Addense

Monday, 20 July 2026

Dulu pembantu sekarang ratu



Aku dijadikan ja-min-an untuk hu-tang-hu-tang Ayahku. Tapi… ternyata keluarga suamiku bukan manusia. Mereka bukan hanya memperlakukan ku sebagai pem-ban-tu, tapi juga…


®


Bukan Istri, Tapi Pem ba ntu


Ini bukan pernikahan. Ini kon-trak kerja tanpa ba-yar-an.


Ma-lam itu, Wulan ti-dur di ran-jang besi tipis tanpa busa. Ukuran ka-mar 2x3 meter. Dindingnya lembab. Ba-u kapur barus me-nye-ngat. Sebuah pa-ku di dinding menjadi tempat meng-gan-tung pakaiannya.


Ia tidak me-na-ngis. Air matanya habis saat lamaran dulu, saat ia tahu bahwa Ayahnya menandatangani perjanjian u-tang yang di-ba-yar dengan per-ni-kah-an nya.


U-tang sepuluh tahun. Bu-nga membengkak. Dan satu-satunya pe-lu-nas-an adalah... aku.


Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi ketika Wulan terbangun bukan karena alarm, tapi karena ketukan ke-ras di pintu ka-mar-nya.


"Wulan! Bangun!" suara Bu Tuti dari balik pintu. "Kamu pikir kamu liburan? Cepat siapin sarapan!"


Wulan ter-sen-tak. Ia belum ti-dur nyenyak. Pikirannya masih ka-cau. Tapi kakinya sudah bergerak otomatis menuju da-pur.


Di da pur, Bu Tuti sudah berdiri dengan tangan bersi-lang. Ma-ta-nya mengamati Wulan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Ini seragam mu," kata Bu Tuti sambil melem-parkan sehelai baju krem. "Pakai ini setiap hari. Kamu sekarang bagian dari ru-mah ini. Tugas mu masak, bersih-bersih, nyuci, nyetrika. Pokoknya semua pekerjaan ru-mah. Paham?"


Wulan menunduk. "Paham, Bu."


"Panggil Ibu."


"Paham, Ibu."


Bu Tuti per-gi me-ning-gal-kan dapur. Wulan berdiri sendirian dengan seragam krem di tangannya. Seragam pem-ban-tu. Bukan gaun pengantin. Bukan pakaian istri.


Ia mengganti pakaiannya di ka-mar pem-ban-tu. Seragam itu kebesaran. Tapi tidak ada waktu untuk me-nge-luh. Jam menunjukkan pukul lima kurang. Sarapan harus siap pukul enam.


Jam enam tepat, meja makan sudah tertata. Roti panggang di piring keramik putih. Jus jeruk di gelas kaca. Telur dadar di piring kecil.


Bu Tuti turun dengan langkah percaya diri. Ia duduk di kursi kepala meja. Ma-ta-nya memeriksa setiap hidangan.


"Lumayan," katanya di-ngin. "Besok buat nasi goreng. Aku bosan roti."


"Baik, Ibu."


Dewi turun lima menit kemudian. Adik ipar Wulan itu baru berusia dua puluh dua tahun, tapi sikapnya seperti ratu. Ia duduk tanpa bilang selamat pagi. Tanpa senyum. Tanpa terima ka-sih.


"Kamu sudah setrika baju aku?" tanya Dewi sambil mengunyah roti.


"Belum, Mbak. Saya baru selesai sarapan—"


"Ya udah, nanti kamu setrika Ada sepuluh blouse. Semuanya harus rapi. Jangan sampai ada lipatan."


Wulan mengangguk. "Baik, Mbak."


Arga turun paling akhir. Wa-jah-nya di-ngin. Ia tidak me-na-tap Wulan. Tidak mengucapkan terima ka-sih. Ia hanya duduk, makan, lalu berdiri.


"Aku per-gi dulu," katanya sambil mengambil kunci mobil.


"Belum sarapan, Nak?" tanya Bu Tuti.


"Sudah. Nasi gorengnya besok aja." Arga melirik Wulan sekilas. Bukan lirikan suami ke istri. Tapi lirikan maji-kan ke pem-ban-tu.


