“Surya! Astaga, kamu ini kenapa?! Baju kusut, bau begini! Meisa di mana?!” pekik Ibu Nur begitu Surya masuk rumah.
Surya mengusap wajahnya kasar. “Meisa sudah tidak mau melayaniku lagi, Bu. Dia bilang aku orang lain.”
“Orang lain bagaimana?! Istri macam apa itu?! Lihat kamu, anakku! Kamu kerja m ati-ma tian, tapi diperlakukan seperti ge mbel begini! Dia tidak punya hati!” Ibu Nur mengambil alih kendali emosi Surya. “Dan kamu masih diam saja soal tingkahnya yang menghamburkan uan gmu itu?! Emas dan baju pesta konyol yang dia pamerkan di tukang sayur itu harus kita selidiki, Sur! Itu pasti uang haram!”
“Ua ng ha ram dari mana, Bu? Dia kan hanya guru honorer…” Surya kelelahan untuk marah.
“U ang ha ram dari laki-laki sel ingkuhannya! Ibu yakin seratus persen! Masa guru honorer bisa punya perhiasan berlian! Itu pasti palsu! Dia sengaja memamerkan agar Ibu malu!” Ibu Nur mendekat, suaranya dipelankan, penuh hasutan. “Ibu punya ide, Sur. Keponakan kita, Anwar, dia kan kerja di toko emas besar. Ibu sudah hubungi dia. Dia akan datang ke sini sekarang untuk mengecek emas Meisa.”
Mata Surya langsung menyala.
Emosinya yang tadi meredup, kini tersulut lagi. “Pal su? Bagus! Kalau itu pal su, kita viralkan dia, Bu! Biar dia tahu malu!”
“Tentu saja! Kita buktikan betapa culasnya menantu kesayanganku ini!” Ibu Nur tertawa licik.
Terdengar suara motor butut, dan Meisa masuk rumah, membawa Andrew yang tampak kelelahan.
“Dari mana saja kamu?! Kamu sengaja membuatku kelaparan dan memakai baju ku sut, hah?!” Surya langsung menghampiri Meisa dengan nada mengomel yang sangat tinggi.
Meisa menatap Surya, tanpa ekspresi. “Aku dari sekolah, Mas. Aku bekerja. Bukankah kamu sudah berjanji pada Ketua Yayasan untuk bertanggung jawab? Kenapa kamu malah mengomel dan menuntut? Aku bukan babu di rumah ini.”
“Jangan bawa-bawa Pak Dharmawangsa! Kamu yang memancing! Kamu yang memulai semua perubahan g ila ini! Sejak kamu kenal laki-laki itu, kamu jadi sombong dan melawan! Kamu menghabiskan uan gku untuk beli perh iasan mur ahan dan gaun konyol!”
“Uan gmu?” Meisa tersenyum pahit.
“Uan g yang mana, Mas? Ua ng yang kamu berikan padaku hanya sepuluh ribu rupiah sehari. U ang itu sudah habis untuk beli garam dan air minum. Perhiasan itu aku beli dari ga jiku sendiri. Kenapa? Kamu cemburu aku punya uang di luar kendalimu?”
Ibu Nur maju, wajahnya penuh kebencian. “Cukup! Jangan banyak bicara, Meisa! Kamu tidak bisa membohongi kami lagi! Tunjukkan kalung itu sekarang! Atau kami akan laporkan kamu ke polisi karena membawa barang curian!”
Meisa menatap Ibu Nur tajam, lalu ke Surya yang berdiri di belakang ibunya. "Baiklah. Kalian mau melihatnya? Silakan."
Meisa berjalan tenang ke kamar. Ia kembali membawa kotak beludru merah marun dan meletakkannya dengan lembut di atas meja.
“Silakan. Puas-puaskan m ata kalian, Bu. Kalian bilang aku selingkuh, menghamburkan ua ng h aram, dan perhiasan ini p alsu. Buktikan saja,” tantang Meisa.
