"Nggak masalah. Katakan saja apa yang mau kamu katakan. Lepas darimu itu saja sudah bagian dari rasa syukurku. Terima kasih sudah kabur, Pratama. Aku jadi nggak harus capek-capek mengurus surat perpisahan denganmu dan juga harus menutup malu seumur hidupku karena punya mantan suami sepertimu!"
Begitu ucapannya selesai, Aruna buru-buru menarik lengan Baskara agar segera pergi dari hadapan Pratama. Dia takut pria itu murka dan malah membuat kekacauan. Lebih baik mundur dan dianggap takut, dari pada ada kekacauan untuk kedua kalinya.
Ditempatnya, emosi Pratama sukses dibakar habis oleh ucapan Aruna barusan. Batinnya secepatnya berjanji, akan membalas sakit hati ini. Lihat saja. Pratama tak akan tinggal diam!
Sebelum Aruna menangis darah, dia tak akan berhenti mengusik hidup perempuan kurang ajar itu sampai kapan pun!
"Kamu nggak apa-apa," tanya Baskara setibanya mereka diruangan staf.
Aruna membuang napas besar-besar, sebenarnya getir. Beruntung tak terjadi apa-apa. Kalau saja tadi Pratama murka, apa yang sudah terjadi sekarang?
Mungkin dia sudah jadi gelandangan saat ini.
"Nggak apa-apa kok," jawabnya mencoba memamerkan ketenangan. "Kamu kalau ketemu dia, anggap aja angin lalu. Atau kalau dia marah-marah, diamkan saja. Orang itu bisa aja lakuin hal-hal buruk ke kamu. Kita tau sendiri, gimana tabiat orang-orang kaya itu kalau sudah marah. Kadang bisa melebih iblis sifatnya."
Baskara lagi-lagi diam, tersanjung untuk kesekian kalinya. Aruna bahkan memikirkan tentang dirinya? Padahal saat ini yang butuh perlindungan ekstra itu adalah Aruna sendiri. Baskara amat sangat mudah menjaga dirinya. Bahkan lebih mudah malah. Tapi Aruna? Siapa yang akan memastikan perempuan malang ini tetap aman?
"Terima kasih sudah peduli pada saya. Saya janji, saya akan lindungi kamu dari apa pun. Percayakan saja pada saya. Saya sudah bilang, kan, saya juara satu taekwondo," balasnya serius.


No comments:
Post a Comment