mas ujung bajunya yang ba-sah. Dua gadis itu berjalan menjauh menuju arah rimbunan bambu.
Aku membawa sisa rombongan melanjutkan perjalanan singkat menuju balai dusun.
Kami duduk di teras kayu balai yang teduh. Sarah membantu membagikan air minum
botol dari dalam tasnya. Obrolan ringan mulai terdengar kembali di antara a nak-an ak mahasiswa.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa bosan menunggu perlahan ber-u-bah menjadi ge-li-sah. Aku berdiri dari duduk ku dan bersandar pada tiang kayu balai dusun.
Aku mengangkat pergelangan tangan kiri. Ini sudah ketiga kalinya aku melihat jam tangan. Ujung sepatuku mulai mengetuk lantai papan berulang kali tanpa sa-dar.
Satu jam penuh sudah berlalu. Dua ga-dis itu belum juga muncul dari arah jalan setapak.
Insting perlindungan ku mulai mengambil alih. Fi-ra-sat bu-ruk merayap naik ke da-da-ku, mengusik ketenangan yang baru saja pulih. Sungai itu tidak dalam, tapi letaknya tertutup rimbunan bambu yang se-pi. Berbagai kemungkinan bu-ruk mulai berputar di kepalaku.
Dodi yang sejak tadi ikut mondar-mandir akhirnya ke-hi-lang-an kesabaran. "Biar saya susul mereka ke sungai ya, Om. Lama banget bersihin lumpur doang."
Aku mengangguk kaku. "Cepat pastikan."
Dodi berlari kecil menyusul ke arah sungai. Aku meng-u-sap tengku kku yang tiba-tiba terasa di-ngin. Udara siang yang pa-nas seolah tidak bisa menghalau rasa ge-li-sah yang mem-be-lit pe-rut-ku. Mataku terus me-na-tap ta-jam ke ujung jalan setapak, menunggu so-sok mereka muncul.
Baru beberapa menit berselang, suara langkah kaki terburu-buru terdengar.
Dodi berlari kembali ke arah balai dusun. Na-pas-nya mem-bu-ru. Wa-jah pemuda itu pu-cat pasi seperti baru saja melihat han-tu. Ia berhenti tepat di depanku sambil me-me-gang lututnya sendiri, berusaha meraup udara sebanyak mungkin.
"Om!" panggil Dodi dengan suara bergetar keras. Matanya me-na-tap-ku penuh ke-ta-kut-an. "Mereka tidak ada di sungai."

No comments:
Post a Comment