Terlambat Menyadari Cinta
Sesakit inikah mencintai seorang diri. Bahkan saat aku terp uruk tak ada bahu untuk bersandar. Tak ada pelu kan hangat yang menenangkan. Melihat sikap Mas Rey membuat tekadku untuk mengubur rasa cinta ini semakin kuat.
Ban mobil taksi mencit di depan lobi I G D R S U D. Bahkan sebelum mesin mati sempurna, aku sudah memaksakan tub uh beratku untuk keluar.
Gathan sudah berdiri di sana, wajahnya ku sut, sem bap dengan mata merah yang menyiratkan keputusasaan.
Begitu melihatku, pertahanannya run tuh. Adikku itu berlari dan memelukku erat, menyembunyikan tangisnya di bahuku.
"Ayah, Kak... Ayah..." lirihnya dengan suara parau yang menya yat hati.
Aku mengusap punggungnya yang bergetar hebat, meski tanganku sendiri dingin membeku. "Ayah pasti pulih, Dek. Ayah kuat, dia tidak akan meninggalkan kita secepat ini," bisikku, lebih kepada menenangkan diriku sendiri daripada menjawab Gathan.
Kami melangkah terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit yang berbau karbol tajam. Aku sama sekali tidak menoleh ke belakang, menganggap Mas Rey yang mengekor di belakang hanya sebagai bayangan tak kasat mata.
Sejak di taksi tadi, dia terlihat sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali dia menyugar rambut dengan ka sar, tampak frustrasi. Mungkin wanitanya sedang merajuk. Silakan, Mas. Urus duniamu, aku tak peduli.
Tiba di depan ruang I C U, Gibran bangkit dari kursi tunggu dengan wajah yang tak kalah han curnya. Setelah mengenakan baju steril dengan tubuh gemetar, aku diizinkan masuk sendiri.
Suara monitor jant ung yang berbunyi teratur bip... bip... menjadi musik paling horor yang pernah kudengar. Di atas ranj ang, Ayah terbaring lemah dengan berbagai selang yang menusuk tubuh rentanya.
Aku meraih tangannya yang dingin, tangan yang dulu kasar karena bekerja keras demi menyekolahkanku.
"Bangun, Yah... Nayla datang," bisikku tepat di telinganya. Air mataku luruh, jatuh membasahi sprei putih rumah sakit.
"Bangun, Yah. Nayla masih butuh Ayah untuk jadi penopang. Cucu Ayah... dia juga ingin melihat kakeknya."
Tiba-tiba, garis di monitor itu bergerak liar. Napas Ayah tersengal-sengal, da danya naik turun dengan tidak beraturan seolah sedang memperebutkan sisa oksigen di dunia ini. Panik menjalar ke sekujur tubuhku.
"Dokter! Suster! Tolong Ayah saya!" teri akku histeris.
Tim medis berhamburan masuk. Aku dido rong keluar dari ruangan. Di balik kaca kecil pintu I C U, aku, Gibran, dan Gathan saling menggenggam tangan dengan erat, sebuah rantai persaudaraan yang mencoba menahan badai.
Di ujung lorong, aku melihat Mas Rey berdiri mematung. Dia menatap kami, tapi jaraknya terasa ribuan mil jauhnya. Dia asing. Dia bukan bagian dari du ka ini.
Setelah drama resusitasi yang menegangkan, pintu terbuka perlahan. Dokter keluar dengan wajah layu, melepaskan stetoskopnya perlahan, lalu menggelengkan kepala tanpa suara.
Isyarat itu... isyarat yang paling ku tak uti di dunia ini.
Duniaku gelap seketika. Lututku lemas. Andai tidak ditopang oleh Gibran dan Gathan, mungkin tubuhku dan janin di dalamnya sudah melorot ke lantai.
"Ayah sudah tidak ada lagi, Kak..." jerit Gibran pecah merobek kesunyian lorong.
Aku tidak bisa bersuara. Dad aku sesak luar biasa, seolah-olah oksigen di paru-paruku ikut pergi bersama napas terakhir Ayah.
*
*
*
Rumah duka terasa begitu dingin meski dipadati pelayat. Aroma bunga kamboja dan lantunan ayat suci bersahut-sahutan, menciptakan suasana yang kian menyesakkan dada.
Di tengah ruangan, Ayah terbujur kaku di bawah kain jarik, tampak tenang seolah hanya sedang tertidur lelap setelah lelah bekerja seum ur hi dupnya.
Aku duduk bersimpuh di sisi kanan jenazah, diapit oleh Gibran dan Gathan yang bahunya masih terguncang hebat. Tanganku tak lepas mengusap kain penutup itu, membayangkan di baliknya Ayah sedang tersenyum padaku.
Tiba-tiba pe rutku berkedut kencang. Kram itu datang lagi, seolah janin di ra himku ikut merasakan d uka yang amat dalam. Aku meringis pelan sambil menekan perut bawahku, mencoba mengatur napas agar bayi ini tetap tenang di tengah ba dai air mata.
"Sabar, Kak... sabar," bisik Gibran sambil merangkul pinggangku. Rupanya adikku itu menyadari perubahan raut wajahku.
