Pelakor menawarkan u-a-ng dua j-u-t-a sebulan agar putriku sudi merawat ayahnya yang dulu tega memb-u-a-n-g dan m-e-n-y-u-m-p-a-h-i kami m-a-t-i kelaparan di pinggir jalan. Dia tidak tahu kalau u-a-n-g dua j-u-t-a itu omset sehari usaha kulinerku.
🪷🪷🪷
3. Matahari pagi belum sepenuhnya naik saat Rara sudah berdiri di depan cermin kamar mandi rumah kontrakan mereka yang sempit.
Wajahnya yang polos tampak kuyu, dengan lingkaran hitam yang semakin mempertegas kelelahan di matanya. Rasa cemas setelah meninggalkan rumah sakit secara sembunyi-sembunyi semalam masih menyisakan debar halus di dadanya.
Semalam, dia beruntung bisa meyakinkan seorang penjaga malam rumah sakit untuk meminjamkannya ongkos pulang setelah memohon dengan air mata. Namun, pagi ini, kenyataan pahit kembali menyambutnya tanpa ampun.
"Kak, Lala lapar. Ibu kapan pulang?"
Suara lirih dari arah pintu membuat Rara menoleh.
Lala, adiknya yang baru berusia tujuh tahun, berdiri sambil mengucek mata. Rambutnya yang sebatas bahu tampak acak-acakan, sementara tangannya memegangi perut kecilnya yang keroncongan.
Rara memaksakan senyum. Dia berlutut di depan adiknya, merapikan kaus Lala yang sudah mulai kekecilan. "Ibu masih dirawat, Dek. Lala sama Kakak dulu, ya. Sekarang Lala mandi, habis itu kita makan."
Namun, saat Rara membuka tudung saji di meja makan, hatinya mencelos. Tidak ada apa-apa di sana selain sebuah stoples plastik berisi sisa kerupuk yang sudah melempem.
Di dalam jeriken plastik, beras pun hanya tersisa segenggam kecil—bahkan tidak cukup untuk dibuat bubur encer. Uang di dompet kainnya benar-benar nol rupiah.
Pikiran Rara langsung melayang pada Ayahnya, Aris. Ke mana perginya lelaki itu? Mengapa dia t-e-g-a membiarkan i-s-t-r-i dan a-n-a-k-a-n-a-k-nya terlunta-lunta seperti ini? A-m-a-r-a-h Rara membumbung, tetapi dia harus menahannya demi Lala.
Setelah memandikan adiknya dan memakaikan seragam sekolah, Rara memutuskan untuk membawa Lala ke rumah sakit. Dia tidak mungkin meninggalkan adiknya sendirian di rumah,
sementara dia sendiri harus pergi kuliah pagi ini demi mengejar ujian semester, lalu kembali menjaga Ibunya.
Setibanya di selasar rumah sakit setelah berjalan kaki hampir dua kilometer, perut Rara mulai melilit. Dia belum menyentuh makanan sejak kemarin siang. Lala juga mulai merengek l-e-m-a-s, menyandarkan kepalanya di pinggang Rara.
Di tengah kebingungan itu, Rara melihat kerumunan orang di dekat area parkir ambulans. Sebuah spanduk hijau bertuliskan "Sedekah Jumat: Makanan Gratis untuk Keluarga Pasien" terbentang di sana. Dua orang panitia berbaju seragam sedang sibuk membagikan nasi kotak kepada barisan antrean yang mengular panjang.
Aroma nasi hangat dan lauk ayam goreng seketika menyeruak, membuat cacing di perut menari tak karuan. Namun, rasa gengsi sebagai seorang mahasiswi mendadak membentur dinding dadanya.
Dia mengenakan almamater kuliahnya yang bersih, meski sedikit kumal. Haruskah dia ikut mengantre di antara orang-orang berbaju lusuh itu hanya demi sebungkus nasi?
"Kak, Lala lapar sekali..." rintih adiknya dengan suara parau.
Persetan dengan gengsi. Gengsi tidak akan bisa mengisi perut adiknya, juga tidak akan bisa memberi energi pada Ibunya yang sedang s-e-k-a-r-a-t di atas ranjang bangsal.
Rara memantapkan hati. Dia menggandeng tangan Lala, lalu menyelip di barisan paling belakang. Antrean bergerak lambat, dan setiap detiknya terasa seperti s-i-k-s-a-a-n bagi Rara yang terus menundukkan kepala, t-a-k-u-t jika ada teman kuliahnya yang kebetulan lewat dan melihatnya di sana.
Ketika tiba gilirannya, seorang panitia pria paruh baya tersenyum ramah. "Satu kotak ya, Neng."
Rara menelan ludah. Logikanya berputar cepat. Ibunya belum makan. Lala butuh makan. Dirinya sendiri juga butuh tenaga agar tidak p-i-n-g-s-a-n saat ujian nanti. Jika dia hanya mengambil satu, siapa yang harus mengalah? Dengan tangan yang gemetar dan wajah yang mulai memanas, Rara memberanikan diri.
"Pak... boleh saya minta tiga kotak?" tanya Rara, suaranya mencicit lirih.
Senyum panitia itu langsung lenyap. Matanya menatap Rara dari atas ke bawah, beralih pada jaket almamater yang dikenakannya. "Maaf, Neng. Aturannya satu orang cuma boleh ambil satu kotak. Lihat di belakang, antrean masih panjang. Jangan s-e-r-a-k-a-h."