Setelah semua selesai makan, Wulan mulai membersihkan meja. Piring-piring ko-tor ia angkat ke dapur. Si-sa roti ia simpan di kulkas. Mungkin bisa untuk makan ku nanti.


Tapi belum selesai mencuci piring, Dewi sudah ber-te-riak dari lantai dua.


"Wulan! Setrika-annya mana? Aku mau pake blouse pink buat acara sore nanti!"


Wulan mengelap ta-ngan-nya. Buru-buru naik ke lantai dua. Di ka-mar Dewi, sepuluh blouse berwarna-warni bergelantungan di lemari. Dewi duduk di ran-jang sambil bermain ponsel.


"Setrika yang pink dulu. Yang lain nyusul."


"Baik, Mbak."


Wulan mengambil setrika yang sudah di pa-naskan. Ia mulai menyetrika blouse pink itu perlahan. Ta-ngan-nya belum terampil. Setrikaan masih agak ku sut di bagian kerah.


Dewi mendekat. Matanya menyipit. "Ini masih kusut, tahu?"


"Maaf, Mbak. Saya ulang."


"Kamu ini bisa apa sih? Udah gak be-cus masak, nyetrika aja gak bisa. Di sini bukan tempat belajar. Di sini tempatnya kerja. Kalau kamu gak be cus, mending pulang ke kam-pung mu."


Pulang ke kam-pung? Ke mana lagi? Ru-mah orang tua ku sudah di ga-dai untuk u-tang.


Tapi Wulan tidak mem-ban-tah. Ia hanya menunduk dan menyetrika ulang blouse pink itu.


Jam menunjukkan pukul 10 pagi saat Wulan selesai menyetrika semua blouse Dewi. Tangannya pegal. Telapak ta-ngan-nya mulai terasa pa-nas. Mele-puh kecil mulai muncul.


Ia turun ke dapur. Pe-rut-nya keron-congan. Belum makan apa pun sejak bangun ti-dur. Ia mem-bu-ka kulkas. Sisa roti tawar kemarin masih ada dua lembar. Wulan mengam-bilnya. Dimakan begitu saja tanpa selai. Tanpa mentega.


"Wulan!" suara Bu Tuti dari ruang tamu.


Wulan buru-buru me-ne-lan rotinya. Lari menuju ruang tamu.


"Iya, Ibu?"


"Lantai masih ko-tor. Kamu pel belum?"


"Belum, Ibu. Saya baru selesai nyetrika—"


"Jangan banyak ala san. Cepat pel. Aku tidak mau tamu datang lihat lantai ko-tor."


"Baik, Ibu."


Wulan mengambil pel dari belakang ru-mah. Ember diisi air. Lantai ruang tamu dipelnya satu per satu. Keringat mulai bercucuran. Seragam krem nya ba-sah di pung-gung.


Saat sedang menge-pel di sudut ruangan, Arga lewat. Ia baru pul ang dari suatu acara. Suaminya itu berhenti sejenak. Me-na-tap Wulan yang sedang berlu-tut.


"Kamu sudah makan?" tanya Arga.


Wulan terkejut. Ini pertama kalinya Arga menanyakan kondisinya. "Belum, Arga. Saya tadi—"


"Ya sudah. Nanti makan. Yang penting lantainya bersih. Ibu tidak suka lantai ko-tor."


Arga per-gi naik ke lantai dua. Wulan hanya bisa terdiam.


Dia bertanya hanya untuk memastikan aku tidak la-lai bekerja. Bukan karena pe-du-li.


Wulan melanjutkan menge-pel. Lantai satu. Lantai dua. Ka-mar man-di. Dapur. Semua harus bersih.


Jam menunjukkan pukul 1 siang saat Wulan selesai menge-pel seluruh ru-mah. Pe-rut-nya sudah tidak terasa la-par lagi. Mungkin karena le-lah yang begitu be-rat.


Ia duduk di lantai dapur. Bersandar di kulkas. Ma-ta-nya terpe-jam.


Tapi tidak ada istirahat.


"Wulan! Masak untuk makan siang! Aku la-per!" te-ri-ak Dewi dari lantai dua.


No comments:

Post a Comment