Addense

Monday, 20 July 2026

Mobil istriku

 (


M-Mas..." rintih Siska dengan suara bergetar pelan. Jemarinya yang dihiasi kuku akrilik mencen-gk3ram erat ujung kemeja batik Bagas. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipisnya, meru-sak riasan mahalnya.


Bagas menoleh, mengira istrinya itu sedang sy-ok atau ketakutan karena kedatangan polisi berseragam dan orang-orang berbad-an tegap yang terlihat menga-nc4m. Sebagai laki-laki yang merasa egonya sedang disaksikan seluruh desa, Bagas langsung memasang bad-an, mer4-ngkul bahu istrinya dengan gaya protektif.


"Tenang, Sayang. Ada aku. Orang-orang mis-kin ini nggak akan berani macam-macam sama kita," bisik Bagas menenangkan, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya sedang berada di ambang ser4-ngan jantung.


Bagas kembali menatap garang ke arah ketua tim penyita bersafari hitam itu.


"Heh! Kalian salah dengar atau gimana?! Eksekusi as-et apa?! Rumah ini, tanah ini, bersih dari uta-ng! Kalian pasti salah alamat! Mending kalian pergi sebelum saya telepon kenalan perwira polisi saya di kota!"


Ketua tim dari VIP Finance itu tersenyum tipis. Senyum profesional yang sangat dingin.


Tanpa banyak bicara, ia membuka map merah di tangannya, mengeluarkan selembar kertas yang dipenuhi stempel resmi, lalu menunjukkannya tepat ke depan wajah Bagas.


"Kami tidak salah alamat, Pak. Kami dari VIP Finance Pusat, datang membawa Surat Perintah t4r-ik p4k-sa untuk satu unit mobil SUV putih dengan pelat nomor B 1 BOS atas nama Siska Amanda," ucap pria itu lant-ang dan tegas.


Suasana tenda yang tadinya dipenuhi bisik-bisik seketika hening. Hening yang sangat mem-ekakkan telinga. Mata warga desa serempak tertuju pada mobil mengkilap berpita merah yang terparkir anggun di samping panggung.


Bagas terdiam selama beberapa detik. Otaknya memproses kata-kata itu, sebelum akhirnya ia meledak dalam tawa yang dipa-ks4kan. Tawa sumbang yang menggema di bawah tenda.


"T4r-ik p4k-sa? Hahaha! Kalian pasti g¡-la! Kalian mau meni-pv saya, ya?!" ben-tak Bagas dengan urat leh-er menonjol, jarinya menunjuk tepat ke wajah petugas.


"Dengar ya, Pak! Istri saya ini pengusaha kaya raya! Mobil Eropa itu dibe-li TUNAI! MILI-4RAN RUPIAH! Kalian mau memer4s kami dengan dokumen pal-sv itu kan?!"


Ibu Laksmi yang sejak tadi berdiri di belakang Bagas ikut tersulut em0-sinya. Ia berkacak pinggang, menatap sinis para petugas.


"Betul kata an-ak saya! Kalian ini pasti sindikat pen-ipv kan?! Lihat tuh menantu saya, tasnya aja ratvsan jv-ta! Masa be-li mobil nyic¡l! Sembarangan kalau f¡t-nah orang!"


Mendengar pembelaan memba-bi buta dari suami dan ibu mertuanya, otak lic-¡k Siska berputar cepat. Ia tahu ia tidak bisa mundur sekarang. Jika ia mengaku, Bagas akan membua-ngnya, dan warga desa akan menertawakannya seumur hidup. Ia harus bermain sebagai kor-ban.


Air mata buaya Siska seketika tumpah. Ia menjatuhkan dirinya ke pelv-kan Bagas, menangis tersedu-sedu dengan suara yang dibuat sangat memelas.


"Mas... hiks... ini pasti ulah saingan bisnisku di Jakarta, Mas!" ratap Siska, wajahnya disembunyikan di d4-da Bagas. "Mereka iri lihat proyekku sukses besar! Pasti mereka sengaja memal-svkan dataku ke perusahaan le4s-ing ini buat menjeb4k dan menghan-cvrkan nama baikku di depan keluargamu! Aku difi-tn4h, Mas... hiks... aku nggak pernah ngut4-ng..."