Tak lama kemudian, rombongan keluarga Mas Rey tiba. Mama Felia langsung berlari kecil ke arahku, ma tanya sembap. Di belakangnya ada Kak Zoya dan suaminya, Kak Dimas, yang langsung memeluk Gathan dan Gibran.
Mama Felia memelukku sangat erat, membiarkan bajunya basah oleh air mataku yang kembali tumpah.
"Kini aku ya tim pi atu, Ma... Aku tidak memiliki orang tua lagi di dunia ini," lirihku, suaraku nyaris hilang tertelan isak. Rasanya duniaku kosong seketika. Tak ada lagi tempat mengadu yang seteduh pelukan Ayah.
Mama Felia melepaskan pelukannya, memegang kedua pipiku. Ia menatapku dengan tatapan seorang ibu yang han cur melihat anaknya menderita.
"Jangan pernah berkata seperti itu, Nayla. Dengarkan Mama," tegasnya. "Masih ada Mama di sini. Jangan pernah anggap Mama ini mertuamu. Detik ini juga, kamu adalah putri kandung Mama. Adik-adikmu, Gibran dan Gathan, mereka juga anak-anak Mama. Kita satu keluarga, Nak."
Kak Zoya juga mengulurkan tangannya memeluk bahu ku, mengusap air matanya. "Benar kata Mama, Nay. Kami tidak akan membiarkan kalian sendirian. Kita keluarga."
Mendengar itu, tangisku pe cah lagi. Sebuah kehangatan yang tak terduga menyelinap di tengah dinginnya kenyataan bahwa Ayah telah tiada.
Waktu seolah berlari begitu cepat hingga tiba saatnya keranda harus diangkat. Aku melangkah gontai mengikuti iring-iringan menuju tempat pemakaman umum.
Langit tampak mendung, seolah ikut berkabung mengantar kepulangan seorang pria sederhana yang berhati emas.
Saat jenazah diturunkan perlahan ke dalam liang lahat, jantungku rasanya ikut terkubur di sana. Gibran dan Gathan turun ke bawah untuk menerima jasad Ayah untuk terakhir kalinya. Aku berdiri di pinggir liang, memegang per utku yang terus-menerus menegang.
"Selamat jalan, Yah..." bisikku saat gumpalan tanah pertama mulai menutupi kain kafan yang putih bersih itu.
Setiap cangkulan tanah yang jatuh ke dalam liang terdengar seperti palu yang menghantam dadaku. Satu per satu, kenangan masa kecil melintas—saat Ayah menggendongku, saat beliau tertawa melihatku memakai seragam sekolah pertama kali, hingga saat beliau menangis haru di hari pernikahanku.
Ketika gundukan tanah sudah rapi dan nisan kayu tertancap di atasnya, aku terduduk lesu di samping pusara. Kuusap nisan yang masih basah itu dengan jemariku.
"Istirahat yang tenang ya, Yah. Nayla janji akan menjaga Gibran dan Gathan. Nayla juga akan menjaga cucu Ayah dengan baik," lirihku di antara isak yang menyesakkan tenggorokan.
Aku sadar meski penopang hidupku telah pergi, aku harus tetap berdiri tegak. Untuk adik-adikku, dan untuk nyawa yang kini sedang menendang lemah di dalam perutku, seolah memberitahuku bahwa ia akan selalu menemaniku.
Tujuh hari telah berlalu sejak tanah merah itu menutup jasad Ayah. Aku kembali ke Banjarbaru dengan lubang besar di hati, membawa serta tanggung jawab yang kini sepenuhnya ada di pundakku.
Gibran dan Gathan tetap di desa untuk menyelesaikan ujian kelulusan mereka di bawah pengawasan adik Ayah. Aku harus kuat, demi mereka, dan demi nyawa yang sebentar lagi akan melihat dunia.
Sunyinya rumah ini seolah menjadi saksi betapa rapuhnya aku.
Pukul satu dini hari. Keheningan malam pecah oleh rasa panas yang tiba-tiba mencengkeram pinggangku hingga ke perut bawah.
Aku tersentak bangun, peluh dingin langsung membasahi kening. Aku menc engkram seprai sekuat tenaga, membiarkan jem ariku memutih demi mengalihkan rasa sakit yang datang bergelombang.
Ini bukan kram biasa. Ini adalah gelombang cinta yang dikirim oleh ba yiku.
"Sabar, Nak... sebentar lagi kita bertemu," bisikku parau, mengatur napas yang mulai tersengal.
Tanpa bantuan siapa pun, aku meny eret langkah. Setiap jengkal lantai menuju lemari terasa seperti perjalanan ribuan mil.
Aku menyambar tas perlengkapan bayi yang sudah kusiapkan di sudut kamar dan kunci mobil.
Aku menyetir sendiri menembus ge lapnya jalanan. Sesekali, aku terpaksa menepi di bahu jalan yang sepi. Saat kontraksi itu memuncak, kepalaku terkulai di atas kemudi. Air mataku luruh, membasahi setir mobil pemberian mertuaku ini.
Bukan rasa sakit ini yang membuatku menangis, melainkan kenyataan pa hit yang menghujam telak. Aku sedang berjuang antara hidup dan mati, sementara pria yang seharusnya menjadi pelindungku bahkan tidak tahu istrinya sedang bert aruh nyawa.

No comments:
Post a Comment