Dengan suara yang tegas dan tanpa keraguan, aku menolak ide Mama untuk mengakui bayi itu sebagai anakku. Bukan karena aku jijik, atau anti terhadap anak di luar nikah, tetapi aku juga memiliki masa depan yang harus kuraih bersama orang yang kucintai. Jika dia menerima kehadiran anak Rani, syukur. Namun, jika sebaliknya?
“Maaf, Ran… aku gak bisa adopsi anak kamu. Apapun alasannya, kamu tetap ibunya. Kaulah yang paling berhak bertanggung jawab atas kesalahan ini.”
Kalimat itu kuucapkan setelah mengecup kening bayi yang kuperkirakan baru berumur seminggu—tepat saat Mama memaksaku pulang secepatnya.
“Mbak tega banget, sih, sama aku? Kalau sampai orang tahu aku punya anak haram, gimana nasib masa depanku, Mbak? Aku masih harus kuliah, aku juga mau kerja! Kalau ada bayi ini, aku bisa mati berdiri ngurusin kencing sama berak tiap hari!”
“Kenapa kamu tidak berpikir seperti itu sebelum melakukannya, Rani? Kamu ini sudah dewasa, sudah besar. Seharusnya bisa berpikir lebih logis!”
Mataku tak bisa lepas dari sosok mungil yang terlelap itu. Ia diletakkan di atas perlak warna-warni, langsung di atas lantai keramik, hanya dibalut kain tipis. Ia tertidur, tapi pasti sangat kedinginan.
Sejak tadi aku ingin memindahkannya ke kasur Rani, tapi adikku menolak, dengan desisan jijik, “Jijik… jijik…”
“Ya aku mana tahu bakalan kayak gini! Keparat itu yang sudah bujuk-bujuk aku buat buka baju!” ujar Rani antusias, seolah dia korban tunggal. Matanya memancarkan kilat kemarahan.
“Siapa namanya?”
“Gak perlu tahu, deh! Yang penting bayi sialan ini kau rawat saja, Mbak!” ucapnya sambil menunjuk si bayi, tanpa mau menatapnya sama sekali. Ya Allah ya Rabbi, se-jijik itukah adikku pada anaknya sendiri? Darah dagingnya sendiri? Kasihan sekali kamu, Nak…
Mataku berkaca-kaca melihat manusia tak berdosa ini harus memikul beban seberat ini. Aku yakin seujung kukupun dia tidak punya kesalahan pada ibunya. Salahnya apa? Salahkah dia menyanggupi janji dengan malaikat saat di kandungan demi bertemu dengan ibunya?
Bukan sambutan penuh cinta yang bayi itu dapat, melainkan siksaan. Samar-samar, kulihat ada bekas kuku di kulit mungilnya. Apa Rani sudah mencakarnya?
“Siapa namanya? Biar aku datangi dia untuk bertanggung jawab!” Tekanku, dadaku memanas. Aku ingin sekali menggendong bayi Rani, tapi ibunya kini telah berdiri tepat di hadapanku, menghadang dengan tatapan mematikan.
“Ayo, katakan. Siapa dia?” Ulangku, tanpa gentar.
Lelaki itu sudah membuat masa depan Rani suram. Jalan satu-satunya adalah meminta pertanggungjawabannya. Aku kesal! Aku membiayai sekolah Rani agar dia mandiri, bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa rasa malu. Tapi sekarang?
“Jangan! Gak perlu!” jawab Rani membentak.
“Siapa, Ran?”
“Dibilang gak perlu, ya gak perlu! Kau budek, ya, Mbak?”
Dia malah ngegas? Dia bahkan berani-beraninya mendorongku keluar kamar. Lalu, dia menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras, sampai-sampai bayinya terbangun dan menangis kencang.
“Berisik! Bisa diam gak?!” Teriak Rani dari dalam, membuatku panik setengah mati.
“Ran… Ran! Buka pintunya!” pintaku, namun tak digubris.
Oekkk…
Oekkk…
Oekkk…
Ya ampun, tangis bayi itu berhasil menyayat hatiku. Pasti di dalam sana ia ketakutan, berhadapan dengan orang yang ia sangka adalah malaikat dari Tuhan, tapi justru berkelakuan mirip setan.
“Hei… nangis sekali lagi! Kubunuh kamu, bgs*t!” pekik Rani biadab.
Astaghfirullah.
“Rani, bukain pintunya! Istigfar, Ran! Dia anak kamu! Darah dagingmu!” ingatku sambil tak henti-hentinya mengetuk pintu.
