"Mau ke mana lagi, Ndira?"
Indira berhenti di ambang pintu, tangannya masih menggenggam tas selempang berwarna cokelat. Istriku itu menoleh dengan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.
"Cuma mau ke warung sebentar, Vin. Beli bumbu dapur," jawabnya sambil merapikan jilbab yang melingkar di leher.
Aku menatapnya dari sofa ruang tamu. Mataku menyipit, mencoba membaca gerak-gerik Indira yang akhir-akhir ini terasa asing. Ini sudah ketiga kalinya minggu ini Indira keluar rumah dengan alasan serupa. Aneh, pikirku. Biasanya Indira selalu berbelanja sekaligus untuk seminggu penuh.
"Emang bumbu apa yang kurang?" tanyaku, berusaha terdengar santai meski dadaku mulai terasa sesak.
"Eh... jahe sama lengkuas. Habis, soalnya." Indira menjawab terlalu terburu-buru, gugup membuatku curiga.
Aku mengangguk pelan. "Ya udah, hati-hati."
Pintu tertutup. Rumah kontrakan kami di kawasan Ciceri, Serang, kembali sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar pelan dan sesekali teriakan an ak-an ak bermain di luar. Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja, membuka galeri foto. Foto pernikahan kami lima tahun lalu tersenyum manis dari layar. Indira yang cantik dengan gaun pengantin putih, diriku yang masih penuh harap.
...
"Lu yakin itu Indira?" tanyaku, masih berharap ada kesalahpahaman.
"Yakin, Vin. Jilbab motif bunga-bunga, tas cokelat. Itu istri lu," jawab Bara memastikan.
Seno menepuk bahuku. "Gue nggak mau nuduh macam-macam. Tapi lu harus cek, Vin. Daripada lu terus dalam ketidakpastian."
Aku terdiam. Pikiranku berkecamuk. Kenapa Indira? Kenapa Ragil? Ribuan pertanyaan memenuhi kepalaku, tapi tidak ada satu pun jawaban yang masuk akal. Aku mengingat betapa baiknya Ragil selama ini. Pria itu bahkan pernah membantu memperbaiki atap rumah kami yang bocor. Apakah semua kebaikan itu hanya untuk mendekati istriku?
"Kalau gitu, besok kita intai," ucapku akhirnya, suaraku dingin dan penuh tekad.
Seno dan Bara saling berpandangan. Mereka tahu, aku sedang di titik yang sangat rapuh.
"Lu yakin, Vin?" tanya Seno lagi.
Aku mengangguk tegas. "Gue harus tau kebenarannya. Gue nggak bisa terus hidup dalam kebohongan."
Malam itu, Indira pulang pukul delapan. Wajahnya terlihat segar, terlalu segar untuk seorang wanita yang katanya habis dari warung. Aku menyambutnya dengan senyum, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Udah makan, Ndira?"
"Udah, Vin. Aku makan di jalan tadi."
"Lu yakin Indira bakal datang?" bisik Bara.
"Entah. Tapi kita tunggu aja," jawabku, mataku tidak lepas dari rumah Ragil.
Pukul dua kurang sepuluh menit, sosok yang kami tunggu muncul. Indira, dengan jilbab biru muda dan tas selempang yang sama, berjalan cepat menuju rumah Ragil. Istriku itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang melihat, sebelum akhirnya mengetuk pintu.
Pintu terbuka. Ragil muncul, tersenyum, lalu membiarkan Indira masuk.
Pintu tertutup kembali.
Aku merasakan dadaku sesak, napasku tercekat. Tanganku mengepal erat hingga buku-buku jariku tak tahan ingin memberi perhitungan pada mereka.
"Vin..." Seno menyentuh lenganku.
"Kita tunggu lima belas menit lagi," bisisku dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kalau dia belum keluar..."
"Kita masuk," sambung Bara.
Lima belas menit terasa seperti lima belas tahun. Setiap detik terasa menyiksa. Akhirnya, aku bangkit. Seno dan Bara mengikuti di belakangku.
Kami berjalan menuju pintu hijau tua itu. Aku mengetuk keras.
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi, lebih keras.
"Ragil! Buka pintunya!"
Suara panik terdengar dari dalam. Ada desahan, langkah kaki tergesa, dan...
Pintu terbuka sedikit. Ragil muncul, wajahnya pucat, rambut acak-acakan.
"Davin? Ada ap—"
Aku tidak menunggu. Aku mendorong pintu dengan keras, menerobos masuk.
Dan di ruang tamu yang redup itu, aku melihatnya.
Indira. Istriku. Duduk di sofa dengan b aju yang kus ut, jilbab yang melor ot, wajah yang merah padam.
Duniaku runtuh dalam sekejap.
Bersambung

No comments:
Post a Comment