Mendengar tangisan istrinya, d4r-ah Bagas sema-kin mendidih. Ia merasa istrinya yang rapuh dan kaya raya sedang didzalimi oleh komplotan penj-ah4t.


"Tuh! Kalian dengar sendiri kan?!" am-uk Bagas. Matanya melotot taj-am ke arah petugas polisi yang mendampingi tim d3bt collect0r.


"Pak Polisi! Harusnya Bapak tangkap orang-orang dari VIP Finance ini! Mereka memal-svkan dokumen untuk memer4s istri saya! Ini pencemaran nama baik! Saya tidak akan biarkan seujung jari pun menye-ntvh mobil istri saya!"


Di meja sudut, Shafana menyesap air putihnya dengan anggun. Ia menyilangkan kaki, menikma-ti setiap detik pertunjukan playing vict¡m Siska yang sangat mvra-han itu.


Sementara itu, petugas polisi yang mendampingi tim VIP Finance hanya menghela napas panjang. Ia maju satu langkah, menatap Bagas dengan sorot mata penuh kasihan namun tegas.


"Kami sudah menyelidiki indikasi pemal-svan dokumen tersebut, Pak," ucap petugas polisi itu dengan suara berat. "Dan memang benar ada data yang dipal-svkan dalam pengajuan kre-dit mobil tersebut."


"Nah! Berarti istri saya benar kan?! Dia dijebak!" sela Bagas penuh kemenangan.


"Bukan dijebak, Pak," pot-ong polisi itu taj-am. "Justru Ibu Siska yang memal-sukan slip ga-ji dan mvtasi rekening untuk mengelabvi pihak VIP Fin4nce agar kre-ditnya disetujui."


"Bohong!" teriak Bagas kalap. "Istri saya orang kaya! Nggak mungkin dia mengemis minta kre-dit!"


Ketua tim penyita dari VIP Finance itu menggeleng pelan. Ia sudah mvak dengan drama mvra-han ini.


Ia merogoh saku kemeja safarinya, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menekan beberapa tombol.


"Mungkin ingatan Ibu Siska sedang terganggu karena sy-ok. Mari kita segarkan kembali ingatan Ibu dengan percakapan telepon minggu lalu bersama tim penagih kami," ucap ketua tim itu dengan suara dingin.


Ia menekan tombol putar dan menyalakan mode loudspeaker, lalu mendekatkan ponsel itu ke mikrofon hajatan yang tergeletak di lantai panggung.


Seketika, suara rengekan seorang wan-ita yang sangat familier menggelegar ke seluruh penjuru tenda, memantul dari pelant-ang suara raksasa.


"Halo, Bang... Tolonglah, Bang... hiks... Kasih aku waktu perpanjangan satu bulan lagi, ya? Aku bener-bener belum ada u4-ng buat bay-ar cicilan bulan keempat. Kartu kre-ditku udah limit semua. Tolong jangan dita-rik dulu mobilnya, Bang. Aku mohon... nanti aku pinjam pi-nj0l lagi buat nutupin t4gi-hannya..."


Tenda itu seketika hening. Tidak ada suara musik, tidak ada suara sendok beradu. Bahkan napas pun seolah tertahan. Suara melas, panik, dan penuh keputusasaan di rekaman itu... seratus persen adalah suara Siska.


Mata Bagas terbelalak. tvbu-hnya kaku seperti disambar pet¡r di siang bolong. Perlahan, pelv-kannya pada Siska mengendur. Ia menunduk, menatap istrinya yang kini gemetar hebat dengan wajah sepucat kertas.


Ibu Laksmi mundur selangkah, nyaris tersandung kakinya sendiri. Mulutnya menganga lebar.


"kre-dit? Nunggak?"


"Katanya mili-arder, kok b4y-ar cicilan nggak mampu?"


"Ya ampun... jadi mobilnya hasil ngvta-ng? Pantesan kelakuannya sombong banget, ternyata orang kaya pal-sv!"


Kasak-kusuk warga desa mulai terdengar. Dari yang awalnya hanya bisikan pelan, perlahan berubah menjadi gumaman riuh yang sarat akan cemoohan dan tatapan merendahkan, berbalik menghan-tam Bagas dan keluarganya tanpa ampun.

Selanjutnya.....

No comments:

Post a Comment