Brughhh…
Sangat terasa suatu benda dilemparkan Rani ke arah pintu. Aku kaget, dan tanpa sadar berjingkat, terhuyung ke belakang.
“Pergi kamu! Dasar gak guna!”
Oeeekkk…
Oekkk…
Oekkk…
Tangisan bayi itu semakin kencang. Seolah dia meminta tolong padaku. Dan entah mengapa… momen ini seperti mengingatkanku pada diriku sendiri. Siapakah aku sebenarnya? Siapalah diriku ini? Tangisan bayi itu seolah menanyakan kembali keberadaanku di rumah ini.
Aku adalah Nisa, si anak panti yatim piatu yang diangkat oleh sepasang suami istri yang lama menikah tanpa keturunan. Katanya, mengadopsiku sekadar untuk ‘pancingan’ agar sang istri cepat hamil.
Benar saja. Setelah Mama hamil dan melahirkan Rani, kasih sayangnya padaku berkurang drastis. Tak jarang ia marah-marah pada Nisa kecil walau karena kesalahan sepele. Hanya gara-gara lupa mencuci piring, Mama murka, mengunciku dalam gudang setengah hari tanpa makanan dan minuman.
Beruntung, Ayah sangat menyayangiku, dan aku juga sangat menyayanginya. Dialah satu-satunya orang yang selalu membela dan melindungiku dari amukan Mama setelah nenek tiada. Sayang, Ayah sudah pergi, meninggalkan wasiat untuk menjaga Mama dan Rani padaku.
Oeekk…
Oekkk…
Oekkk…
Tangisan bayi itu kembali menyadarkanku dari lamunan sesat. Oh Tuhan… aku harus apa?
Tok…
Tok…
Tok…
“Rani… buka! Ran!”
Sia-sia. Aku lari mencari Mama. Rupanya dia ada di dapur, santai mengaduk kopinya yang mengepulkan asap.
“Ma! Anak Rani nangis!”
“Terus? Apa urusannya denganku?” Mama meniup-niup kecil kopi dalam gelasnya.
“Ya tenangin, lah, Ma! Kasihan bayinya!” jawabku.
Entah di mana hati nurani Mama sekarang. Dia bisa bersantai seolah tak terjadi apa-apa, padahal tangisan bayi Rani begitu nyaring, dan sang ibu berteriak kesetanan. Aku sungguh takut terjadi sesuatu pada bayi itu.
“Kalau mau tenangin, ya kau tenangin aja dia! Sampai dia matipun, aku gak peduli sama bayi itu!"
Mulutku ternganga, mendengar ucapan yang terlontar dari wanita yang telah bergelar seorang ibu dan nenek. Jika banyak nenek di luaran sana berharap cucunya sehat wal afiat, Mama justru ingin cucunya mati. Tak terasa air mataku meleleh begitu deras. Membayangkan betapa sakitnya bayi malang tak berdosa ini harus mendapatkan kekejaman dari keluarganya sendiri.
Apa begini nasib anak yang tak diinginkan? Ingin hidup penuh kasih sayang, lantas yang diterimanya justru kehinaan.
“Dia cucumu, Ma…”
Sretttt…
Mama mendorong kursinya begitu keras sampai terjungkal bebas ke atas keramik. Mata Mama menatap tajam ke arahku. Aku sontak ingat arti tatapan itu: sebuah tatapan yang mewakili kemarahannya yang siap meledak padaku.
“Baiklah, akan aku tenangin sendiri dia, Ma!” jawabku, pasrah.
“Baguslah kau sadar dengan kesalahanmu. Makanya, bawa tuh bayi jauh-jauh dari sini, biar kami semua gak pada stres!”
Sambil berjalan menuju kamar Rani, kuseka air mata yang membanjiri pipi. Tidak menyangka bahwa selama ini aku hidup di antara manusia yang tak punya hati dan empati.
“Ran… buka! Aku mau ngomong sama kamu!”
Tidak ada jawaban. Bahkan, suara tangis bayi pun tidak terdengar. Jangan-jangan Rani benar-benar… membunuh bayinya?
“Rani! Kau dengar aku tidak?!”
Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi! Maka, kukerahkan seluruh tenaga, menabrakkan tubuhku sekuat tenaga demi membuka pintu kamar Rani.
Saat pintu terbuka paksa, tubuhku jatuh lemas. Bukan karena badanku kesakitan, melainkan karena…
“Ya Tuhan, Rani….” Teriakku histeris. Air mataku kembali tumpah, tak bisa lagi dikendalikan.

No comments:
Post a Comment