Suasana di dalam mobil sport Raka terasa begitu pekat. Kiara hanya menatap keluar jendela, sementara Raka mencengkeram kemudi dengan erat, memacu kendaraan membelah jalanan kota menuju pusat perbelanjaan elit milik keluarga Broto. Begitu mobil berhenti di depan butik nomor satu di kota itu, Raka langsung turun dan membukakan pintu untuk Kiara.
"Turun," perintah Raka, nadanya masih sekaku tadi. "Ingat, jangan membuat gerakan tambahan yang tidak perlu di dalam. Ikuti saja apa kataku."
Kiara hanya mengangguk pelan. Langkah kakinya terasa berat mengikuti punggung tegap Raka yang berjalan angkuh memasuki butik. Kedatangan mereka langsung disambut oleh kepala desainer butik, seorang wanita paruh baya bernama Madam Elena, yang langsung membungkuk hormat.
"Selamat datang, Tuan Muda Raka. Sebuah kehormatan besar," sapa Madam Elena dengan senyum profesionalnya yang merekah. Tatapannya beralih ke arah Kiara yang berdiri sedikit di belakang Raka. "Dan... ini pasti Nyonya Muda Kiara? Sungguh cantik dan anggun sekali."
Raka berdeham pendek, melipat kedua tangannya di dada. "Elena, siapkan gaun terbaik untuk istriku. Gaun itu akan dikenakan di Malam Gala Broto Group akhir pekan ini."
"Ah, Malam Gala yang sangat dinantikan itu!" Elena tampak bersemangat. "Apakah ada konsep atau warna tertentu yang Tuan Raka inginkan?"
"Warna putih atau emas," jawab Raka cepat. Namun, tiba-tiba bayangan wajah Devan yang tersenyum di meja makan tadi pagi melintas di kepalanya. Kata-kata Devan tentang gaun yang ringan dan nyaman membuat rahang Raka kembali mengeras. "Tunggu. Pilihkan bahan yang paling ringan dan lembut. Jangan berikan dia gaun dengan payet yang terlalu berat."
Madam Elena sedikit terkejut mendengar perhatian mendetail dari pria yang terkenal dingin itu. "Baik, Tuan Raka. Kami memiliki beberapa koleksi sutra premium terbaru yang sangat nyaman namun tetap terlihat megah. Mari, Nyonya Kiara, ikut saya ke ruang pas."
Kiara sempat menoleh ke arah Raka dengan pandangan ragu. Raka yang melihat itu hanya mengibaskan tangannya ketus.
"Pergilah. Jangan membuang waktuku," ujar Raka, lalu mendudukkan dirinya di sofa beludru mewah sambil meraih tablet kerjanya.
Hampir tiga puluh menit berlalu. Raka yang mulai tidak sabar berulang kali memeriksa jam tangannya. "Elena! Kenapa lama sekali? Apakah mengganti gaun membutuhkan waktu seharian?" serunya dengan nada tidak sabar.
"Maaf, Tuan Raka. Kami sedang melakukan penyesuaian akhir agar pas di tubuh Nyonya," suara Elena terdengar dari balik tirai besar. "Tirai akan segera dibuka."
Sret.
Tirai beludru merah maroon itu tersingkap perlahan. Raka yang awalnya hendak melayangkan protes, seketika membeku. Kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja.
Kiara berdiri di atas podium kecil dengan gaun sutra berwarna putih gading yang jatuh dengan sangat indah di tubuh rampingnya. Bagian bahunya terbuka sedikit, memperlihatkan tulang leher jenjangnya yang putih bersih. Riasan tipis yang diaplikasikan oleh asisten Elena membuat mata bulat Kiara terlihat semakin hidup dan bersinar, sementara rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan membingkai wajah pucatnya.
Gadis itu terlihat begitu murni, sangat kontras dengan dunia bisnis Raka yang penuh kepalsuan dan intrik.
Jantung Raka berdegup satu kali lebih kencang. Ia terpaku, menatap lurus ke arah Kiara tanpa berkedip. "Sial, kenapa dia bisa seindah ini?"batin Raka menolak kenyataan yang ada di depan matanya.
Kiara yang merasa ditatap dengan begitu intens menjadi salah tingkah. Jemarinya yang lentik bergerak canggung, membentuk isyarat tangan ke arah Raka: Apakah... apakah ini aneh? Jika tidak bagus, aku bisa menggantinya.
Elena yang tidak mengerti bahasa isyarat langsung menatap Raka. "Bagaimana, Tuan Raka? Menurut saya, Nyonya Kiara terlihat seperti dewi. Gaun ini sangat ringan dan tidak akan membuatnya kelelahan selama pesta."
Raka berdeham keras, mencoba menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat mengendur. Ia berdiri dari sofa dan melangkah mendekati podium, membuat Kiara refleks memundurkan langkahnya karena gugup.
"Biasa saja," dusta Raka dengan nada ketus, meskipun matanya tidak bisa berbohong bahwa ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari leher Kiara. "Tapi ini cukup untuk tidak mempermalukanku di depan para investor."
Raka kemudian berbalik menatap Elena. "Bungkus yang ini. Tambahkan juga mantel bulu putih untuk menutup bahunya jika udara malam nanti terlalu dingin."
"Baik, Tuan Raka. Pilihan yang sangat perhatian," puji Elena yang membuat telinga Raka sedikit memerah karena gengsi.
Saat mereka sedang menunggu gaun tersebut dikemas, tiba-tiba pintu butik terbuka dengan kasar. Suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang nyaring terdengar menggema, memecah ketenangan butik mewah tersebut.
