Rayan mem-ban-ting pintu mobilnya dengan ka-sar setibanya di halaman ru-mah. Pikirannya masih dipenuhi bayangan wa-jah Rena. Ia melangkah masuk ke dalam ru-mah, mengabaikan Ratna yang masih berdiri di ruang tamu dengan wa-jah cemberut dan mu-lut yang tak henti-hentinya me-ma-ki kes-ialan hari ini.
"Pu-as, Pah? Gara-gara pe-rem-puan itu, kita jadi tontonan orang ru-mah sa-kit!" seru Ratna ke tus.
Rayan tidak menjawab. Ia meraba saku jasnya, lalu saku celananya. Kosong. “Si al, ponselku tertinggal di nakas ka-mar ra-wat,” gumam Rayan. Ia harus segera mengambilnya karena ada data proyek penting yang akan dibahas besok pagi.
Tanpa mempedulikan o-ceh-an Ratna yang semakin me-ning-gi, Rayan berbalik arah. Ia kembali masuk ke mo bil dan memacu kendaraannya membe lah jalanan malam menuju rum ah sa kit.
Hatinya merasa tidak tenang, entah kenapa seperti merasa akan terjadi sesuatu. sebuah rasa geli sah menggelayuti da danya.
®
Sementara itu, di dalam ka mar rawat, suasana begitu memu akkan. Rena menatap dengan mata yang memerah, menyaksikan suaminya sendiri sedang bercu mbu dengan wa-ni-ta lain.
Tangannya yang tertan-cap ja-rum in-fus ge-me-tar hebat. Ia ingin ber-te-riak, tapi suaranya seolah tersangkut di tenggorokan.
Cklek.
Pin tu ka mar ter-bu-ka dengan sen takan ke-ras. Rayan berdiri di sana. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan me-nji-jik-kan di depannya.
Aris kaget dan langsung melepaskan pe-lu-kan-nya dari Dina, sementara Dina hanya merapikan rambutnya dengan santai tanpa rasa ma-lu sedikit pun.
"Aris! Apa-apaan ini?!" suara Rayan meng-gele-gar, membuat Aris ter-sen-tak mundur hingga me-na-brak kursi plastik.
"P-pah ... ini tidak seperti yang Papa lihat..." gagap Aris, wa-jah-nya pucat pasi.
Rayan melangkah maju dengan langkah lebar.
Bugh!
Sebuah pu-kul-an mentah mendarat telak di ra-hang Aris hingga pria itu tersungkur ke lantai.
"Bi na tang kamu, Aris! Istrimu sedang berta-ruh nya-wa, dan kamu membawa pe-la-cur ini ke ka-mar ra-wat-nya?!" te-ri-ak Rayan dengan na-pas mem-bu-ru.
"Jaga mu-lut Papa ya! Dina bukan pe la cur!" bela Aris sambil memegangi ra hang nya yang berdenyut sa kit.
Di atas ran-jang, Rena akhirnya mengeluarkan suara. “Cukup …” bi-sik-nya parau. Semua mata tertuju padanya. Rena mencoba duduk meski terasa berputar. Air matanya sudah mengering, digantikan oleh pandangan di-ngin dan ko-song.
"Mas Aris ... ce-rai-kan aku," ucap Rena pelan namun te-gas.
Aris tertawa si-nis sambil berdiri sambil mengusap da-rah di sudut bi-bir-nya. "Oh, kamu minta cer-ai? Bagus! Memang itu yang aku tunggu-tunggu dari dulu. Kamu pikir aku tahan hidup dengan wa-ni-ta kam-pung, ku-sam, dan mem-bo-san-kan seperti mu?"
"Aris, diam!" ben-tak Rayan, namun Aris sudah ke-hi-lang-an a-kal sehatnya.
Aris menatap Rena dengan penuh kebe ncian.
“Mas Aris sudah tak memiliki rasa terhadap wa-ni-ta kampung itu, Om. Mas Aris hanya men-cin-tai ku, wa-ni-ta baik-baik, tidak sepertinya,” ucap Dina dengan santainya tanpa rasa ta-kut dan sopan sedikit pun terhadap Rayan.
Rayan menatap ta-jam wa-ni-ta tersebut. Rahangnya me-nge-ras. Tangannya menge pal ku-at. “Lihat dirimu, tidak ada wa-ni-ta baik-baik mau dengan suami orang! Berpenampilan seperti ja-lang mu-rah-an. Mu-rah sekali selera mu, Ris. Papa gak habis pikir dimana o-tak-mu berada. Mempunyai istri yang taat, malah milih pe-la-cur!” Sar-kas Rayan menatap ji-jik wa-ni-ta yang ada dihadapannya.
“Cukup, Pah. Dia pilihan ku. Aku men-cin-tai-nya. Dan aku akan lebih memlilih Dina dari pada wanita ku-mel ini,’ jelas Aris menatap tak suka ke ara Rena dengan pan-dang-an ji-jik.