Saat itu juga, bel rumah berbunyi. Ibu Nur membuka pintu, dan masuklah Anwar, seorang pria muda berseragam rapi dari toko emas terkemuka. Ia membawa alat tester canggih di tangannya.
“Anwar, cepat cek e mas ini! Ibu yakin ini barang p alsu dari tukang online yang murahan!” perintah Ibu Nur dengan suara kemenangan.
Anwar mengambil kalung berlian itu dari kotak. Ia memasangnya ke alat tester dengan hati-hati. Surya, Ibu Nur, dan Nana (yang tiba-tiba muncul di ambang pintu) berdiri mengelilingi meja dengan napas tertahan. Mereka semua siap menyaksikan aib Meisa.
Anwar menekan tombol, dan layar alat tester itu menyala. Ia menatap hasilnya, lalu kembali menatap kalung di tangannya, wajahnya mulai berubah serius.
“Bagaimana, War? P alsu, kan? Katakan pada Bibi, agar Bibi bisa melaporkan dia ke polisi!” desak Ibu Nur, tidak sabar.
Anwar mengangkat wajahnya. Ia memandang Ibu Nur, lalu ke Surya, dan terakhir, tatapannya berhenti pada Meisa. Ada rasa hormat yang muncul di matanya.
“Bi, ini bukan palsu,” ucap Anwar pelan.
Ibu Nur mendengus. “Bukan p alsu, berarti imitasi super, kan? Tetap tidak ada harganya!”
Anwar menggeleng. Ia memegang kal ung itu dengan dua jari, mengangkatnya ke cahaya lampu ruang tengah.
“Kalung ini… ini em as asli. Bahkan, bukan em as biasa. Kadar kemurniannya mencapai dua puluh empat karat,” jelas Anwar.
Surya dan Ibu Nur terkejut. Emas dua puluh empat karat?
“Mustahil! Guru honorer tidak mungkin mampu beli emas murni dua puluh empat karat! Itu pasti punya orang lain!” teriak Surya.
Anwar menghela napas, gestur tubuhnya profesional. “Mas Surya, di toko kami, kalung dengan desain dan kualitas be rlian seperti ini sangat langka. Kami hanya menjualnya pada klien-klien yang sangat istimewa.”
Anwar menoleh ke Meisa lagi, lalu kembali menatap Surya, menggelengkan kepalanya perlahan.
“Mas Surya, kalung ini nilainya bukan hanya puluhan ju ta. Ini adalah koleksi eksklusif. Sejujurnya… jarang ada yang bisa memilikinya, Mas. Dan kalaupun ada yang membelinya, mereka pasti adalah seorang miliarder atau setidaknya istri dari miliarder.”
Suara Anwar yang lantang, memuji kemewahan kalung itu, me n usuk ja ntung Surya dan Ibu Nur. Mereka yang tadinya ingin mempe rmalukan Meisa, kini justru dibungkam oleh kemewahan nyata di tangan mereka.
Ibu Nur amb ruk di kursi. “Miliarder? Tidak mungkin…”
Surya menatap kalung yang berkilau di tangan Anwar, lalu ke wajah Meisa. Meisa tidak bergerak, tatapannya membalas tatapan Surya dengan penuh kemenangan.
“Jadi, Mas,” ujar Meisa, suaranya tenang, namun penuh kekuatan. “Apakah kamu masih berpikir aku berse lingkuh? Atau apakah kamu masih berpikir aku orang lain yang tidak layak kamu pedulikan?”
Meisa mengambil kalung itu dari tangan Anwar, menyimpannya kembali dalam kotak. Ia meninggalkan Surya, Ibu Nur, dan Nana yang mematung, tenggelam dalam keheningan yang memalukan. Emas dua puluh empat karat itu bukan hanya perhiasan, tapi tamparan keras bagi ego mereka.

No comments:
Post a Comment