Saat aku pulang dari penugasan di Papua, yang menyambutku bukan pelvkan suami ... melainkan su-raat cee-rai, rumah yang disii-ta ba-nk, dan tabunganku yang habis untuk membii-ayaai seling-kvhan suamiku. Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?
“Apa-apaan ini?”
Arina keluar dari mobil dengan langkah sempoyongan. Tangannya menyen-tvh stiker merah yang dingin itu.
"Kenapa bisa disii-ta?" bisik Arina pada angin malam. Daada Arina mendadak sesak, napasnya memburu tak percaya. "Tiap bulan ... tiap bulan aku selalu mentrans-fer u-wang ..."
Bahkan di tengah keterbatasan sinyal di pedalaman Papua, Arina tidak pernah absen mentrans-fer sepuluh jv-ta rupiah dari ga-ji dan tunjangannya ke reke-ning Reno khusus untuk melu-nasi cii-cilan rumah tersebut. Ke mana perginya u-wang puluhan jv-ta yang selalu ia kirimkan?
"Dok Arina? Ya Allah, Dok, akhirnya pulang juga ..." sebuah suara parau memecah keheningan yang mence-kam.
Arina menoleh dengan pandangan kabur oleh air mata. Terlihat Bu RT dari sebelah rumah berjalan tergesa-gesa menghampirinya sambil menyeret sebuah kardus bekas yang tampak lu-suh dan berdebu.
"Bu RT ..." lirik Arina lemas. "Ini ... rumah saya kenapa bisa disii-ta ba-nk? Mas Reno ke mana, Bu?"
Dengan tatapan penuh rasa iba yang justru menya-yat harga diri Arina sebagai seorang perwira, wanita paruh baya itu memegang lengan Arina pelan. "Aduh, Dok ... Ibu ndak tega mau ceritanya."
"Tolong katakan yang sebenarnya, Bu! Apa yang terjadi selama saya bertugas di Papua?" desak Arina dengan mata memerah, menahan sesak yang memba-kar ddanya.
"Dua minggu lalu ... Mas Reno datang ke sini, Dok. Tapi dia ndak sendiri," bisik Bu RT seraya menengok ke sekeliling dengan raut cemas.
Jan-tung Arina serasa berhenti berdetak. "Dia sama siapa, Bu?"
"Dia datang bersama seorang wanita, Dok. Pakaiannya agak terbuka begitu," terang Bu RT pelan. "Mereka bawa mobil boks, mengemas seluruh pakaian serta barang-barang yang ada di rumah itu, lalu pergi begitu saja. Rumah ini ditinggalkan kosong begitu saja sampai pihak ba-nk datang menempel stiker itu tiga hari lalu."
Arina mematung. Kata-kata Bu RT menyengat setiap saraf di tv-buhnya hingga membeku.
"Lalu kardus ini ..." Arina menunjuk kardus lusuh di tanah dengan telunjuk yang bergetar.
"Ini barang-barang milik Dokter. Mas Reno menyuruh satpam membu-wangnya ke tempat sam-pah, tapi saya kasihan, jadi saya simpan di garasi saya," tambah Bu RT dengan nada prihatin.
Arina menatap nanar seragam dinas lapangan (PDL) lorengnya yang menyembul dari ro-bekan kardus itu. Seragam kebanggaan yang ia pakai untuk mempertaruhkan nya-wa demi negara, kini tersimpan di dalam wadah sam-pah akibat ulah suaminya sendiri. Arina menyadari bahwa ia telah didepak dari hidupnya sendiri secara terhi-na oleh Reno.
"Terima kasih banyak, Bu RT ... terima kasih sudah menyelamatkan barang saya," bisik Arina, suaranya terdengar sangat kosong.
"Sabar ya, Dok. Dokter wanita kuat. Mas Reno itu yang ndak tahu diri," hibur Bu RT seraya menge-lus bahu Arina. "Malam ini Dokter mau menginap di mana? Apa mau ti-dur di ru-mah saya?"
"Terima kasih, Bu. Saya bisa cari penginapan, Bu," jawab Arina singkat, berusaha mempertahankan sisa-sisa martabatnya.
Setelah Bu RT pamit kembali ke rumahnya, Arina berdiri sendirian di pinggir jalan yang sepi. Malam kian larut dan angin dingin menyapu wajahnya yang basah oleh air mata. Mencoba mempertahankan sisa-sisa logikanya, Arina merogoh kantong celana lorengnya dan membuka ponsel. Jemarinya hendak berniat mengisi sal-do akun taksi online karena ia saat ini tak memegang u-wang tunai sepeser pun.
Namun, begitu ia membuka aplikasi 'mobile ban-king' miliknya untuk mentransfer dana, jemarinya membeku seketika.
Digit angka yang muncul di layar tampak begitu mustahil: Rp 0,-.
"Nol?" Arina mengusap matanya, mengira penglihatannya kabur oleh air mata. Namun angka itu tidak berubah. "Bagaimana bisa bernilai nol?!"
Arina menekan rincian mutasi rekening dengan napas tersengal-sengal. Ta-bungan pribadi hasil jerih payahnya bertahun-tahun, u-wang tunjangan penugasan khusus dari TNI yang baru cair bulan lalu, hingga seluruh dana darurat yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, semuanya telah dikuras habis tanpa sisa.
Terdapat riwayat penarikan dan transfer besar-besaran secara bertahap menuju rekening atas nama Reno. "Ternyata dia memanfaatkan fitur akses akun bersama yang dulu aku tanda tangani atas dasar cinta dan kepercayaan penuh."
Tepat saat Arina hendak menelepon suami bereng-seknya untuk meminta penjelasan, nama Reno sudah tertera lebih dulu.
Arina pun mengangkatnya. "Reno, kamu kemanakan u-wangku?" teriak Arina sambil mengepalkan tangannya.
Reno tertawa. "Halo Sa-yang, tidak perlu marah-marah. U-wangmu sudah aku amankan. Oh ya, Sa-yang. Jangan repot-repot pulang. Karena rumah itu sudah bukan rumahmu lagi. Selamat menggem-bel di jalanan!"

No comments:
Post a Comment