Karena tidak mau berlama-lama di sana, Aris pun mengucapkan kata Tal-ak tepat di hadapan Rena yang terba-ring lemah yang sedang me-na-tap-nya ta-jam.
"Rena binti Ahmad, hari ini, di depan Papa dan kekasih ku, aku ta-lak kamu! Aku ce-rai kamu! Ambil semua barang bu-suk mu dari ru-mah ku dan jangan pernah in-jak kan kakimu di sana lagi!"
Dina tersenyum pu-as, ia mendekati Rena dan mem-bi-sik-kan sesuatu yang cukup keras untuk didengar semua orang. "Dengar itu, sam-pah? Kamu sudah di bu-ang. Sekarang sadar diri, kecantikan mu tidak akan pernah bisa menandingi kuku kaki ku sekalipun. Kamu itu cuma ba-bu yang kebetulan punya surat ni-kah."
"Ayo, Sa-yang, kita per-gi. Tempat ini bau kemis-kinan," ajak Dina sambil me-na-rik lengan Aris.
Aris me-lu-dahi lantai di samping ka-sur Rena sebelum melangkah ke-lu-ar dengan angkuh. Rayan hendak mengejar mereka, namun suara isakan lirih Rena menghentikan langkahnya.
Rayan berbalik. Ia melihat Rena yang rapuh, mencoba men-ca-but pak-sa ja-rum in-fus di tangannya hingga da-rah segar merembes ke-lu-ar.
"Rena, jangan!" Rayan segera mendekat dan menahan tangan Rena. Ia mengambil kapas dan me-ne-kan lu-ka itu dengan lem-but.
“Tenanglah, Papa ada di sini.”
Rena me-na-tap Rayan. Di mata pria berusia 40 tahun itu, ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar rasa ka-sih-an seorang mertua pada menantunya, tapi ada kilatan perlindungan yang sangat dalam, bahkan mungkin ... kekaguman atas ketegaran Rena. Rayan merasakan da-da-nya bergemuruh saat me-nyen-tuh kulit tangan Rena yang dingin.
Sebuah perasaan tak wajar yang seharusnya tidak dimilikinya sendiri.
"Kenapa, Pah? Kenapa mereka begitu ja-hat padaku?" rin-tih Rena, tu-buh-nya am-bruk ke da-da Rayan.
Rayan me-me-luk-nya erat, meng-u-sap
pung-gung Rena yang ber-ge-tar hebat.
"Maafkan Papa, Rena. Mereka tidak pantas untukmu. Kamu wa-ni-ta yang luar biasa."
Rena melepaskan pe-lu-kan-nya perlahan. Ia menatap wa-jah tampan Rayan yang masih terlihat sangat segar dan berwibawa meski sudah berumur.
Ingatannya kembali pada Ratna, di-khia-nati Aris, dan hi-na-an Dina. Den-dam mulai tumbuh di ha-ti-nya, mem-ba-kar habis si-sa-si-sa har-ga diri yang tadinya han-cur.
"Pah ..." suara Rena tiba-tiba berubah di-ngin dan ta-jam. "Setelah aku resmi ber-ce-rai dengan a-nak mu, aku tidak mau per-gi dari keluarga ini sebagai pecundang."
Rayan mengernyitkan dahi. “Maksudmu?”
Rena memegang tangan Rayan dengan erat, menatap tepat ke manik mata pria itu. "Nikahi aku, Pah. Jadikan aku istrimu. Aku ingin kembali ke ru-mah itu bukan sebagai ba-bu atau menantu yang tertin-das, tapi sebagai nyonya be-sar. Aku akan memba-las setiap tetes air mata dan pen-de-rita-an yang mereka berikan padaku. Aku ingin mereka sujud di kaki ku."
Rayan ter-be-la-lak. Jan-tung-nya berdegup kencang. Permintaan itu gi-la, tapi entah kenapa, sebagian alarm ber-te-riak untuk mengatakan 'ya'.
"Rena ... kamu sa-dar apa yang kamu katakan?" bi-sik Rayan dengan suara serak.
"Aku sangat sa-dar, Pah. Hanya Papa yang bisa membantu ku meng-han-cur-kan mereka. Tolong, Pah ... bantu aku mem-ba-las den-dam ini," pinta Rena dengan mata yang kini menyala penuh api ke-ben-ci-an.
Rayan terdiam cukup lama. Ruangan itu seolah ke-hi-lang-an suara, hanya detak jan-tung mereka yang saling bersahutan dalam ketegangan.
Ta-tap-an Rena tak goyah, penuh lu ka yang telah berubah menjadi ambisi. Dalam benaknya, bayangan masa lalu berputar, peng-hi-na-an, ta-ngis-an diam-diam, dan rasa tak berdaya yang kini menjelma menjadi tekad.
Rayan me-ne-lan lu-dah. Ia tahu, keputusan ini akan mengubah segalanya.
“Kalau aku setuju…” suara Rayan rendah, “kamu siap menanggung semuanya?”

No comments:
Post a Comment