"Raka! Jadi benar kamu di sini?!"
Raka dan Kiara serentak menoleh. Siska berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, wajah cantiknya dilapisi amarah yang meluap-luap. Ia menatap Kiara dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan penuh penghinaan, sebelum akhirnya beralih menatap Raka dengan mata berkaca-kaca yang dramatis.
"Siska? Sedang apa kamu di sini?" tanya Raka, alisnya bertaut rapat. Suaranya terdengar tidak suka.
"Harusnya aku yang bertanya, Raka! Apa-apaan ini?!" Siska menunjuk Kiara dengan jarinya yang gemetar. "Kamu mengabaikanku kemarin dan sekarang kamu malah membawanya ke sini untuk bersenang-senang? Kamu membelikan dia gaun untuk Malam Gala?!"
Raka melangkah maju, menghalangi pandangan Siska dari Kiara. "Jaga bicaramu, Siska. Ini tempat umum."
"Aku tidak peduli!" bentak Siska, suaranya naik satu oktav, membuat beberapa pelayan butik mulai berbisik-bisik. "Raka, kamu bilang kamu mencintaiku! Kamu bilang pernikahan dengan wanita bisu ini hanya formalitas demi warisan Kakek Broto! Tapi kenapa sekarang kamu memperlakukannya seperti ratu?! Kamu mau menggandengnya di depan seluruh media?!"
Kiara yang berada di belakang Raka hanya bisa meremas ujung blus ganti yang ia pegang. Walau tidak bisa mendengar lengkingan suara Siska, dari gerak bibir dan ekspresi wajah wanita itu, Kiara tahu bahwa dirinya sedang menjadi objek kemurkaan.
Raka mencengkeram pergelangan tangan Siska dengan sedikit kasar, mencoba meredam histeria wanita itu. "Siska, cukup! Ini adalah keputusan Kakek. Ini demi saham perusahaan! Jangan kekanak-kanakan!"
"Kekanak-kanakan kamu bilang?!" Siska menghempaskan tangan Raka dengan air mata yang mulai menetes. "Kamu berubah, Raka! Sejak wanita cacat ini masuk ke rumah itu, kamu tidak pernah lagi melihatku seperti dulu! Apa kamu sudah mulai menyukai tubuhnya yang cacat itu?!"
Mendengar kalimat Siska yang mengungkit kejadian sensitif semalam, kilat amarah yang sangat pekat langsung menyelimuti mata elang Raka. Aura pria itu mendadak menjadi sangat dingin dan berbahaya.
"Keluar, Siska," ucap Raka dengan nada suara yang sangat rendah, namun penuh dengan ancaman mutlak.
"Raka..."
"Aku bilang keluar sekarang juga!" bentak Raka, suaranya menggelegar di dalam butik hingga membuat Siska tersentak mundur karena ketakutan. "Jangan menguji kesabaranku. Pergi dari sini sebelum aku meminta keamanan menyeretmu keluar secara tidak hormat!"
Siska mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya naik turun menahan malu dan amarah karena dibentak di depan para pelayan butik. Ia memberikan tatapan luar biasa benci kepada Kiara yang masih berdiri diam di belakang Raka.
"Baiklah, kali ini aku mengalah" desis Siska tajam. "Lihat saja apa yang akan terjadi di pesta malam gala nanti!"batin Siska
Siska berbalik dan menghentakkan kakinya dengan kasar, keluar dari butik dengan perasaan dendam yang membara di dadanya.
Keheningan yang canggung kembali merayap setelah kepergian Siska. Raka menarik napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Konflik yang bertubi-tubi ini benar-benar menguras energinya.
Madam Elena datang dengan membawa kotak gaun yang sudah dikemas rapi dengan kertas pembungkus emas. "Tuan Raka, ini gaun untuk Nyonya Kiara. Semua sudah siap."
Raka mengambil kotak itu dengan satu tangan, lalu menoleh ke arah Kiara. Wajah gadis itu kembali terlihat muram dan penuh beban. Raka tahu, Kiara pasti merasa tertekan dengan semua drama ini.
Pria itu melangkah mendekati Kiara, lalu dengan gerakan yang tidak terduga, ia meraih jemari tangan Kiara dan menggenggamnya dengan erat sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya dengan kelembutan yang terselubung.
"Jangan pasang wajah menyedihkan itu," ucap Raka, matanya menatap lurus ke dalam mata Kiara, suaranya kini melunak walau nadanya tetap tegas. "Pesta akhir pekan ini adalah panggung kita. Ingat posisi dan tanggung jawabmu sebagai istriku. Selama kamu berada di sampingku, kamu harus mengikuti semua aturanku, jangan membuatku malu. Maka ganti nya aku akan melindungi mu dari Siska."
Kiara tertegun, menatap genggaman tangan Raka yang terasa begitu hangat dan protektif di jemarinya yang dingin. Di dalam hatinya, sebuah keyakinan baru dan rasa penasaran yang besar mulai tumbuh. Apakah monster ini... sudah berubah, atau ini bagian dari sandiwaranya.
Raka menarik tangan Kiara perlahan, menuntunnya keluar dari butik. "Ayo pulang. Kamu harus istirahat agar tidak tumbang sebelum pesta dimulai."
Sementara di luar butik, roda takdir untuk Malam Gala mulai bergerak. Di dalam mobilnya, Siska sedang mengetik pesan singkat kepada seseorang dengan senyuman yang sangat licik: "Rencana berjalan. Pastikan obat itu sudah siap sebelum pesta dimulai. Aku ingin wanita bisu itu kehilangan segalanya malam ini."

No comments:
Post a Comment