“Blokir semua akses keuangan Mas Rey. Kartu kredit, kartu debit, rekening bersama, sampai akses ke sistem perusahaan. Semua.”
...
“Bu Sinta?”
“Sekarang.”
“Ada apa, Bu?”
“Aku baru saja melihat sendiri dia di rumah sakit ibu dan anak. Dia tidak sedang di Bali. Dia bersama perempuan hamil yang terdaftar di data rumah sakit sebagai istrinya.”
Anes terdiam beberapa detik.
“Baik, Bu. Saya kerjakan sekarang.”
“Dan satu lagi. Audit semua transaksi atas nama dia selama tiga bulan terakhir. Jangan sampai ada yang terlewat.”
“Siap, Bu.”
Telepon kututup.
Air mataku berhenti mengalir. Aku menarik napas panjang, lalu menyalakan mesin mobil. Sesampainya di rumah, aku melangkah masuk dengan tenang. Satu tanganku tetap menopang perut.
Di kamar utama, kubuka lemari Mas Rey lebar-lebar. Kemeja, jas, jam tangan, sepatu, semua barang miliknya kukeluarkan dan kutumpuk di atas kasur.
“Mbak Wati,” panggilku.
“Iya, Bu?”
“Masukkan semua barang Bapak ke koper.”
Mbak Wati berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung.
“Bu Sinta... semua ini mau dibawa ke mana?”
“Keluarkan semua barang Bapak dari rumah ini.”
“Bapak mau pindah rumah, Bu?”
Aku menutup resleting koper pertama.
“Dia sudah punya rumah lain sejak lama. Tidak ada alasan barang-barangnya masih ada di sini.”
Mbak Wati tidak bertanya lagi. Ia langsung membantuku mengemas semuanya.
Setelah selesai, aku meminta Pak Beni mengangkat seluruh koper ke teras depan. Lima koper besar berjajar rapi di depan pintu utama. Begitu semuanya selesai, aku mengunci pagar bagian dalam.
Belum genap satu jam, ponselku berdering.
Mas Rey.
Aku mengangkatnya.
“Sinta! Kenapa semua kartuku tidak bisa dipakai?” bentaknya. “Kamu blokir semua aksesku?”
“Aku hanya mengamankan uang dan aset milik keluargaku.”
“Uangmu?” suaranya meninggi. “Aku suamimu! Kita menikah, Sinta!”
“Suami yang katanya sedang meeting mendadak di Bali?”
Hening beberapa saat.
“Apa maksudmu?”
“Kamu pindah dari rumah sakit ke rumahku kurang dari satu jam. Hebat juga, lebih cepat daripada pesawat.”
“Sinta...”
“Tidak usah pura-pura tidak tahu. Deposit persalinan kelas VIP untuk istri keduamu tidak murah, kan? Kamu pasti butuh akses rekening bersama untuk membayarnya.”
Napasnya terdengar berat.
“Kamu mengikutiku ke rumah sakit?”
“Aku sudah melihat semua yang perlu kulihat.”
“Sinta, dengarkan penjelasanku dulu. Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Pulang sekarang. Barang-barangmu sudah menunggu di teras.”
Aku langsung memutus telepon.
Beberapa menit kemudian, suara klakson panjang memecah suasana.
Aku berdiri di ambang pintu ketika Mas Rey masuk dengan langkah tergesa. Langkahnya langsung terhenti saat melihat lima koper berjajar di teras.
“Apa-apaan ini, Sinta?”
“Barang-barangmu. Semuanya sudah aku keluarkan.”
“Kamu sudah gila?”
“Mungkin. Atau mungkin aku baru sadar setelah tiga tahun menikah kalau suamiku ternyata punya istri dan calon anak dari perempuan lain.”
Wajahnya berubah.
“Sinta, jangan bikin keributan di depan orang. Masuk, kita bicara baik-baik.”
“Keributan itu kamu yang bawa ke rumah ini, Rey. Aku hanya mengeluarkan barang-barangmu.”
Ia menaiki satu anak tangga.
Pak Beni segera maju dan berdiri di antara kami.
“Pak, mohon jangan mendekati Ibu.”
Mas Rey menatapnya tajam.
“Ini urusan rumah tangga saya. Jangan ikut campur.”
“Pak Beni bekerja untuk saya dan keluarga saya,” potongku. “Sama seperti jabatan manajer yang kamu pegang, mobil yang kamu pakai, dan kartu kredit yang selama ini kamu gunakan. Semua berasal dari saya.”
Mas Rey menatapku tanpa berkedip.
“Kamu pikir kamu bisa mengusirku dari rumah ini?”
“Aku tidak sedang berpikir.”
Aku menunjuk deretan koper di ujung teras.
“Aku sedang melakukannya.”
Aku menatap lurus ke matanya.
“Kamu kupecat, Reynaldi. Sebagai manajer di perusahaan keluarga... dan sebagai suamiku.”

No comments:
Post a Comment