"Tapi, Pak, ini untuk adik saya dan Ibu saya yang sedang s-a-k-i-t di bangsal kelas tiga," Rara memohon, matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya nekat meraih dua kotak tambahan yang tertumpuk di atas meja sebelum panitia sempat melarang.
"Eh, Neng! Jangan main ambil saja! Turunkan tidak?!" b-e-n-t-a-k panitia itu dengan suara meninggi, merebut kembali dua kotak nasi dari c-e-n-g-k-e-r-a-m-a-n Rara.
Ketegangan itu langsung menarik perhatian orang-orang di belakangnya. Bisik-bisik miring mulai terdengar, laksana dengungan lebah yang menusuk telinga.
"A-n-a-k kuliahan kok tidak punya sopan santun, ya?"
"Memangnya yang butuh makan cuma dia saja? Berpakaian rapi tapi mentalnya p-e-n-g-e-m-i-s!"
"Huuu! Turunkan! Jangan m-a-r-u-k!" sorak seorang bapak-bapak di barisan belakang dengan nada s-i-n-i-s.
Wajah Rara seketika memerah padam, terasa seperti d-i-t-a-m-p-a-r di depan umum. M-a-l-u, h-i-n-a, dan m-a-r-a-h bercampur menjadi satu. Air matanya runtuh tanpa bisa dibendung lagi. Dia mendekap satu kotak nasi yang berhasil dipertahankannya, lalu menarik tangan Lala dengan tergesa-gesa, berlari menjauh dari kerumunan yang terus m-e-n-c-e-m-o-o-h-nya.
Rara membawa Lala ke sebuah pojokan lorong sepi di dekat gudang tabung oksigen. Di sana, di atas lantai semen yang dingin, Rara terduduk l-e-m-a-s. Dia memeluk lututnya dan m-e-n-a-n-g-i-s sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di balik jilbab.
Bahunya berguncang hebat. Mengapa hidupnya menjadi s-e-h-i-n-a ini? Ke mana sosok Ayah yang seharusnya melindungi dan menafkahi mereka? Mengapa Ibunya yang tulus harus menanggung semua p-e-n-d-e-r-i-t-a-a-n ini sendirian?
"Kakak jangan m-e-n-a-n-g-i-s... Lala tidak apa-apa kok kalau makannya berbagi," bisik Lala polos, mengusap air mata di pipi kakaknya dengan tangan mungilnya.
Rara menghapus air matanya dengan kasar. Dia membuka kotak nasi itu, lalu menyuapi adiknya dengan telaten, memastikan Lala kenyang terlebih dahulu, sementara dia sendiri hanya memakan beberapa suap sisa lauknya.
Setelah memastikan Lala aman dan menitipkannya sejenak di ruang tunggu a-n-a-k, Rara melangkah menuju bangsal kelas tiga untuk menemui Ibunya sebelum dia berangkat ke kampus.
Di dalam bangsal, aku mencoba menegakkan tubuh saat melihat Rara masuk membawa sebuah kotak nasi. Rasa n-y-e-r-i di perutku masih ada, tetapi tidak sekuat semalam.
Aku menatap putri sulungku dengan tatapan menyelidik, mengingat kenekatannya yang keluar tengah malam dan penampilannya yang berantakan pagi ini.
"Ibu, ini Rara bawa nasi hangat. Ibu harus makan ya, supaya bisa minum o-b-a-t," ujar Rara dengan nada suara yang ceria, namun matanya yang sembap tidak bisa membohongiku.
"Kamu dapat uang dari mana untuk beli ini, Ra?" tanyaku lembut, menatap kotak nasi yang tampak familiar sebagai makanan sedekah.
Rara mengalihkan pandangannya, pura-pura sibuk membuka bungkus sendok plastik. "Ada... ada program sedekah di bawah, Bu. Rara kebagian."
Aku menghela napas, tahu betul perjuangan berat yang harus dilalui a-n-a-k-ku demi sekotak nasi ini. Aku menerima suapan demi suapan yang diberikan Rara dengan hati yang dirundung pilu. Aku berjanji dalam hati, aku harus sembuh. Aku tidak boleh membiarkan a-n-a-k-a-n-a-k-ku hidup menderita karena keegoisan s-u-a-m-i-ku.
Setelah selesai makan, Rara pamit untuk pergi kuliah. "Rara pergi sebentar ya, Bu. Ada ujian. Lala Rara titip di ruang tunggu bawah, nanti habis ujian Rara langsung ke sini lagi."
Aku mengangguk dan tersenyum, melepas kepergiannya dengan doa. Namun, saat aku hendak merapikan sisa kotak nasi di meja samping ranjang, jemariku menyentuh sesuatu yang ganjil.
Di bawah lipatan kertas alas kotak nasi yang dibawa Rara, ada selembar kertas putih yang terlipat kecil dan agak lecek.
Penasaran, aku mengambil kertas itu dan membukanya.
Tatapanku seketika terpaku pada kop surat resmi dari laboratorium dan bagian farmasi rumah sakit. Itu adalah nota resep o-b-a-t tebusan mandiri yang sengaja disembunyikan Rara dariku semalam.
Mataku membelalak, napas dan jantungku seakan berhenti berdetak di detik itu juga. Di baris paling bawah, tertera nominal angka yang sangat besar untuk ukuran kami yang tidak punya apa-apa lagi.
Sebuah angka yang memperlihatkan harga o-b-a-t yang harus ditebus hari ini juga agar k-i-s-t-a-ku tidak p-e-c-a-h dan m-e-n-g-a-n-c-a-m n-y-a-w-a-ku.
Bersambung.

No comments:
Post a Comment