Aku mengambil pulpen itu. Tanganku tidak lagi gemetar. Dengan satu tarikan napas panjang, kutandatangani surat pernyataan mutasi biodata tersebut. Goresan tintanya terasa seperti pisau yang menyayat ikatan darah kami.
"Mulai hari ini, Hana Kirana bukan lagi bagian dari keluarga ini," ujarku sambil meletakkan pulpen dengan ketukan keras ke atas meja. Aku berdiri, menatap Ibu, Mas Danu, dan Sila satu per satu. "Ibu tidak perlu khawatir Hana akan mengotori nama baik menantu kaya Ibu. Tapi ingat kata-kata Hana hari ini, Bu. Suatu hari nanti, jangan pernah ketuk pintu rumah Hana, bahkan hanya untuk meminta segelas air."
Ibu tertawa meremehkan, suara tawanya terdengar sangat menyakitkan di telingaku. "Meminta sama kamu? Memangnya buruh cuci bisa jadi apa? Sudah, cepat kemasi barang-barangmu sebelum keluarga Nela datang bertamu!"
Aku berbalik tanpa berniat meneteskan air mata lagi. Kamar sempitku menjadi saksi bisu bagaimana aku bersiap pergi. Di dalam tas ransel lusuh yang warnanya sudah memudar, tidak ada baju-baju mahal. Hanya ada beberapa helai pakaian kerja yang sudah menipis, selembar surat pisah Kartu Keluarga yang baru saja dilegalisasi, dan sebuah buku catatan tua peninggalan almarhum kakek.
Buku itu berisi resep-resep rahasia minyak atsiri dan ramuan herbal kecantikan tradisional yang selama beberapa bulan ini diam-diam kuteliti di kala senggang.
Mereka pikir mereka sedang membuang sampah tidak berguna. Mereka tidak tahu, mereka baru saja melepaskan berlian yang siap bersinar dengan caranya sendiri.
Langkah kakiku terasa berat namun mantap saat melewati ruang tamu untuk terakhir kali. Mas Danu bahkan tidak mendongak saat aku berjalan melewati sofa tempatnya bersantai. Baginya, kepergianku adalah kelancaran bagi masa depannya bersama Nela.
Ibu berdiri di dekat pintu, mengawasi setiap gerak-gerikku seolah-olah aku adalah seorang pencuri yang hendak membawa kabur aset berharga dari rumahnya.
"Pastikan kamu tidak membawa barang yang bukan hakmu, Hana," sindir Ibu dengan pandangan mata yang terus tertuju pada tas ransel di punggungku.
"Semua yang ada di dalam tas ini adalah baju bekas yang Hana beli dari hasil keringat Hana sendiri, Bu," jawabku dengan nada datar. "Tidak ada satu sen pun uang Ibu atau Mas Danu di dalam sini."
Ibu hanya mendengus, memalingkan wajahnya ke arah jalan raya seakan-akan tidak sabar menunggu sosokku hilang dari pandangan. Aku melangkah melewati ambang pintu rumah yang telah membesarkanku dengan penuh air mata dan makian. Hati kecilku hancur, namun logikaku menolak untuk menyerah pada keadaan yang tidak adil ini.
Ketika kedua kakiku baru saja melangkah keluar dari pagar besi yang sudah berkarat, sebuah bentakan keras kembali memecah keheningan gang rumah.
"Hana! Berhenti kamu!" teriak Ibu dari arah teras.
Aku membalikkan badan dengan bingung. Belum sempat aku mencerna situasi, sebuah benda melayang cepat ke arahku.
Plak!
Sepasang sandal jepit karet yang sudah putus bagian jepitnya menghantam dadaku sebelum akhirnya jatuh ke atas tanah yang becek. Aku tertegun, menatap sandal kumal yang biasa kugenakan untuk mencuci baju di kamar mandi belakang.
Ibu berdiri di dekat pagar dengan berkacak pinggang, wajahnya memerah penuh amarah yang dipaksakan. "Jangan sekali-kali kamu pakai sandal itu keluar dari rumah ini! Itu dibeli pakai uang belanja rumah! Kamu tidak boleh membawa barang apa pun yang dibeli dengan uang dari rumah ini, sadar diri kamu!"
Air mataku yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos satu tetes, bukan karena aku lemah, melainkan karena tidak percaya bahwa wanita yang melahirkanku bisa bertindak sehina itu di depan para tetangga yang mulai mengintip dari balik jendela.
Aku melepaskan pandanganku dari sandal putus itu, lalu menatap Ibu dengan senyuman getir yang sarat akan kepedihan.
Tega sekali ya Ibu Salamah, bagaimana nasib Hana setelah ini?

No comments:
Post a Comment